Logo JawaPos
Author avatar - Image
08 Desember 2025, 13.15 WIB

Bahtera

*** 

Setelah satu bulan hujan masih berlangsung, hanya berhenti dua atau tiga jam se­be­lum mengguyur lagi. Sungai-sungai meluap dan meng­ha­nyutkan pohon-pohon serta ternak warga. Ladang-ladang perkebunan terendam dan tenggelam di bawah genangan air. Air sungai keruh kecokelatan dan berarus deras. Para warga yang tinggal di hilir sungai di­peringatkan agar tidak berdiri dekat tebing. Banjir bukan lagi sekadar peringatan. Di desa-desa tetangga banjir bahkan telah di depan mata. Mengingat hujan terus mengguyur, banjir akan merata di seluruh ke­ca­matan. Orang-orang meng­ung­si di balai desa, atap-atap gereja, masjid, rumah-rumah dua lantai, sampai pohon durian, tapi ternyata air terus menjangkau ketinggian. Ketika tembok bendungan rumpal, air mengempas me­nenggelam­kan permukiman warga. 

Semula rumah Moses adalah rumah terakhir yang bertahan di tengah luapan banjir. Na­mun, kurang dari 24 jam ke­mu­dian lantai mulai berderak dan bangunan rumah ber­gun­cang. Saat itu Moses sudah baikan, tapi setengah tubuhnya mengalami lumpuh. Ayumi, Ivan sang suami, dan kedua anak mereka kebetulan baru tiba satu minggu lalu. Ketika peringatan banjir digaungkan pertama kali, mereka hendak kembali ke tempat Ivan ber­tu­gas, tapi jalan penghubung antarkota terhalang longsor. Maka Ayumi dan keluarga kecilnya kembali ke rumah bahtera sang ayah. Hosea dan Jihan sama tak bisa ke mana-mana, begitu pula Dinar dan Gala. Mereka semua mengungsi di lantai dua rumah bahtera itu, berharap dinding-dinding lantai satu cukup kokoh untuk bertahan sampai air surut. Harapan yang tidak pernah jadi kenyataan. 

Tepat tengah malam, rumah itu tercerabut dari struktur fondasi. Dalam satu dorongan berkekuatan magis dari bawah permukaan air, rumah itu te­rangkat, kini benar-benar men­­jadi bahtera. Di atasnya Moses yang setengah lumpuh, istri, ketiga anak dan ketiga menantu, serta para cucu ber­pegangan di kusen-kusen pin­tu, jendela, dan langkang. Saat itu ketinggian air me­nya­mai bukit-bukit dan pegu­nung­an. Sejauh matamemandang, tak tampak lagi apa-apa di se­keliling mereka kecuali per­airan berwarna cokelat yang terus bergerak, menyeret bah­tera itu tanpa arah. 

Arus dan gelombang air mem­buat bahtera sesekali ber­­guncang hebat. Moses sekeluarga terseret kian kemari, tersaruk-saruk mencoba berdiri sebelum rumpal kembali. Anak-anak dan para perem­puan menangis. Bahtera men­capai kemiringan yang me­ngerikan. ­Yang tak sanggup berpegangan erat akan jatuh ke dalam air, hilang untuk se­lamanya. Moses orang pertama yang nyemplung ke dalam air, disusul Ivan, disusul Hosea, lalu yang terakhir Gala. Anung menatap kepergian suami, kedua menantu, dan anak ke­sa­yangannya dengan pe­rasaan tawar. Cucu yang paling kecil berpelukan di tubuhnya, geme­tar tapi sekuat akar beringin. 

Dinar memejamkan mata erat-erat, tak tahan melihat lebih banyak kematian. Betapa ingin ia menyusul Gala ke dalam arus pusaran, tapi ia tak punya nyali. Padahal ha­rapan hidup setipis jaring la­ba-laba. Ditatapnya keluar­ganya yang tersisa: Anung, Ayumi, Jihan, dan anak-anak. Jika satu orang saja terjatuh lagi, ia tak akan ragu untuk me­lepaskan pegangan. Na­mun, mereka yang tersisa sang­­gup berpegangan di pagar langkang berminggu-minggu kemudian hingga kemiringan bahtera berkurang. Saat itu semua orang sudah mati rasa untuk sekadar merasa sedih atas kehilangan. Pada hari ke­empat puluh, air akhirnya surut dan bahtera itu terdampar di kaki gunung. Empat perem­puan dan lima anak kecil. Konon mereka bertahan de­ngan meng­gasak apa saja yang mengapung di air, termasuk burung-burung yang singgah memijakkan kaki di geladak. Ketika ditemukan, kondisi mereka mengenaskan tinggal tulang berbalut kulit, tapi aneh­nya, masih bernapas. Berpa­sang-pasang mata berbinar memancarkan ke­hidupan. (*)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore