Logo JawaPos
Author avatar - Image
14 Januari 2024, 15.54 WIB

Pak RT Membawa Gergaji

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

”Itu rumah,” kata Pak RT sambil menunjuk pohon kelapa.

”Ini rumput,” kata Pak RT sambil menunjuk kerikil.

”Itu buku,” kata Pak RT sambil menunjuk sepeda.

”Ini beras,” kata Pak RT sambil menunjuk tiang listrik.

”Itu pintu,” kata Pak RT sambil menunjuk jendela.

”Ini piring,” kata Pak RT sambil menunjuk botol.

”Itu dasi,” kata Pak RT sambil menunjuk tampar.

”Ini kipas,” kata Pak RT sambil menunjuk kawat.

”Itu bibir,” kata Pak RT sambil menunjuk kuping.

Ya, ya, makna kata-kata pun jadi terbolak-balik. Tapi Pak RT puas. Sebab, ketika membolak-balik makna kata-kata itu, pikiran Pak RT seakan menjadi penguasa dunia. Penguasa yang mampu untuk memiliki pikiran siapa pun. Pikiran yang lama-lama percaya bahwa makna kata-kata yang mereka dapatkan (dari Pak RT) adalah makna yang benar. Makna yang layak dipercaya.

IV

”Biawak!” maki Pak RT. Entah pada siapa. Yang jelas, hati Pak RT gusar. Bayangkan, sudah hampir sebulan si peri mungil tak lagi hinggap di pinggiran jendela rumahnya. Dan hampir sebulan pula, Pak RT tak bisa berperan jadi siapa pun. Jadinya, apa-apa yang dirasakan selama hampir sebulan ini begitu hambar. Tawar. Dan menjengkelkan.

”Ke mana si peri mungil? Kenapa tak muncul? Apa kesasar?” kata Pak RT seperti pada diri sendiri. Lain itu, yang perlu ditambahkan, meski peran-peran yang dijalani Pak RT hanya beberapa jam, tapi itu begitu menggoda untuk diulang-ulang. Dan lewat peran-peran itulah Pak RT dapat memuaskan hasratnya untuk memiliki siapa dan apa pun. Sehingga, diam-diam, lewat peran-peran itu, Pak RT punya pameo: ”Hidup hanya mampir memainkan peran.” Pameo yang kini begitu kuat merasuki dada Pak RT. Dada yang berdetak kencang. Dada milik lelaki berumur 52 tahun. Tanpa istri, anak, dan keluarga. Lelaki yang sehari-hari bekerja serabutan.

Selanjutnya, entah ide dari mana, atau ada demit yang berbisik, Pak RT merasa bahwa si peri mungil pasti bersembunyi di suatu tempat. Dan tempat itu pastilah sebuah pohon yang punya daun rimbun, berwarna hijau, kuning, terus rontok. Pohon, yang setelah Pak RT memutari kampung, cocok benar dengan pohon ketapang yang ada di kebun kampung. Kebun kampung yang digarap Pak Y dan Pak B.

Dan memang, malam itu juga, Pak RT mengeluarkan gergajinya. Terus mengasahnya. Dan ide atau bisikan untuk mendatangi pohon ketapang esok harinya semakin santer dan kuat. Pak RT pun terus mengasah. Mengasah. Dan mengasah. Bunyi kikir beradu dengan ketajaman gergaji terdengar sampai jauh. Bahkan, di sela-sela pengasahan itu, sesekali terdengar maki Pak RT: ”Biawak. Benar-benar biawak!”

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore