Logo JawaPos
Author avatar - Image
15 Oktober 2023, 17.17 WIB

Paman Gordi

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Oleh YOGA ZEN

---

Pada hari ketika Paman Gordi meninggal, semua orang di rumahku sepakat bilang kepada pelayat bahwa ia jatuh di kamar mandi. Hanya sebatas itu.

KETIKA mereka bertanya lebih lanjut bagaimana persisnya, pihak keluargaku memberikan jawaban yang berbeda seakan terkesan menyembunyikan sesuatu. Nenekku berkata bahwa almarhum sudah tidak sadarkan diri sejak kali pertama ditemukan subuh ketika ia hendak bersiap ke surau. Sedang ibuku mencoba meyakinkan semua orang bahwa kepala almarhum membentur sanding bak mandi meski kenyataannya tidak ada bekas luka. Dan ayahku seakan memperumit semua. Dengan percaya diri ia bilang bahwa almarhum terkena serangan jantung, persis seperti almarhum kakekku. Ini yang paling konyol dari semua, kukira, sebab ayah ibu dan ayah paman berbeda. Di sini jelas sekali terlihat bahwa tak ada seorang pun yang benar-benar mengenal paman, termasuk aku. Seharusnya akulah yang paling terpukul atas kepergiannya. Tapi, entah kenapa aku merasa begitu hampa. Tak mengerti apa-apa. Bahkan untuk sekadar meneteskan air mata pun aku tak sanggup.

Waktu itu hari Jumat. Tak ayal banyak orang menyarankan supaya almarhum dimakamkam selepas salat Jumat. Namun, keluargaku bersikeras secepat mungkin. ”Lebih baik disegerakan. Lagi pula tak ada yang kami nanti,” kata ibuku. Sebelum pukul sepuluh jenazah selesai dikebumikan. Aku menghitung, hanya ada sembilan orang yang menghadiri pemakaman. Dua di antaranya tukang gali kubur.

Tidak ada isak tangis mengiringi kepergian Paman Gordi seolah-seolah kami tidak kehilangan siapa-siapa. Keesokan harinya ibu sepenuhnya lupa bahwa masih dalam kondisi berkabung. Hal itu terbukti tatkala para tetangga melayat ke rumah membawa beras dan mereka nyaris pulang bila tidak segera ditahan oleh nenek. Bagaimanapun, hidup terus berjalan dengan atau tanpa kehadiran Paman Gordi.

Paman Gordi adalah kakak dari ibuku. Meski begitu, ibu terlihat lebih dominan sebagaimana terhadap kami serumah. Ibu tak segan-segan menyuruh Paman Gordi bila ia di rumah. Gor, pangkas dahan mangga itu sekalian bersihkan atapnya! Gor, pergi belikan gas di kedai. Sapu halaman! Cuci piring! Jemput Ian ke sekolah! Paman Gordi selalu menurut. Ia tidak pernah mengeluh, apalagi menolak –paling tidak belum pernah terjadi di depan kami.

Paman Gordi memiliki wajah yang agak runyam. Kepalanya besar ditopang leher yang kecil serupa permen tangkai berbentuk hati. Letak matanya ada di sisi paling ujung tengkorak dengan tulang hidung bongok sebagai pemisah. Lidahnya terjulai sedikit keluar. Ketika bicara ia senantiasa mengulum-ngulum bibir bagian bawah untuk mengurangi kadar liur yang terbuang. Jakunnya besar serupa induk bekicot menempel di bawah dagu.

Paman Gordi tidak idiot sebagaimana banyak orang menganggap demikian. Ia dulu pernah jadi mahasiswa dan lulus sebagai sarjana. Nenek sempat ragu apakah menguliahkannya keputusan yang tepat. Ibu bahkan terang-terangan menentang permintaan konyol itu mengingat jurusan yang diambil; perbankan. Tetapi, Paman Gordi berhasil membuktikan dengan meraih gelar itu dalam waktu empat tahun.

Setahuku Paman Gordi belum berkeluarga dan ia juga belum punya pekerjaan tetap. Selepas wisuda paman tinggal bersama seorang kerabat di provinsi sebelah selama beberapa saat kemudian memutuskan merantau ke Jawa selama tujuh atau delapan bulan, aku tak begitu ingat, sebelum akhirnya pulang dan hilir mudik di terminal. Ketika di rumah paman selalu tampak murung. Aku tak tahu apakah hal tersebut berkaitan dengan struktur wajah yang memaksanya terlihat demikian atau justru sebaliknya.

Usiaku sebelas tahun dan aku masih tidur bersama orang tuaku. Jelas bukan sesuatu yang harus dibanggakan. Sejak kecil aku punya kebiasaan kencing tengah malam. Orang tuaku telah berkali-kali mengingatkan agar selalu ke kamar mandi sebelum tidur demi meredam kebiasaan itu. Namun, entah bagaimana aku selalu terbangun dan berjalan menuju kamar mandi sendirian. Usiaku sebelas tahun, tapi kukira aku sudah cukup dewasa untuk tahu apa yang mereka lakukan tengah malam.

Suatu kali Paman Gordi bertanya mengapa aku terlihat lesu. ”Gigiku sakit,” jawabku bohong. Sejujurnya aku merasa malu mengutarakan ketidaknyamananku sekamar lagi bersama mereka. Tiba-tiba saja keesokan harinya Paman Gordi sibuk memindahkan barang-barang dari kamarnya ke gudang. Lalu ia menata kamar itu serapi mungkin dan menyerahkan kunci padaku. ”Penting bagi anak perempuan punya kamar sendiri agar tidak keseringan sakit gigi,” guraunya tersenyum seakan bisa membaca keinginanku. Aku senang sekali. Aku semakin yakin bahwa kami memiliki ikatan kuat sebab boleh dikatakan ialah satu-satunya orang di rumah yang benar-benar perhatian padaku.

Pada libur akhir tahun lalu, Paman Gordi menghabiskan hari-harinya bersama kami. Aku sengaja memakai kata itu ketimbang mengasuh agar terdengar pantas. Ibu sibuk menolong ayah di toko. Barangkali ibulah yang menyuruh Paman Gordi menjaga kami selagi ia bekerja. Sementara nenek belakangan sibuk dengan grup pengajian yang setiap hari mengadakan pertemuan membahas surga dan neraka.

Kami cuma mengisi waktu menonton SpongeBob yang ditayangkan tiga kali sehari di televisi. Paman Gordi begitu menyukai Squidward tanpa alasan yang kumengerti. Ketika ia bilang cumi-cumi menyebalkan itu seniman hebat, kami –aku dan Ian– yang jarang sepakat dalam banyak hal kompak tertawa mengejek. ”Yang benar saja!” kataku seraya terkekeh. Ian segera ke kamar mengambil buku gambar, lalu memperlihatkan hasil gambar terbaiknya dan bilang betapa hebatnya ia menggambar daripada Squidward. Kalau boleh jujur keduanya sama saja; sama jeleknya.

Paman Gordi percaya bahwa kelak Ian akan jadi pelukis hebat. ”Tidak boleh berbohong pada anak kecil! Dosa, kata nenek!” ucapku mencibir. Paman Gordi lalu mengusap kepala Ian untuk meyakinkannya bahwa ia bersungguh-sungguh. Akibatnya, beberapa hari kemudian tak ada yang bisa menghentikan Ian berjalan dengan dada membusung seraya sesekali melempar senyum pongah padaku.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore