Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 30 Juli 2023 | 17.11 WIB

Merpati di Bumi sang Nabi

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Payung-Payung besar itu menyerupai pohon-pohon kurma yang kering, merekah bergantian seperti jamur. Tanah gersang mulai digoreng matahari. Sebentar lagi, saat ratusan peneduh di depan dan samping masjid itu paripurna, kipas-kipas di pilar akan mengembuskan titik-titik air. Desau yang lembut, bisikan yang timbul tenggelam dalam penantian para peziarah. Suhu udara di luar sekitar 40 derajat. Cuaca garing, terasa nikmat saat udara basah tergiring.

SAMBIL menunggu waktu salat tengah hari, lelaki itu keluar menuju pintu nomor 339. Area yang selalu diingat karena dari situ terdapat jalan lurus menuju penginapan Emaar Aldiyafa Hotel di sudut persimpangan kedua, bersebelahan dengan Ruve Almadinah dan Al Haram. Di depan gerbang masjid dia berdiri. Di tempat ini pula dia biasa menanti istrinya saat akan kembali ke penginapan karena jemaah laki-laki dan perempuan dipisah saat dalam masjid.

Langit kerontang, asap tipis-tipis mengapung seperti kapas. Dipandangnya Hotel Dar Al Taqwa dan Al Zahbi. Toko-toko kecil seperti Arabian Oud dan Dar Alzaman ada di deretan bawah. Ada hamparan tanah lapang di halaman bangunan-bangunan itu, sebagai pembatas dengan area masjid. Tiba-tiba lelaki itu mengeryitkan mata. Embusan udara panas terasa menerpa wajahnya, dibarengi gulungan-gulungan debu.

Ada hasrat yang menggiring lelaki itu untuk duduk di pinggir lapangan. Sementara istrinya, jika tidak di dalam masjid, memilih berjalan sendiri melihat-lihat abaya dan perhiasan di deretan toko Sahwat Almadina, Milano, Sahaab Alandalus, serta Soir. Lelaki itu kembali melihat ke arah masjid. Payung-payung berwarna tulang itu tampak sudah paripurna mekarnya.

Dan inilah yang membuat lelaki bernama Daroji itu suka duduk-duduk di pinggir lapangan. Dia senang ada burung-burung merpati selalu datang dan pergi. Mula-mula hanya beberapa ekor, tapi saat ada yang menabur makanan, burung-burung lain berbondong turun, jumlahnya puluhan, ratusan, bahkan bisa ribuan. Memang ada yang menjual biji-bijian untuk makanannya. Para peziarah memberi makan merpati itu karena berjasa dalam kisah-kisah nabi sehingga dilarang diburu dan dibunuh. Hewan-hewan terkesan jinak itu beranak pinak di celah-celah bangunan. Jumlahnya terus bertambah, melebihi jumlah penduduk di wilayah ini.

Daroji menemukan dunianya. Dia heran melihat burung merpati dalam jumlah berlimpah, akrab dengan para peziarah. Bumi makam sang nabi memberi kebebasan pada burung-burung ini. Cerita yang didengar Daroji, nanti di kota tempat menunaikan rukun haji, jumlah merpati juga berlimpah. Dia belum saatnya ke sana. Soal burung, istrinya sering menegur. Saat diajak cepat-cepat menuju masjid, Daroji sering menghentikan langkahnya. Dia terpesona melihat sekelompok merpati yang berlawatan di ketinggian langit, terbangnya sangat indah.

”Ccccck…hebat!” Daroji mendecak.

”Burung lagi, burung lagi…” sang istri menarik lengannya. ”Azan sudah selesai. Kita harus salat arbain empat puluh waktu. Tidak boleh bolong, Pak.”

”Masjid sudah dekat,” kata Daroji enteng.

”Ya, tapi panas kenthang-kenthang begini. Kakiku sudah perih pecah-pecah.”

Daroji memang penggemar merpati. Karena itu, awalnya dia enggan untuk menemani istrinya menunaikan ibadah haji. Dia khawatir belasan pasang burungnya telantar saat ditinggal pergi dalam waktu yang lama, bahkan kalau dilepas bisa minggat atau mati kelaparan. Para joki yang selama ini menemani, Yadi dan Mardi, tak dipercayai sepenuhnya. Mereka bisa bersekongkol mencuri telur keturunan merpati juara dan dijual ke orang lain.

”Terlalu cinta pada burung, sampai ibadah dikalahkan,” kata istri Daroji.

”Bukan dikalahkan, tapi mencari waktu yang tepat!” sergah Daroji. ”Merpati juara harus dirawat sendiri. Sudah ditawar mahal sekali.”

”Kita sudah makin tua, Pak. Bertahun-tahun menabung. Yang antre banyak sekali. Masak tiba gilirannya harus ditunda gara-gara burung dara?” nada istri Daroji makin tinggi.

”Ibadah harus sepenuh hati, tidak boleh dipaksa.”

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore