Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 10 Maret 2024 | 17.50 WIB

Nyala Api di Serban Syekh Lemahbang

Cover Buku - Image

Cover Buku

Syekh Siti Jenar dan Sepinggan Puisi dalam Kobaran Api mendaras problem diskriminatif antarkelompok keagamaan. Mengambil bentuk naratif, tapi tak cukup kuat dikatakan sebagai ciri khas. Tapi, yang penting digarisbawahi dalam kumpulan puisi ini ialah posisinya sebagai narasi tanding.

KETIKA kuasa mengubur kasih di bawah nisan, cinta adalah api yang senantiasa membakar. Syekh Siti Jenar dan Sepinggan Puisi dalam Kobaran Api merupakan naskah Sayembara Manuskrip Puisi DKJ 2023 yang menarik perhatian juri.

Bukan sekonyong-konyong, melainkan karena naskah ini masih mungkin dibaca sebagai media refleksi. Tak semagis kitab suci, tetapi puisi selalu memiliki ruang sulap dan ajaibnya.

Dibagi dalam dua suhuf, puisipuisi dalam buku ini memiliki dasar pijakan yang sama, gaungnya ialah toleransi. Suhuf pertama penuh dengan narasi Syekh Siti Jenar, diperlukan pengetahuan lebih tentang riwayat Syekh Lemah Abang tersebut untuk melihat garis hubung antara teks dan konteks, tetapi itu tidak terlalu menjadi sandungan karena masih mungkin dinikmati sebagai puisi.

Pembacaan suhuf pertama berangsur dalam napas yang cukup berbeda. Pada mulanya, persona Syekh Tanah Merah dalam suhuf pertama mengambil posisi sebagai oposisi atau narasi tandingan. Seperti dalam puisinya yang berjudul Petani, ia lebih dekat dengan kawula alit, hamba sahaya, orang-orang miskin papa, dan kelompok-kelompok marginal.

”Meski silsilahku hingga nabi,tidak salah menjadi petani berteman babi, umbi, dan ubi”

Kalau revolusioner dianggap terlalu ndakik, paling tidak suhuf pertama telah cukup membakar banyak api. Menjelang bagian tengah sampai akhir suhuf, aroma sufistik menguar pekat.

Pada bagian ini pula bentuk-bentuk puisi yang sebelumnya naratif, sebagian mengambil bentuk mantra. Repetisi demi repetisi dalam puisi menawarkan sesuatu yang liyan, yang transenden, yang hubungannya ke atas. Dalam puisi Aji Pameling, bentuk-bentuk repetitif tersebut tampak lebih tebal ketimbang dalam puisi yang lain,

”Hening. Hening. Hening. Hening. Hening. Hening. Hening. Hening. Hening. Hening.

Kun fayakun…ingsun sejati…”

Suhuf pertama berhasil menggenapi hubungan antarmanusia dan Tuhan, hablun minannas dan hablun minallah.

Beda suhuf pertama, beda suhuf kedua. Pada suhuf ini, persona Syekh Siti Jenar tak setebal suhuf sebelumnya. Ia masih hadir, tetapi dalam wujud yang lain.

Pengalaman baca antara suhuf pertama menuju suhuf kedua juga laiknya sebuah time travel. Jika suhuf pertama membentang di tahun-tahun Kerajaan Demak, suhuf kedua membawa pembaca menuju kondisi negeri mutakhir. Meski bentang kewaktuannya cukup kontras, konflik yang terjadi ternyata tak jauh berbeda. Perkembangan zaman tak cukup mahir membesarkan toleransi. Polemik tersebut ditangkap dalam puisi-puisi suhuf kedua dengan sekup yang lebih universal.

”Tolong kecilkan volume suara…Kenapa semakin keras? Situ waras? Gak terima? Pindah saja ke goa!”

Dalam suhuf kedua dapat ditemukan narasi-narasi yang spesifik dan beragam seperti Hindu-Buddha meski dalam suhuf pertama juga ditemukan, semata-mata karena ia termasuk salah satu riwayat hidup Syekh Siti Jenar ketika berguru pada Samsitawratah, Kristen dan Ahmadiyah, seperti dalam puisi Ayat & Kursi, Ayat-Ayat Api, Dilarang Ibadah pada Hari Ahad, dan puisi lainnya. Selain itu, suhuf kedua menampilkan dominasi ideologi sebagaimana pada suhuf pertama untuk mengatakan bahwa kebenaran tak selalu ada pada ideologi kelompok dominan.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore