
ILUSTRASI
Saya baru saja selesai mandi ketika Jorge datang. Badan dan rambut saya masih basah.
”Tuan, ini mendesak,” katanya setelah mendobrak pintu rumah yang sebetulnya tidak saya kunci.
”Ya. Kabar apa yang kaupunya, Jorge? Aku harap ini terdengar lebih buruk dari pintu rusak!”
JORGE melihat ke arah pintu. ”Maaf soal itu, Tuan,” katanya, kemudian melanjutkan kalimatnya dengan terbata-bata. ”Mereka datang. Dari jauh aku lihat mereka mengisi peluru pada pistol yang mereka bawa. Apa yang harus aku lakukan?”
Siapa yang dimaksud Jorge dengan ”mereka” adalah para Bandit Tolchopo. Memang saya telah menerima surat beberapa hari lalu, yang berisi permintaan sepuluh ekor sapi untuk sebuah pesta bujang. Bandit Tolchopo dikenal sebagai malaikat pencabut nyawa yang kerap meresahkan.
Kabar itu terdengar di mana-mana, hingga tiba di kampung kami; di kediaman saya. Mereka kerap berbuat sesuatu tanpa berpikir panjang. Beberapa orang percaya, barang siapa yang telah menerima surat dari mereka, kemudian tidak memenuhi atau malah dengan sengaja tidak menggubris, sesuatu yang buruk dapat saja terjadi.
Mereka telah lama ditakuti. Banyak orang pasrah menghadapi bandit ini. Para pebisnis, termasuk pedagang kecil, selalu merugi dengan adanya pungutan liar yang bermacam-macam. Baik uang, peliharaan, atau apa pun yang mereka inginkan. Namun, dengan semua fakta itu, saya pikir Bandit Tolchopo bukanlah masalah besar seperti yang dipikirkan kebanyakan orang.
Sejak kecil, saya tidak pernah diajarkan untuk melafalkan kosakata resah, takut, mohon ampun, dan sejenisnya. Orang tua saya mati ditembak di hadapan saya. Itu pemandangan yang tak pernah terbayarkan ketika saya berusia enam atau tujuh tahun. Peristiwa itu terekam kuat, hingga saya mendendam pada pembunuh dan membalas dengan cara yang sama di tahun mendatang.
”Pertama-tama, perbaiki pintu itu. Kemudian terima mereka dengan tersenyum. Dan jangan lupa buatkan mereka minuman,” kata saya.
”Tuan. Apakah Anda lupa siapa Bandit Tolchopo?”
”Saya tahu dan tidak lupa. Tetapi lakukan saja apa yang saya katakan. Saya butuh waktu mengeringkan rambut!”
Saya bergeser menuju kamar dan melupakan Jorge.
Apakah ia akan melakukan apa yang saya perintahkan? Saya tidak terlalu memikirkannya. Saat ini saya tidak ingin mendengar langkah kaki, gebrakan meja, atau suara tembakan, dan teriakan memohon ampun. Saya hanya ingin tenang dan mengeringkan rambut.
Mungkin, waktu yang dibenci semua orang adalah menerima tamu yang tak diinginkan. Kita bisa saja bersikap ramah, tetapi itu hanya bagian permukaan. Dari dalam, kita tetap membenci semuanya dan segera ingin melepaskan diri dari situasi yang rumit itu. Saya harap Jorge tidak mengerti soal ini dan dengan begitu ia dapat memperbaiki pintu tanpa gangguan. Tetapi apakah Jorge bisa mengatasi para bandit? Itulah pikiran yang mengganggu selagi mengeringkan rambut.

7 Kebiasaan Malam Orang yang Tidak akan Pernah Berhasil dalam Hidup Menurut Psikologi
8 Rekomendasi Kuliner Bebek Terenak di Jogja: Sambal Menyala, Porsi Melimpah dan Rasa Istimewa
9 Rekomendasi Gudeg Koyor Paling Nendang di Semarang, Kuliner Tradisional dengan Rasa Sultan
7 Rekomendasi Brongkos Paling Ngangenin di Jogja, Kuliner Khas dengan Rasa Manis Gurih Pedas
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Ditangkap Kejagung Terkait Perkara Tambang
13 Rekomendasi Mie Ayam Enak di Jogja, Kuliner Kaki Lima yang Rasanya Bak Resto Bintang Lima
15 Tempat Kuliner di Jogja untuk Sarapan Pagi Paling Murah Meriah tapi Rasa Tetap Istimewa
Rekomendasi Kuliner Sate Kambing Terenak di Jogja: Daging Empuk di Lidah, Bumbu Meresap Sempurna
Prediksi Susunan Pemain Persebaya Surabaya vs Madura United di Derbi Suramadu! Misi Bangkit di Hadapan Bonek
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Madura United! Momentum Bernardo Tavares Buktikan Magisnya di GBT
