
ILUSTRASI
Menginjakkan kaki di Barat, yang dulu kami cerca, Rubiah tak berubah. Namun, dia menunjukkan sikap yang tak terpikirkan. Dia selalu meneteskan air mata ke kursi angkutan umum bila kami harus berpindah alat angkutan. Tak mau duduk di kursi yang belum pernah dia tempati. Tambah merepotkan, sebab setiap kami menginap di hotel, dia selalu mendesak agar bantal dibawa serta ketika check-out. Rubiah tak bisa tidur di bantal yang tak dikenalnya. Dia seperti mencium aroma kematian di bantal yang tak pernah menjadi tempat rebah kepalanya. Jika ada kawan senasib, yang dengan senang hati mengajak menginap di rumah mereka, entah di Munich, entah di Frankfurt, entah di Köln, Rubiah menolak bantal tuan rumah. Diam-diam dia mengeluarkan sarung bantal dari tas jinjingnya. Aku tak tahu di mana dia dapatkan sarung bantal itu. Hanya di atas sarung bantal itu dia sudi merebahkan kepala dan tidur pada malam-malam yang kami lewati sebelum menyeberang ke daratan baru.
Di Aachen, dengan mengendarai mobil, sekitar seperempat jam, seorang kawan membawa kami ke pos pertemuan Jerman, Belanda, dan Belgia, di Les Trois Bornes. Yang menjadi pembatas bukanlah beton sekokoh Tembok Berlin. Cuma garis lurus, terbuat dari lempeng metal, bertemu di satu titik yang ditanam di tanah. Daun-daun kering kedinginan menari-nari di atas tanah dipermainkan tiupan angin benua. Kawan itu mengatakan, titik pertemuan tiga negara itu ditemukan anggota Tentara Merah Jepang. Mereka berpura-pura hiking untuk mencarikan penyeberangan bagi orang-orang Indonesia yang bertekad meminta perlindungan di Belanda.
Keesokan harinya, begitu gelap merayap, kami sudah tinggal selangkah dari garis perbatasan. Sunyi sekeliling. Di depan, membentang hutan pepohonan yang ramah. Lantas batas negara yang terbuat dari baja, yang menghadang langkah kami. Tapi, apalah arti pembatas bagi niat yang ingin menyerahkan diri pada sehamparan daratan baru sebagai pilihan hidup yang terakhir. Getir memang, kalau kuingat. Waktu remaja, aku ikut gerilya memerangi Belanda, namun kini, aku, dengan menempuh perjalanan jauh, mengendap-ngendap minta perlindungan di kaki Ratu Juliana.
“Apakah saya harus menelan kertas ini?” tanya Rubiah. Di tapak tangannya yang bergetar tergenggam selembar surat, yang dulu datang begitu terlambat, tentang Ibunya yang harus dibuang.
“Tidak. Surat itu akan memperkuat alasan kita untuk meminta suaka.”
Sesaat kemudian, Rubiah mengeluarkan sarung bantal dari tas jinjingnya. “Yang ini, Mas...” Aku mendekapnya. Mengecup matanya. Bibirnya. Menatap kecantikannya yang abadi dalam derai daun kering yang berjatuhan. Memang, kami dengar sejumlah penyeberang, sebelum melangkah masuk, terlebih dulu menyobek dan mengunyah paspor palsu yang capnya dibuat dari singkong di Tiongkok. Dokumen palsu yang sudah lumat itu tidak dibuang ke tong sampah, sebab polisi bisa melacaknya. Jadi, mereka telan bulat-bulat.
“Tak usah.”
Aku memegangi bahunya sebelum melangkahkan jejak kaki pertama ke daratan Sang Ratu. Seorang eksil dari Rotterdam pernah tertangkap basah dekat perbatasan ini. Dia mau menyeberang menjemput suaminya yang hidup dengan menumpang pada seorang kawan di Jerman. Cinta ada kalanya bisa membuat manusia melampaui kecerdasan tak terduga. Kepada ronda yang memergokinya, dia mengaku telah bertengkar dengan suaminya, dan dia ditinggalkan begitu saja di hutan itu.
