
ILUSTRASI
Chika tak punya pilihan dan tak sanggup melawan. Ia hanya bisa menangis dan merintih. Itulah persetubuhan kedua bagi Chika. Lebih jahanam ketimbang yang pertama.
”Tinggallah di sini, Chika!” bujuk bapak kos, setelah tuntas menyalurkan berahi, nadanya terdengar lembut. Chika hanya mematung, dingin, tanpa suara, seperti manekin yang terbujur kaku di ranjang. Sejak malam itulah, tubuh Chika menjadi santapan lezat bapak kos.
Kenangan pahit terus menggempur kepala Chika. Sulit menghindarinya. Ia bangkit dari bathtub, membilas tubuhnya dengan pancuran air, lalu mengeringkannya dengan handuk. Ia berjalan sambil telanjang menuju pintu kaca yang membatasi kamar dan balkon lantai 27. Langkahnya terhenti. Ia mengamati tubuh telanjangnya dari pantulan kaca itu.
”Sudah siap melayani tamu?” suara bapak kos kembali mengusik telinganya.
”Siap, Pak!”
”Jangan ’Pak’, panggil ’Papi’ saja seperti mbak-mbak lainnya.”
Tamu pertama Chika di rumah kos itu adalah bandot tua pemilik showroom mobil di tengah kota. Antara bapak kos dan bandot tua itu sudah saling kenal. Mereka teman lama. Makanya, bapak kos merelakan bandot tua membawa Chika ke hotel untuk layanan long time.
Jelang debutnya sebagai pelacur, Chika grogi. Ia membolak-balik majalah yang ada di kamar hotel. Ia kaget setengah mati ketika melihat wajah pacarnya, laki-laki yang merenggut keperawanan dan menghamilinya, di sebuah halaman koran. Laki-laki itu diwartakan sebagai pengedar sabu-sabu, tewas ditembak polisi karena menghunus celurit saat penyergapan.
”Mampus kau!” rintih Chika. Si bandot tua mendengarnya samar-samar.
Lamunan Chika buyar saat telepon genggamnya berdering. Buru-buru ia mengangkatnya.
”Halo, Cantik! Om segera meluncur ke JC Marion lantai 27. Kamu sudah mandi?”
”Sudah dong, Om!”
”Hmm, sedap. Harumnya sudah tercium sampai sini.”
Sepersekian detik setelah menaruh telepon genggamnya di meja, Chika kembali terseret, terbawa arus kenangan. Ia jijik dengan tubuhnya.
”Yakin pulang sendiri?” tanya si bandot tua, pagi hari, setelah menyetubuhi Chika semalam suntuk. Chika menjawabnya dengan anggukan kepala. ”Uangnya sudah kutransfer ke papimu. Tapi ini buatmu, untuk ongkos naik taksi dan jajan.” Chika kaget melihat segepok uang yang disodorkan bandot tua. Di pikirannya melintas sebuah rencana. Sebelum meninggalkan kamar, kening Chika dikecup hangat oleh bandot tua. ”Hati-hati di jalan, sampaikan salam buat papimu.”

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
