Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 25 Februari 2024 | 03.53 WIB

Berbagai Cara Menjadi Diktator

Cover Buku - Image

Cover Buku

Pemilu

Ketika kediktatoran baru mau dimulai di negara demokratis, mau tidak mau jalan ini perlu ditempuh; betapa menyebalkannya. Lagi pula, seperti yang ditulis Mikal, ”Kalau kau melakukannya dengan benar dan mendapatkan hasil yang kau inginkan tanpa banyak kehebohan, maka pemilu akan menambah legitimasimu.” (hal 35)

Dengan nada kocak yang polos, seolah sungguh-sungguh sedang mendikte tips dan trik, Mikal menjabarkan cara mencurangi pemilu. Ballot stuffing (mencurangi kotak suara) adalah trik paling dasar. Dalam bentuk ekstremnya, ballot stuffing bisa mengingkari hukum matematika.

Mikal menjadikan Putin, diktator Rusia, sebagai contoh. Dalam Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2012, di daerah pemilihan (dapil) Grozny, dia mendulang 1.482 suara. Padahal, dapil itu hanya terdiri atas 1.389 pemilih. Artinya, Putin menang 107 persen di sana.

Ajaibnya, taktik melampaui kodrat ini sudah diterapkan di Indonesia. Pilpres 2024 didapati banyak kasus penggelembungan suara. Di Tempat Pemungutan Suara 34 Rengas Ciputat Timur, misalnya, salah satu kandidat digenjot 1.000 persen perolehannya, dari 86 ke 886 suara.

Berbagi

Mikal sadar bahwa pasti banyak yang cemburu dengan diktator. Begitulah Mikal menabalkan bukunya bukan pengembangan diri sepele sebab dia mampu mengantisipasi masalah yang baru saja muncul di kepala pembaca.

Pemilu jujur saja tidak bikin pesaing puas, apalagi yang curang. Untuk itu, sebagai penguasa tunggal, janganlah pelit. Namun ingat, tetap selektif. Itulah prinsip dasar amalan bab ”Berbagilah (dengan Orang-Orang Dekatmu)”.

Orang dekat ini bisa keluarga, rekan politik, atau mitra bisnis. Hubungan saling menguntungkan akan terwujud. Kekuasaan diktator bisa langgeng dan para kerabat bisa hidup sejahtera. Istri diktator Rumania sudah membuktikannya dengan sukses bergelimang doktor kehormatan meski putus sekolah di usia 14 tahun. Atau foya-foya bejat para pangeran Arab yang membuat pesta narkoba serta memelihara macan jadi tampak culun belaka.

Semangat berbagi ini juga yang jadi rahasia sukses Pak Harto dalam memelihara bahtera rumah tangga bernama Orde Baru-nya. Dia bagikan kekayaan negara untuk rakyatnya. Ralat, rakyat terdekatnya. Perwira kesayangan dapat kilang minyak, rekan bisnis dapat konsesi, dan politisi dapat kursi. Adil kan?

Begitulah amal saleh yang selalu cocok dipakai di negeri gotong royong ini. Boleh saja negara pakai cara-cara demokratis seperti pengadilan independen dan pemilu. Asal prinsip berbagi (dengan orang-orang terdekat) terus ditegakkan, jalan menuju kediktatoran tetap terjaga.

Kalau dibaca sebagai hiburan, buku ini bakal sukses bikin rahang kram. Irwan Syahrir sukses menerjemahkan lawakan Mikal –langsung dari bahasa Norwegia– dengan berterima. Mau dijadikan pengetahuan sepintas bahwa hanya imajinasi yang membatasi kelakuan diktator, sangat cocok.

Namun, kalau disimak saksama sebagai nubuat masa depan kelam Indonesia sebab kemungkinan besar seseorang sudah mengamalkan kiat-kiat menjadi diktator ini, niscaya, mulas-mulas itu perut. (*)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore