Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 12 Mei 2024 | 14.52 WIB

Gebrakan Baru Perempuan Perupa Citra Sasmita dari Tabanan

Karya rupa - Image

Karya rupa

Rivers with No End. Begitulah judul karya Citra Sasmita, perempuan perupa Bali, di Diriyah Biennale (20 Februari–24 Mei 2024). Pameran itu dikurasi oleh kurator terkenal asal Jerman yang bermukim di Singapura, Ute Meta Bauer.

Ute Meta Bauer adalah seorang scholar dan kurator internasional yang banyak terlibat event internasional penting. Misalnya, 17th Istanbul Biennale, Documenta, Venice Biennale. Dia juga founding director dari NTU Centre for Contemporary Art Singapore.

Diriyah Biennale yang baru diadakan untuk kali kedua merupakan ajang seni rupa yang cukup bergengsi di Timur Tengah. Biennale itu mengikutsertakan 92 perupa dari 43 negara dari Timur Tengah hingga Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Biennale berlangsung di Jax District, Diriyah. Kawasan ini merupakan kota bersejarah yang terletak di pinggiran barat laut ibu kota Arab Saudi, Riyadh, dan termasuk kota UNESCO World Heritage Turaif. Diriyah Biennale yang mengangkat tema After the Rain tampak mulai ingin mengambil bagian dalam ajang seni rupa dunia.

Dari Indonesia, perupa Bali Citra Sasmita diminta membuat commission work. Citra, yang kekaryaannya umumnya menentang ketidakadilan gender dan salah pengertian dalam cerita mitologi dan sejarah Bali, kini pada karya untuk Diriyah Biennale lebih mengutamakan masalah toleransi. Yaitu, dalam hal budaya. Sehingga karyanya, Rivers with No End, memilih jalan akulturasi sebagai solusi untuk mengatasi perbedaan.

Menurut Citra, karya Rivers with No End merupakan interpretasinya dari segala pengetahuan, sejarah, dan budaya tentang bagaimana Islam tersebar di Indonesia lewat berbagai rute jalan laut. Dan juga memasuki Pulau Bali yang mayoritas penduduknya beragama Hindu.

Citra mengakui bahwa awalnya dirinya deg-degan apakah karyanya dapat diterima di Arab yang mayoritas muslim. Tapi, ternyata semua aman-aman saja. Publik sangat senang, katanya, dan mengajukan banyak pertanyaan.

Tampak konsep karya Citra sesuai dengan tujuan besar Diriyah Biennale. Yakni, berbicara mengenai revitalisasi dan pembaruan negeri serta dunia yang mengalami laju evolusi sosial yang teramat cepat.

Menjelajahi koneksi Pulau Bali yang mayoritas beragama Hindu dengan budaya Islam karya Citra bertajuk Rivers with No End menggelar potongan-potongan tekstil bersulam yang digantung pada sembilan pilar kayu yang berukiran dari arsitektur Jawa dan Bali. Dipasang secara datar, instalasi pilar-pilar kayu berukiran itu bermetafora sembilan figur Wali Sanga, penyebar agama Islam di Jawa yang sangat menonjol.

Satu potongan kain bersulam itu berukuran sepanjang 9 meter. Berhiasan layer berwarna-warni, konon terinspirasi pelaut Bugis yang datang dari Sulawesi ke Bali entah pada abad keberapa. Kain-kain berukuran lebih kecil dihiasi sulaman berbagai tanaman herbal yang didapat Citra dari bacaan Alquran dan manuskrip kuno budaya Hindu.

Perlu diketahui bahwa sulaman di atas berbagai kain itu memakai teknik kuno yang kini nyaris punah. Citra bekerja sama dengan seorang pendeta perempuan Bali yang masih menguasai kerajinan bersulam kuno itu. Citra berhasil menemukan sekelompok perempuan Bali di salah satu desa muslim tertua, yaitu di Desa Loloan, Jembrana, yang bisa diajak membuat sulaman dengan teknik kuno itu.

Commissioned work Rivers With No End oleh Citra Sasmita dianggap sebagai satu dari enam karya yang paling mengesankan di antara 170 karya milik 92 perupa dari 43 negara itu. Dengan demikian, Citra Sasmita telah menambah suatu milestone lagi pada sejarah kekaryaannya.

Ni Putu Citra Sasmita lahir di Tabanan, Bali, pada 1990. Keluarganya sering pentas dari desa ke desa dalam upacara Hindu di Bali. Ia sempat kuliah di Fakultas Sastra Universitas Udayana, Denpasar (2008), serta fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam di Singaraja (2009). Ia juga pernah ikut grup teater kampus dan menjadi ilustrator cerpen di Bali Post.

Rivers with No End merupakan bagian dari seri proyek Timur Merah, sebuah proyek yang masih berlangsung. Dimulai pada 2019, ketika ia sadar bahwa arsip-arsip sejarah maupun lukisan klasik dan manuskrip kuno dituliskan dan digambarkan tidak adil secara gender.

Maka, Citra melakukan koreksi lewat karya seninya di bawah proyek Timur Merah. Untuk itu, Citra melakukan riset yang mendalam, menemui para pendeta, wawancara, mempelajari wayang pada lukisan-lukisan bergaya Kamasan, lalu mengubah dan mentransformasikan sosok maskulin dan superheroes menjadi sosok-sosok perempuan keras yang tampak arkais.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore