Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 1 Oktober 2023 | 18.41 WIB

Akibat Bergosip di Polindes

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Kurangnya sarana dan prasarana itulah yang menjadi salah satu faktor kenapa Ibu Bidan Esi Manoso enggan tinggal bersama keluarganya di polindes Desa Naijuf. Ia lebih memilih tinggal di rumahnya di kota kabupaten, meski jarak tempuh dari rumahnya itu ke polindes sekitar dua jam lebih.

***

Ibu Bidan Esi Manoso sebetulnya orang baik. Saya berharap begitulah sampai nanti beliau akan dikenang. Ia selalu ramah kepada siapa saja, juga bertangan dingin saat menolong ibu-ibu melahirkan. Dengan sarana dan prasarana di polindes yang amat terbatas, ia dapat menolong para ibu hamil melewati masa kritis. Belum lagi terkadang ia mesti dihadapkan dengan kondisi ibu hamil yang memiliki gangguan kesehatan seperti HB rendah atau kekurangan gizi. Bayi-bayi dengan berat tak sesuai standar, bahkan yang hampir sekarat ketika lahir, semuanya selamat berkat tangan dingin Ibu Bidan Esi Manoso.

”Jangan takut saat melahirkan, ini sudah kodrat kita. Hidup dan mati di tangan Tuhan. Asal kita berusaha dan berdoa serta berharap Tuhan hadir di sini, di tengah segala keterbatasan polindes ini untuk menyelamatkan ibu dan bayi yang baru lahir. Siapa tahu kelak salah satu dari anak-anak itu terpilih menjadi kepala desa dan bisa memperbaiki nasib desa ini,” begitulah kata-kata yang sering terucap dari mulutnya di tengah erangan para ibu yang hendak melahirkan.

Hanya, ia terlalu mudah diprovokasi untuk ikut serta bergosip. Tentunya dari dialah, ya dari siapa lagi, semua orang kemudian jadi tahu mama-mama mana yang malas mandi. Atau puting si ibu ini bau tembakau, bahkan anunya istri si itu yang macam semak belukar. Rahasia pasien yang seharusnya tak boleh diungkapkan itulah yang suatu hari pernah membuat polindes diserbu oleh keluarga bapa-ibu ani saya.

”Jadi bidan kok mulut macam baskom!” kata bapa ani saya dengan wajah merah padam selepas kejadian mereka melabrak Ibu Bidan Esi. Tanta Theresia, adik kandung ibu ani saya, bahkan sampai menjambak rambut Ibu Bidan Esi saking gemasnya pada gosip yang telah mempermalukan keluarganya itu. Untung saja ketika itu Pak Sholeh atau yang lebih akrab disapa Bapa Bhabinkamtibmas kebetulan lewat dan bergegas melerai.

Apa rahasia ibu ani saya yang dibeberkan oleh Ibu Bidan Esi Manoso kepada mama-mama yang setiap siang nongkrong di teras polindes? Tentu saja itu tidak patut saya ungkapkan.

Namun selepas kejadian tersebut, keluarga ibu ani saya tidak pernah lagi mau berurusan dengan polindes desa kami. Untuk segala hal yang berhubungan dengan kesehatan maupun pemeriksaan rutin bayi, mereka lebih memilih pergi ke rumah sakit daerah di kota walaupun harus menempuh jarak belasan kilometer.

Ya, di Desa Naijuf, melewati hari tanpa gosip barangkali seperti makan nasi tanpa kerupuk bagi orang Jawa. Hambar. Karena itu, tidak heran jika semakin hari kaum mama yang berkumpul di teras polindes itu pun semakin banyak. Seolah-olah telah turun atas para mama itu ayat yang berbunyi: ”Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul di polindes, di situ gosip ada di tengah-tengah mereka.”

Pelesetan dari Matius 18:20 ini pernah diucapkan oleh Romo Siprianus dalam sebuah kunjungan pastoral dengan maksud menyindir. Namun ujung-ujungnya dirinya malah ikut menjadi korban keganasan mulut para mama umat parokinya itu.

Salah satu gosip yang paling santer adalah bahwa semasa masih diakon, Romo Siprianus pernah terlibat hubungan asmara dengan seorang mahasiswi. Bahkan dikabarkan bahwa mahasiswi itu kemudian hamil. Benar atau tidak hal ini, tak seorang pun dari umat Paroki Santa Anastasia yang berani memastikan atau menyelidikinya.

***

Tentu tidak semua ibu di kampung saya suka bergosip, apalagi ikut duduk nongkrong selama berjam-jam di teras polindes. Ibu Maria Magdalena, guru sejarah di SMP terdekat yang rumahnya bersebelahan dengan polindes, contohnya. Ia adalah salah satu mama di kampung kami yang paling muak dengan perkumpulan di teras polindes itu.

”Harusnya kalian membekali dan melatih mama-mama itu dengan keterampilan membuat kue, menenun, atau membuka usaha kecil menengah! Bukannya manjakan masyarakat dengan bantuan uang tunai. Itu sebabnya mereka jadi malas dan kerjanya hanya bicarakan keburukan orang lain!” demikian komentar pedasnya kepada Oom Piet, paman saya yang menjadi salah satu pelaksana program keluarga harapan (PKH) di kampung kami.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore