
ILUSTRASI
Oleh IDA FITRI
---
Aku sedang menyedot kopi hitam dingin kala Yah Wa muncul dan mengempaskan pantatnya di kursi besi di depanku sambil memaki, ”Celaka! Komisi Kebenaran celaka!”
AKU terbatuk-batuk beberapa kali, dan hampir tersedak sedotan. Sebagai komisioner termuda sekaligus satu dari dua komisioner perempuan, ucapan Yah Wa menyetrum tubuhku, lebih tepatnya menyetrum aku yang tidak berwujud atau kamu bisa menyebutnya sanubari. Lelaki berkulit keling dengan uban dan kumis separo memutih bak bunga jambu air jatuh itu selalu berpenampilan tenang. Jika ia sampai memaki tentu itu masalah besar. Yah Wa adalah saudara ibuku yang lebih tua dan satu-satunya yang masih tersisa. Ia sudah seperti ayah bagiku.
”Ada apa, Yah Wa? Coba tenang dulu, ceritakan apa yang terjadi.”
Yah Wa melempar koran Seuramoe, satu-satunya koran cetak yang masih terbit di daerahku, ke atas meja, ”Baca!” Yah Wa menarik napas panjang, kemudian hening.
Mataku mengeja huruf yang menjadi berita utama, KOMISI KEBENARAN TERLIBAT SPPD FIKTIF TAM TARAM TAM. Tanpa sengaja aku memegang bagian belakang kepala, akhirnya keluar di koran juga. Hal-hal busuk, disembunyikan bagaimanapun, aromanya akan tercium juga.
”Apa kau ikut-ikutan, Mar?”
Aku mendesah, kemudian menatap ke atas, daun angsana memayungi tempat kami duduk. Pohon itu tumbuh di depan warung kopi. Di bawah cabang-cabangnya yang rindang diatur meja dan kursi, yang kerap dipakai pengunjung di siang hari. Dan di siang jahanam ini aku ikut duduk di salah satu kursi itu. Dua helai daun angsana terjatuh acak, ngam-ngom dari meja-meja lain menyergap keheningan di meja kami. Rasa kecut menyelimuti hati, tak berani kupandang wajah lelaki tua di depanku. Kutatap lekat huruf-huruf di koran, huruf-huruf yang berseliweran membentuk satu cerita tak utuh yang tak bisa kuceritakan pada Yah Wa.
Tidak! Bahkan aku tidak berani menceritakan padamu, ini terlalu memalukan. Yang kamu baca selanjutnya adalah cerita yang tak pernah terceritakan, itu hanyalah kumpulan huruf-huruf yang berseliweran, kemudian membentuk kata-kata, dan menjadi kalimat dalam sanubariku. Sesuatu yang masih di dalam sanubari tidak pernah bisa disebut cerita.
penBaca Juga: Mungkinkah Pendidikan Tinggi Gratis?
***
Satu hari di bulan Februari 2022, tuan gubernur yang berasal dari dataran tinggi melantik Komisi Kebenaran: aku salah satu di antara tujuh orang itu. Hari itu aku begitu bangga, tapi berselang empat puluh tujuh hari, langsung kusadari: seharusnya hari itu tak pernah ada.
Ihwal ini bermula saat aku mulai membaca laporan komisioner periode sebelumnya: mereka telah mewawancarai 15.579 (dibagi 3) korban dan keluarga korban kekerasan masa konflik bersenjata yang laporannya terangkum dalam 5.193 halaman A4. Konflik bersenjata bukan hal baru di Aceh. Bahkan sudah dimulai sebelum seorang anak haram diangkat menjadi sultan yang dibanggakan turun-temurun. Orang kampungku memang senang berperang, mulai dengan menggunakan parang sampai menggunakan senjata selundupan, bahkan menyelundupkan mesin pembuat senjata. Sudah pasti ada banyak kuburan orang tak dikenal di kampungku. Untuk mencegah kekejaman itu berulang, dibentuklah satu komisi, Komisi Kebenaran, yang bertugas mengungkap yang benar-benar: benar.
Dari mulai dibentuk, Komisi Kebenaran telah bekerja sangat keras agar kasus pelanggaran HAM di kampungku benar-benar terungkap. En Ji O mengapresiasi kerja keras mereka. Tapi kemudian mulai muncul sebuah pertanyaan dalam benakku, sebuah pertanyaan yang akan kusampaikan di bagian paling akhir nanti. Sebelum itu, akan kurangkai sepuluh ihwal, yang tentu saja tidak ada hubungannya dengan sepuluh perintah dalam sebuah kitab suci.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
