Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 19 November 2023 | 13.30 WIB

Terima Kasih, Paman

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

***

Sejak itu hidup kami seperti ditanggung oleh paman. Ini membuat ibu tenang. Apalagi rumah baru kami ini juga dibayar oleh paman untuk beberapa tahun ke depan. Walau tak terlalu besar, tapi cukup sekali bagi ibu dan aku.

Sebenarnya sejak dulu ibu bekerja dengan menerima jahitan pakaian. Tapi, sejak asam urat menyerang pergelangan tangannya, ia tak bisa terlalu banyak menerima pesanan. Maka itulah sejak memasuki SMA, aku selalu berpikir bagaimana caranya untuk membantu ibu. Atau setidaknya tidak terlalu merecoki keuangan ibu yang pas-pasan. Dan satu-satunya cara yang terlintas olehku adalah aku harus berbisnis kecil-kecilan.

Jadi, kuutarakan niatan itu pada paman. Aku ingin meminta modal padanya.

”Untuk apa?” tanya paman.

”Aku ingin menjual pisang goreng,” jawabku.

”Pisang goreng? Bukankah sudah banyak yang menjual pisang goreng?”

”Memang betul, Paman. Tapi, mereka hanya menjual pisang goreng standar seperti itu-itu saja. Aku punya konsep yang sedikit berbeda. Pisang gorengku nantinya hanya akan memakai pisang tanduk. Minyaknya pun bukan minyak goreng kiloan, tapi minyak goreng bermerek yang jelas kualitasnya. Ditambah lagi, aku juga sudah mendapat resep bagaimana McD menggoreng kentang, terutama bentuk penggorengan dan waktu penggorengannya. Dengan itu semua aku yakin bisa membuat pisang goreng paling enak, Paman.”

Paman mengangguk-angguk.

Lalu dengan modal Rp 1 juta dari paman, aku membeli penggorengan dan meja kecil serta bahan-bahan. Di perempatan jalan yang ramai, kubuka daganganku di sana.

Beberapa pembeli langsung datang, tapi saat mengetahui harga pisang gorengnya, mereka membatalkan niat membeli. Tak apa. Kalau orang lain menganggap daganganmu mahal, dia berarti bukan target pasarmu, tiba-tiba kutipan itu melintas di otakku.

Tapi, saat seorang kenalan datang dan juga membatalkan niatannya, aku pun bertanya, kenapa tak jadi?

”Mas, Mas, pisang goreng wae kok sakmono regone!”

Aku tentu sudah siap berdebat dengan itu. Kusiapkan kata-kata untuk kenalanku itu: ”Ini jelas pisang goreng yang berbeda. Pisangnya pisang tanduk, minyak gorengnya yang termahal, dan cara masaknya pun bukan di penggorengan biasa, tapi memakai penggorengan layaknya di McD!” Tapi, rupaya kenalanku itu sudah keburu pergi.

Di hari-hari esok, memang ada satu-dua pembeli pisang gorengku. Namun, mereka tak lagi kembali. Tak lebih dari sebulan kemudian, aku pun terpaksa menutup bisnisku.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore