
ILUSTRASI
Beberapa hari belakangan kau terlihat begitu gelisah, tetapi memang itulah yang kaualami beberapa tahun belakangan ini ketika Ramadan datang. Ada kebahagiaan di wajahmu, namun juga ada kegelisahan bahkan kesedihan di matamu. Ramadan, terlebih tatkala Lebaran nyaris tiba, kesedihan di wajahmu jauh lebih pekat dari sebelumnya. Bibirmu hanya sesekali menyunggingkan senyum, selebihnya bagai bunga layu, dayamu seolah meredup. Masa-masa seperti itu memang hanya ada dua hal bagimu, rindu dan pulang. Keinginanmu yang begitu sulit kutunaikan.
SEBENTAR lagi Ramadan habis,” bisikmu perlahan saat berleha di sofa depan televisi.
”Ya, sebentar lagi Lebaran,” sahutku cepat.
Kau tak menjawab lagi, wajahmu memberengut, sedangkan kedua matamu melihatku dengan tatapan sedikit sengit. Seolah aku ini seorang musuh yang patut kaucurigai. Dalam beberapa hal kau memang menganggapku tak berperi kemanusiaan, bahkan seringkali kau memanggilku sebagai manusia tanpa empati. Sesungguhnya hal itu terjadi hanya lantaran aku sering kali mengabaikanmu saat waktuku tersita untuk bekerja, juga menyoal aku tak pernah mengajakmu pulang kampung meski kau sangat ingin kembali ke kampung halamanmu itu.
”Sekarang ada kereta, pesawat terbang, bahkan bus jauh lebih cepat dari tahun-tahun sebelumnya. Tapi aku tak pernah berhasil pulang kampung!”
Itu adalah kalimat keluhan lainnya yang kauutarakan. Aku tak perlu menjawabnya, sungguh dalam banyak hal sesungguhnya aku tak ingin berargumen denganmu, terlebih untuk hal-hal semacam itu. Aku selalu bertekad bahwa diriku harus berdamai denganmu, aku tak ingin kita bermusuhan, meski acap kali kau mengeluhkan kurang beruntung hidup berdua denganku saja, sedangkan anak-anak yang lain telah memiliki kehidupan di luar sana, tinggallah si bungsu yang sering kali tak terlalu berguna.
”Apa kau tidak menyayangiku?” tanyamu saat kita makan sahur berdua.
”Sayang sekali,” jawabku selepas meneguk susu hangat. Dari bibir cangkir, aku melirikmu, kau terlihat menyelidik lewat tatapanmu.
Kau ingin melontarkan sesuatu yang lain, tapi kemudian kau memilih diam dan meneruskan makan sahurmu dengan khidmat. Sampai menjelang berbuka puasa, kau tak melontarkan pertanyaan apakah aku menyayangimu atau tidak. Tentu kau percaya denganku, meski kau merasa aku cukup kejam di waktu-waktu tertentu, sesungguhnya di dunia ini hanya dirimu yang kusayangi.
***
Dirimu selalu dicekam rindu, aku memahami betul hal itu. Sungguh, andai aku bisa menunaikan rasa rindumu, tentu sudah kutunaikan sejak dulu. Aku memang tak bisa berkata banyak lewat lisan, aku tak bisa mengungkapkan betapa menderitanya aku saat melihat kedua matamu merebak lantaran tangis sebab kau rindu kampung halamanmu yang telah kautinggalkan berpuluh tahun lalu. Aku tahu betapa menderitanya engkau menanggung kenangan dan rasa ingin pulang.
Saat kau tak berhasil keluar rumah untuk pulang ke kampung halamanmu dulu, kau mulai bercerita tentang desa kecil di bawah kaki bukit, kau bercerita tentang orang-orang yang belum pernah kutemui, bahkan kau bercerita tentang makanan yang kaugemari dan tak bisa kutemukan di pasar tradisional sekalipun. Kau memiliki ingatan begitu kuat, teramat berbeda denganku yang memiliki ingatan tak seberapa bagus. Di dalam kepalamu tersimpan begitu banyak kenangan, tertata apik dalam berkas yang seakan kekal.
Aku telah mendengar ceritamu entah berapa kali, tapi sungguh aku tak pernah bosan. Hidupku hanya di kota besar, lahir dan tumbuh di tengah-tengah padang beton, gedung pencakar langit, juga polusi dan langit muram kelabu, langit biru menjadi barang langka. Maka ceritamu tentang desa kecil nan bersahaja selalu menarik perhatianku.
Kau bercerita tentang sebuah desa kecil di Jawa Tengah. Sebuah desa yang dikelilingi bukit-bukit kecil. Kau menggambarkan betapa pagi selalu hadir dalam keadaan demikian menarik. Kabut bagai selimut tipis, pohon-pohon di kejauhan serupa bayangan magis, lalu sinar matahari perlahan akan mengoyak lapisan kabut yang kaukagumi. Aku bertanya apakah kau menyesali sinar matahari yang mengoyak kabut kesukaanmu, kau tertawa perlahan dan menjawab tak pernah kausesali apa pun yang disediakan alam di desamu itu.
Dalam ceritamu aku sering kali menangkap kesahajaan dalam hidup. Hal yang tak kulihat betul dalam dirimu saat ini. Selain kabut, kau bercerita bagaimana semarak Ramadan di desa kecil itu. Kau mengingat bagaimana anak-anak sebayamu akan beramai-ramai menggotong tikar ke sungai, di sana kau dan teman-temanmu mencuci tikar bakal dijadikan alas untuk salat Tarawih. Di sungai yang airnya kausebut sebening air mineral dalam botol, semua anak-anak di desa mandi beramai-ramai. Kau menyebutnya padusan, saat itulah dilambangkan bahwa semua hal-hal kotor dalam diri hanyut bersama air kali untuk memulai hari suci Ramadan dan menyongsong Idul Fitri.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
