Logo JawaPos
Author avatar - Image
10 November 2024, 15.17 WIB

Keluarga Kromo

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)

Kromo tak pernah suka politik. Setelah membaca judul berita tentang kekacauan dalam sebuah aksi politik, dia segera meletakkan koran dan kacamatanya di atas meja, seolah ingin menjauh dari sebuah ancaman.

LANTAS, dalam beberapa detik kemudian, dia termenung dengan dahi berkeringat, ketika tiba-tiba dia mengingat keluarganya di masa lalu.

***

Ketika pasukan NICA datang dan mencoba merebut kembali wilayah koloninya di tahun 1947, Kromo ingat ayahnya dengan muka tirusnya tertawa menyambut gembira berita itu. Dia berteriak-teriak seperti anak kecil yang girang di dalam rumah. Sementara ibunya yang memperhatikan menjadi jengkel dan meminta ayahnya diam.

”Ssshh…jangan seperti itu.”

Ibunya punya suara halus seperti udara yang bersih di pagi hari, tapi pada saat tertentu mampu menjadi badai yang mencekam. Pada saat itu, ayahnya yang begitu mencintai istrinya terdiam beberapa saat. Ruangan lantas menjadi hening dan hanya dipenuhi wajah kikuk ayahnya dan muka ibunya yang tegas seperti padas. Tapi itu tak lama, karena setelah itu, ayahnya berbalik ke kamar dan bergegas mengenakan jas warna krem dan kain cokelat tua bermotif sidomukti. Sepanjang berdandan, mulutnya berteriak memanggil Kromo yang tengah berdiri di teras.

”Mo, kita pergi. Cepat ganti baju!”

Melihat ayahnya begitu bersemangat, Kromo bergegas berganti baju. Dia tak ingin ayahnya marah jika geraknya lamban. Sedangkan dua kakaknya yang mengenakan baju khas pejuang mereka berdiri di sudut terpisah, menyaksikan dengan tatapan yang meremehkan. Ayahnya tak mengajak mereka sebab keduanya adalah pejuang republik dan kakak sulungnya pernah terlibat dalam penculikan beberapa pejabat kepatihan Solo di tahun 1945, dan untungnya tidak dalam pemberontakan Front Demokrasi Rakyat (FDR) di Madiun 1948 yang menghasilkan dendam turun-temurun karena tubuh-tubuh yang dicincang di jalanan dan dipendam dalam sumur-sumur tua.

Sepanjang waktu bertemu, mereka selalu berdebat soal itu. Ayahnya menyebut kakaknya itu sebagai anak sesat yang dikorbankan Muso. Di saat yang sama, ayahnya juga mengolok kematian Henk Sneevliet, gurunya Semaun yang dihukum mati oleh Jerman di tahun 1942. Tapi, kakaknya menyebut dirinya sebagai seorang patriot sejati untuk membantah itu.

”Harusnya kamu sadar siapa leluhurmu.” Ayahnya menentang waktu itu.

”Kaum feodal yang menyebabkan orang menderita,” kata kakaknya semakin sengit. ”Kamu menghina leluhurmu sendiri. Kamu pikir kamu anak siapa?” bentak ayahnya.

Tentu saja ibunya membela ayahnya. Dia adalah putri bangsawan. Ayahnya seorang bupati dari garis Solo dan tak akan pernah rela pikiran asing yang meruntuhkan Tzar di Rusia ikut menghancurkan leluhurnya. Kakaknya memang berani menentang ayahnya, tapi tidak terlalu pada ibunya. Dia hanya mencoba meyakinkan ibunya dengan suara lebih pelan. ”Dunia sudah berubah, Bu. Semua yang rusak harus diperbaiki,” kata Prapto, kakaknya. Tapi, ketika ibunya hanya berdiri dan menatapnya, kakaknya pergi. Itu terjadi di tahun 1946 di bulan Januari, setelah lolos dari pengejaran dan kembali ke Jakarta.

***

Ayahnya sekali lagi memanggilnya untuk bergegas. Kromo mengatakan sudah siap. Sewaktu ayahnya sibuk dengan kegairahannya, ibunya duduk di kursi goyang di kamar tengah, hanya mengawasi dengan mata tak berkedip, seolah tengah berjaga dari mara bahaya. Sementara kakak sulungnya mencibir, kakak lainnya memprovokasinya dengan mengedipkan mata agar Kromo menolak. Ayahnya yang mengetahui itu marah. Tubuhnya berdiri setengah doyong dengan tangan menuding sambil meneriaki mereka sebagai anak sundal. Mendengar itu, ibunya yang semula diam tersinggung. Dari kursinya dia menyela kemarahan suaminya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore