Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 10 September 2023 | 16.31 WIB

Genangan Kenangan

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Chika tak punya pilihan dan tak sanggup melawan. Ia hanya bisa menangis dan merintih. Itulah persetubuhan kedua bagi Chika. Lebih jahanam ketimbang yang pertama.

”Tinggallah di sini, Chika!” bujuk bapak kos, setelah tuntas menyalurkan berahi, nadanya terdengar lembut. Chika hanya mematung, dingin, tanpa suara, seperti manekin yang terbujur kaku di ranjang. Sejak malam itulah, tubuh Chika menjadi santapan lezat bapak kos.

Kenangan pahit terus menggempur kepala Chika. Sulit menghindarinya. Ia bangkit dari bathtub, membilas tubuhnya dengan pancuran air, lalu mengeringkannya dengan handuk. Ia berjalan sambil telanjang menuju pintu kaca yang membatasi kamar dan balkon lantai 27. Langkahnya terhenti. Ia mengamati tubuh telanjangnya dari pantulan kaca itu.

”Sudah siap melayani tamu?” suara bapak kos kembali mengusik telinganya.

”Siap, Pak!”

”Jangan ’Pak’, panggil ’Papi’ saja seperti mbak-mbak lainnya.”

Tamu pertama Chika di rumah kos itu adalah bandot tua pemilik showroom mobil di tengah kota. Antara bapak kos dan bandot tua itu sudah saling kenal. Mereka teman lama. Makanya, bapak kos merelakan bandot tua membawa Chika ke hotel untuk layanan long time.

Jelang debutnya sebagai pelacur, Chika grogi. Ia membolak-balik majalah yang ada di kamar hotel. Ia kaget setengah mati ketika melihat wajah pacarnya, laki-laki yang merenggut keperawanan dan menghamilinya, di sebuah halaman koran. Laki-laki itu diwartakan sebagai pengedar sabu-sabu, tewas ditembak polisi karena menghunus celurit saat penyergapan.

”Mampus kau!” rintih Chika. Si bandot tua mendengarnya samar-samar.

Lamunan Chika buyar saat telepon genggamnya berdering. Buru-buru ia mengangkatnya.

”Halo, Cantik! Om segera meluncur ke JC Marion lantai 27. Kamu sudah mandi?”

”Sudah dong, Om!”

”Hmm, sedap. Harumnya sudah tercium sampai sini.”

Sepersekian detik setelah menaruh telepon genggamnya di meja, Chika kembali terseret, terbawa arus kenangan. Ia jijik dengan tubuhnya.

”Yakin pulang sendiri?” tanya si bandot tua, pagi hari, setelah menyetubuhi Chika semalam suntuk. Chika menjawabnya dengan anggukan kepala. ”Uangnya sudah kutransfer ke papimu. Tapi ini buatmu, untuk ongkos naik taksi dan jajan.” Chika kaget melihat segepok uang yang disodorkan bandot tua. Di pikirannya melintas sebuah rencana. Sebelum meninggalkan kamar, kening Chika dikecup hangat oleh bandot tua. ”Hati-hati di jalan, sampaikan salam buat papimu.”

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore