
Cover buku
Buku Parasit dan Cerita-Cerita Lain dari Kampung Bantaran Kenangan menceritakan kehidupan masyarakat dari kampung miskin kota di Surabaya, yang dikisahkan melalui citra anak-anak dan dunianya.
MEMBACA kumpulan cerita karya Aris Rahman P. Putra ini terasa tak kalah serunya dengan menonton film drama. Banyak konflik dan plot twist yang mengganggu pikiran sekaligus menggugah kemanusiaan.
Kisah bermula dari prolog cerita yang menjelaskan sejarah kampung yang ”Pada mulanya hanyalah hamparan rawa, hingga seorang veteran perang kemerdekaan, dengan sebilah sabit, membabati rerumputan dan semak-semak seorang diri” dan satu per satu sanak saudara datang, membangun rumah semipermanen, membentuk sebuah perkampungan di bantaran kali yang dikenal dengan Kampung Bantaran Kenangan.
Buku ini berisi sembilan cerita yang berisi tema yang berbeda, namun sesungguhnya saling berkaitan. Cerpen pertama berjudul ”Pengutil” menceritakan tiga anak pencuri gembok yang mengincar rumah kosong di kawasan perumahan elite yang malangnya harus berakhir nahas. Sedangkan cerita berjudul ”Gembelengan” sebagai nama dari tokoh utama yang disematkan oleh teman-temannya. Bocah gembelengan ini dijauhi lingkungannya dan kerap mengalami perundungan dan kekerasan di sekolah.
Mengetahui hal itu, seorang guru berusaha mendekati bocah tersebut. Guru tersebut mendapatkan jawaban yang tidak disangka. Bahwa rasa sakit akibat pengeroyokan berkali-kali itu bertransformasi menjadi ”perasaan enak.” Akhir cerita pun berakhir dengan peristiwa kekerasan yang mendalam.
Memori Anak-Anak Kampung Miskin Kota
Dalam kajian sosiologi sastra, sebuah karya merupakan sebuah dokumen dan arsip sosial budaya sebagai sebuah realitas pada masa tertentu di masyarakat tertentu. Kehidupan masyarakat yang tinggal di suasana perkampungan padat pendatang, rumah bedeng yang berjejalan, serta difungsikan menjadi tempat pembuangan sampah di Surabaya. Cerita-cerita ini dihasilkan melalui karya Aris sebagai tiruan sebuah kenyataan yang difiksikan. Pembaca pun akan meyakini bahwa simpul utama problem sosial dan manusia di sekitarnya berakar dari anak-anak.
Misalnya, dialog-dialog sesama tokoh anak maupun relasinya dengan orang dewasa dilontarkan dengan natural, lugas, polos, dan mengejutkan. Seperti pada dialog di cerita ”Planetarium”: ”Aku juga bakal suka baca buku selain buku pelajaran kalau punya buku kayak gitu, Ndra. Sayangnya di rumah cuma ada koran lampu merah!”, ”Sama, Har. Pantes kita gak bisa bedain bintang dan planet, orang bacanya cuma berita begalan!” (hal 79)
Selain tokoh anak, citra para tokoh dan memori yang dibangun berkaitan dengan simbol budaya populer yang dibentuk oleh orang dewasa seperti kaset Rhoma Irama, film ”pas en purius”, koran lampu merah, juga buku cerita anak dalam cerpen ”Nay” sebagai salah satu tokoh dari keluarga kaya yang kebetulan berwatak baik hati. Diceritakan, tokoh anak bernama Ndra meminjam buku dari Nay untuk tugas resensi di sekolah. Cerita ini lalu beralih pada ”cerita lain” dari buku yang dibaca Ndra yang berjudul: ”Kami harus pulang ke rumah” dan ”Pertarungan Todung Panjang melawan Todung Pendek”. Aris menunjukkan kepiawaian tekniknya membuat ”cerita dalam cerita” dengan menarik.
Pada irisan lain, simbol budaya populer tersebut juga berelasi dengan pekerjaan para tokoh dewasa sebagai tukang angkot, pemulung, pelayan warung makan, guru, bandar togel, sopir truk, juga pembantu rumah tangga. Bahkan, keseluruhan cerita tersebut saling berkaitan membentuk universe Bantaran Kenangan. Tidak selalu soal penderitaan, tapi juga cara orang-orang di dalamnya berjuang, bertahan, bersiasat, dan berkhayal.
Selain itu, yang menarik dari karya Aris adalah karena di sembilan cerita tersebut, Aris membubuhkan nama sutradara fim seperti Kore-eda, Bong Joon-Ho, Yosep Anggi Noen, Steven Spielberg, dan sutradara lainnya. Selain sebagai penulis, Aris adalah seorang pencinta film selain musik, buku, dan seni bela diri muay Thai.
Pada buku ini, malangnya kita harus menemukan bahwa jurang kemiskinan dan pertentangan kelas sosial mampu meruntuhkan Kampung Bantaran Kenangan yang dipaksa berganti wajah menjadi perumahan elite.
”Tangisan pecah dari segala penjuru kampung. Amarah menyeruak. Kemuraman menyelimuti setiap jengkal tanahnya. Tapi tak banyak yang bisa dilakukan. Dalam waktu sehari saja, semuanya sudah rata dengan tanah.” (hal 83)
Akhirnya, bagaimana karya ini dihasilkan berkaitan erat dengan kemiskinan yang menciptakan suatu subkultur tersendiri, terutama kedudukan personal dan sosial penulisnya sendiri yang menyimpan memori, emosi, dan diamalkan melalui fiksi. Aris sebagai penulis kelahiran Sidoarjo adalah pencerita yang baik. Dibandingkan kumpulan cerpen sebelumnya berjudul ”Riwayat Hidup Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive” (2019) yang secara acak mengambil berbagai tema. Pada kumpulan cerita ini, Aris sudah bisa disebut berhasil menemukan dirinya sendiri. Sekaligus, mewakili cerita kehidupan yang berkelindan antara memori nyata dan fiksi di sebuah kampung miskin kota yang tinggal kenangan. (*)
---

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
