
Cover buku
Oleh AHMAD RIYADI
Oleh sebab sensitivitas stasiun televisi terhadap keanekaragaman geografis absen, bukan tidak mungkin terjadi keterabaian di luar daerah Jakarta dan Pulau Jawa lainnya.
KRISHNA Sen pernah menyebut media sebagai penanda setiap transisi monumental dalam memori kehidupan. Setelah masa panjang Orde Lama dan Orde Baru yang menjadikan televisi dan radio sebagai corong absolut kekuasaan, reformasi menjadi imajinasi lahirnya keberagaman.
Imajinasi itu kemudian dikristalisasi melalui penciptaan struktur informasi yang relatif inklusif. Regulasi dibuat lebih demokratis, perizinan memperhatikan keadilan, lalu dibentuk badan independen untuk mengawasi lalu lintas informasi, termasuk partisipasi publik yang lebih aktif.
Televisi dan radio, setelah purnatugas Orde Baru yang tumbuhnya seperti jamur di musim hujan, diharapkan benar-benar mampu menjadi ruang publik, di mana setiap perbedaan dihadirkan untuk menginformasikan keunikan budaya, cara pandang, hingga gagasan. Kendati dalam perjalanannya, imajinasi itu seperti mimpi basah.
Sebab, dalam praktiknya, televisi dan radio sebagai media arus utama hanya dikuasai oleh segelintir pemodal. Merlyna Lim mengatakan tiga belas kelompok media mengontrol semua saham televisi komersial nasional. Disusul Yanuar Nugroho dkk, menyebut dua belas kelompok media besar mengontrol hampir semua kanal media Indonesia, termasuk media cetak, penyiaran, dan media daring (Ross Tapsell, 2019).
Dan, seperti biasanya, perubahan teknologi seperti digitalisasi dan konvergen tidak mengubah banyak struktur penyiaran di Indonesia. Digitalisasi, bagi Tapsell, memungkinkan banyak perusahaan media besar di Indonesia membangun, tumbuh, dan menjadi lebih kaya. Sementara perusahaan kecil berjuang untuk bertahan secara finansial atau dicaplok oleh perusahaan-perusahaan yang lebih besar.
Menilik cengkeraman bisnis media –termasuk televisi– yang terkonsentrasi begitu kuat, adalah wajar homogenitas menjadi karakter dalam setiap program siaran di layar kaca. Buku Kamuflase Tayangan Televisi: Membongkar Kedok Keberagaman dalam Kelindan Kepentingan Ekonomi-Politik Pemilik Media (2024) mengupas kelindan kepentingan politik dan ekonomi ikut campur tangan menentukan –lebih tepatnya memanipulasi– keberagaman di layar televisi.
Hellena Souisa, penulis buku ini, secara jujur mengatakannya dengan bukti-bukti empiris. Dalam menulis buku ini, sosok yang sudah malang melintang di berbagai media nasional seperti ANTV, TPI (sekarang MNC TV), SUN TV, dan Kompas TV itu mengumpulkan data-data yang sulit dibantah bahwa imajinasi keberagaman di layar kaca hanya kamuflase, sebatas kedok yang menyembunyikan kelindan kepentingan ekonomi-politik.
Kamuflase Keberagaman
Hellena melihat isi program siaran televisi –utamanya berita– dari tiga jenis keberagaman, yaitu keberagaman geografis, keberagaman demografis, dan keberagaman sudut pandang. Keberagaman geografis mengacu pada pendapat Van Cuilenburg dan Iosifidis yang mengatakan keberagaman geografis mencakup unsur-unsur geografis seperti lokal, pedalaman, nasional, atau internasional.
Temuannya menjelaskan bahwa stasiun televisi memiliki lebih banyak berita dari ibu kota daripada luar ibu kota. Berita dari Jakarta dan Pulau Jawa disebut paling dominan ketimbang daerah lain. Dari total 17.282 berita yang dianalisis, didominasi oleh Jakarta (6.461), luar Indonesia (2.235), Jawa Barat (2.009), Jawa Timur (1.672), dan Jawa Tengah (1.081).
Data ini seperti relevan dengan beberapa data survei yang menyebut publik mempunyai keterjarakan informasi dengan pelaksanaan Pilkada 2024. Ramainya pemberitaan Pilkada 2024 hanya terpusat di Jakarta, Jawa Barat, hingga Jawa Timur, sementara cakupan geografis yang lain sangat minimalis.
Pemberitaan tentang Pilkada 2024 bukannya tidak ada, tapi cakupan geografisnya diabaikan. Oleh sebab sensitivitas stasiun televisi terhadap keanekaragaman geografis absen, bukan tidak mungkin terjadi keterabaian di luar daerah Jakarta dan Pulau Jawa lainnya.
Sementara keberagaman demografis mencakup kelompok minoritas dan kelompok terpinggirkan. Hellena fokus pada representasi gender di dalam penelitiannya. Analisis dari temuannya menjelaskan bahwa laki-laki lebih dominan ketimbang perempuan saat menjadi narasumber.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022