Kami tidak sedang mengarungi hutan segelap belantara Nantalu di Sumatera Utara. Di bawah langit malam, dengan mudah kami mengikuti arah yang dipetakan secara rinci oleh kawan-kawan yang sudah terlebih dulu berada di Belanda. Menjelang matahari terbit, di persimpangan jalan kecil, kami disongsong tiga orang kawan. Seorang mengajak kami mampir di sebuah cafe yang baru saja membuka pintu. Sementara dua kawan lain meningalkan kami, entah ke mana. Tak sempat kami mereguk kopi, kawan yang seorang itu mengajak kami mengikuti dia. Sesampai di sebuah pos polisi, dia meminta kami menunggu. Dia melangkah masuk, kemudian keluar lagi. Mengisyaratkan kami segera ke dalam. “Ditunggu,” katanya singkat. Dia meninggalkan kami berdua.
Di dalam, polisi menyelidiki perihal pekerjaanku di Berlin Timur. Di antara sekian banyak pertanyaan, yang terasa paling menyakitkan adalah: mengapa memilih Belanda? Tidak kujawab. Aku dan Rubiah saling memandang, tertunduk menatap daun meja.
Kami ditempatkan di sebuah penampungan, mirip hotel sederhana. Beberapa pekan kemudian, kami diasingkan ke sebuah kota kecil, sekitar setahun lamanya. Di situ aku mulai berpenghasilan sebagai tukang potong kaca di sebuah industri perkakas rumah tangga, hingga pensiun 15 tahun kemudian. Niat untuk pulang Ibu Pertiwi tenggelam ditelan waktu. Dan di negeri bekas penjajah ini, aku benar-benar merasa sebagai manusia. Manakala uang pensiunku hanya cukup untuk sewa rumah, aku tinggal melapor kepada gemeente, kota praja. Berpuluh tahun kami dihidupi bantuan sosial. Sesuatu yang tak terbayangkan di tumpah darah kepada siapa kami tak mungkin pulang.
Bagi seorang sarjana Indonesia yang hendak meraih gelar doktor di sebuah universitas di Los Angeles, rupanya jaminan sosial yang kami nikmati itu bukan mukjizat. Yang ingin benar dia ketahui, siapa penunjuk jalan kami.
“Siapa ketiga orang yang menemui Bapak dan Ibu setelah meninggalkan titik perbatasan dekat Aachen?” tanya Hastuti Mulyasari, sarjana ilmu politik asal Surabaya. Pertanyaan serupa sudah berkali-kali dia ajukan. Dan sekian kali pula kutangkis dengan tawa. Kelima kali dia datang lagi. Tak lupa membawa oleh-oleh masakan kesenangan kami: bebek panggang yang dia beli di restoran Thai di tengah kota Amsterdam.
Setelah basa-basi dengan pertanyaan yang berulang-ulang tentang pekerjaanku di Berlin Timur, dan di kantorku di Jakarta dulu, dia desak lagi, siapa ketiga kawan yang menjemput kami setelah melintasi perbatasan.
Tak kusangka pertanyaan itu membuat Rubiah naik pitam. Dia bukan lagi wanita yang harus kurebut kebaikan hati dan kecantikan parasnya. Dia jantan yang sedang mengaum. Matanya terbelalak tajam menantang. “Ah.., tanya lagi, tanya lagi... Sudah berkali-kali dijawab, kami punya kewajiban hidup untuk tidak menceritakan siapa mereka kepada siapa pun. Juga tidak kepada kau. Pecundang..!” Rubiah menyergah. “Apa kau ini intelijen tentara yang mau menangkap kami? Katakan terus terang..!” Dia berdiri dengan tatapan yang tak kenal ampun.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
