Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 26 November 2023 | 14.08 WIB

Komisi Kebenaran (Sebuah Reportase)

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

”Huss! Bulan depan Aisha enam belas, sudah bisa dikawinkan,” jawab ibu berlagak serius.

”Apa? Tidak! Tidak! Aisha akan kuliah di Banda Aceh.” Bapak berlagak sewot.

”Tapi aku sudah ingin menimang cucu, Pak! Kayak Kak Limah.” Ibu pindah duduk ke kursi di dekat bapak.

”Enak saja, Aisha harus kuliah. Titik! Cukup kita saja yang bodoh dan tidak tamat Es Em A.” Bapak menggoda ibu, tapi ibu tahu laki-laki itu sangat serius pada pendidikan anak-anak. Suara azan Magrib mengalun dari menasah kampung.

Ihwal IV: Seorang anak dara berkulit putih berjalan di jalan nasional yang sesunyi kuburan. Karena asyik membaca di perpustakaan, ia lupa-lupa kalau kampungnya tidak sedang baik-baik saja.

Di ibu kota negara, seorang presiden sudah dipilih langsung oleh rakyat untuk kali pertama, tapi keadaan tidak kunjung membaik. Di daerahnya, koran kerap melaporkan kasus-kasus penculikan oleh orang tak dikenal, melaporkan kontak senjata antara GAM dan tentara, melaporkan korban-korban mati tertembak, dan kemudian koran juga melaporkan pencurian kabel listrik oleh orang tak dikenal dan listrik bisa mati berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Dan terakhir kabar penebangan pohon-pohon kelapa di jalan raya yang berujung pada jalan tidak bisa dilalui, listrik padam, pemogokan berlangsung berhari-hari. Tak pernah terpikirkan oleh Aisha Salbi kalau hal semacam itu juga bisa sampai ke kampungnya. Ketika guru biologi tidak masuk kelas dengan alasan sakit, tidak sanggup mendengar suara teman-temannya yang ribut tidak jelas, ia malah kabur ke perpustakaan untuk membaca sebuah buku tentang alam semesta.

Saat ia keluar dari perpustakaan, sekolah sudah sepi, ia mendapati semua teman-temannya sudah pulang. Saat berpapasan dengan penjaga sekolah di dekat ruang guru, lelaki paro baya itu mengatakan, semua murid telah dipulangkan karena ada isu penebangan pohon dan pemogokan di jalan negara yang melintasi kecamatan. Aisha Salbi mungkin tak sempat mempertanyakan, kenapa para guru melupakan seorang murid yang sedang belajar di perpustakaan.

Sunyi yang mencekam meski di siang bolong cukup menakutkan, orang-orang telah mengunci diri di dalam rumah masing-masing. SMA Aisha terletak di kota kecamatan dan cukup jauh dari kampungnya. Biasanya gadis itu naik labi-labi bersama teman-temannya, tapi hari ini sepanjang jalan telah dipenuhi pohon kelapa yang tumbang, mungkin teman-temannya sudah cukup lama pulang sebelum ia menyadarinya. Mungkin saat mereka pulang, pohon belum ditumbangkan dan labi-labi masih bisa lewat. Kemungkinan-kemungkinan semakin banyak muncul di kepalanya, dan itu semakin menakutkan. Kampungnya sudah dekat, ia hanya perlu melewati beberapa lahan kosong lagi. Hanya matanya menangkap sekelompok laki-laki berseragam di ujung jalan.

Tentara! Atau? Entahlah, matanya melihat kiri-kanan, tak ada rumah penduduk yang bisa ia ketuk untuk minta perlindungan, yang terlihat hanya semak-semak pohon bandotan hampir setinggi orang dewasa. Aisha sendirian, ia telah mendengar segala perilaku jahat orang-orang berseragam yang datang dari pusat. Tanpa pikir panjang, dara itu angkat rok dan berlari ke arah pohon bandotan. Para tentara itu langsung mengejar sang dara ke semak belukar. Ada banyak kecurigaan pada orang yang berlari saat melihat tentara. Ada banyak alasan orang berlari saat melihat tentara di daerah konflik bersenjata.

Semak belukar telah membuat lengan baju Aisha tersangkut dan sobek, memperlihatkan kulit putih mulus dara enam belas tahun, dan tidak butuh waktu lama bagi seorang tentara untuk menangkap dara itu.

Ihwal V: Seperti Ihwal II.

Ihwal VI: Seorang dara dengan seragam abu-abu putih yang tercabik-cabik dan selangkangan berdarah ditemukan pingsan di teras rumah seorang warga.

Ihwal VII, VIII, IX, dan X masing-masing berisi tertembaknya seorang mahasiswi dalam minibus L-300, cerita keluarga korban seorang mahasiswa yang menghilang pada 1999 dan belum ditemukan sampai sekarang, dan kasus gilanya perempuan muda bernama Erna Kumala yang suaminya ditembak tentara beberapa saat setelah mereka menikah. Serta ihwal tertembaknya seorang perempuan yang dituduh cuak di atas motor saat mengantar anaknya yang berusia enam tahun ke sekolah.

Sebenarnya ada cukup banyak ihwal lainnya, namun hanya satu yang sama: tentang korban sangat jelas dan terang benderang hingga keluarganya siapa kita tahu, tapi tak ada kejelasan tentang pelaku, wajah pelaku seperti tak berbentuk. Sudah sampai di mana usaha komisioner menemukan wajah pelaku? Atau sudah adakah kasus yang dilimpahkan ke pengadilan? Tidak ditemukan satu ihwal pun tentang itu. Sebenarnya Komisi Kebenaran mencari kebenaran untuk siapa?

Kemudian kasus SPPD fiktif tam taram tam mencuat, dan aku tercatat sebagai komisioner paling muda dan salah satu perempuan di antara dua perempuan. Sebenarnya aku bisa terpilih menjadi komisioner juga tak lepas dari peran Pak Beurahim, salah satu anggota komisi I parlemen Aceh yang pernah kupacari diam-diam selama tiga tahun tiga bulan. Sekali lagi cerita ini tak pernah kuceritakan karena aku terlalu malu padamu dan mereka: korban dan keluarga korban yang tercatat dalam 15.579 ihwal dibagi 3. (*)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore