
Cover Buku
Memahami keberagaman mitos dari banyak tokoh dalam kumpulan puisi ini tentu menggambarkan sumbu dan fondasi identitas suku Madura.
---
PAUL Ricoeur dalam The Symbolism of Evil sudah mewanti-wanti bahwa sejarah adalah proses produksi yang rentan terhadap agenda politik dan kapital. Sedangkan untuk menjadi bagian dari sebuah bangsa, memusat dan menyasar identitas kolektif, sejarah adalah satu dari banyak unsur terbentuknya identitas bangsa.
Pellauer mengemas ide Ricoeur dalam bukunya, Ricoeur: A Guide to the Perplexed, bahwa sejarah adalah bentukan inti sari realitas dan mitos. Itu berarti mitos bukan suatu pengibulan, bukan semata-mata cerita rekaan.
Royyan Julian dalam himpunan puisi Uroboro Syekh Kholil Bangkalani menakhlikkan mitos dalam serumpun konsep ontologi. Dari wafatnya Trunajaya, Bangsacara, dan Ragapadmi, rukuknya Jaka Marsada, kelahiran Pangeran Segara, hingga Syekh Zubair dan Syekh Kholil Bangkalani, buku ini adalah kumpulan legenda yang menjelma puisi naratif. Memahami keberagaman mitos dari banyak tokoh dalam kumpulan puisi ini tentu menggambarkan sumbu dan fondasi identitas suku Madura.
Apakah puisi-puisi ini sekadar terhimpun? Tidak, puisi pertama adalah dua kaki dengan terompah terpasang, tahu akan ke mana dan kapan harus melepasnya.
Dalam ”Totem”, puisi pertama, muncul destruksi yang cukup menantang eksistensi. Ricoeur menandai ini dengan peristiwa forgetting. Ricoeur selalu memandang konteks, dan dalam kumpulan puisi Royyan Julian ini destruksi yang saya maksud bukan forgetting karena sekularisasi seperti faktor utama destruksi paling dramatis Ricoeur.
Destruksi tidak pernah muncul manunggal. Dalam ”Totem”, ia muncul dalam kondisi bukti sejarah yang rusak tak terawat dan tidak dipedulikan. ”Tetapi kami telah lupa, sebab kitab silsilah kami dikikis rayap dan waktu: garis nasab kami terpatah abad berlalu.” (hal 7)
Polivalensi atau keberagaman mitos dalam buku ini tidak hanya membuat saya tahu tentang sejarah dan mitos Madura, tapi kemanusiaan yang menyeluruh. Memang betul impresi Ricoeur, identitas bisa diresapi dari usaha kita memahami berbagai hal yang asali.
Mytho-poetical nucleus, apabila saya terjemahkan dengan bebas sari pati mitos-puisi, adalah bentuk dari distribusi mitos dalam sebuah negara yang penuh dengan keberagaman suku dan budaya. Dengan menyorot mytho-poetical nucleus, kita dapat melihat bahwa masyarakat tertentu memiliki komponen sejarah yang berbeda.
Manifestasi ini dapat dengan jelas dirasakan dalam puisi ”Sayyid Ahmad Baidawi” dan ”Raden Ayu Sa’ini” tentang rahim, Pencipta, penciptaan, dan agraria. Dua puisi ini saja sudah memberikan arahan tentang fondasi penting pembentuk identitas, apalagi 78 puisi lainnya yang terhimpun dalam buku ini.
Puisi-puisi dalam buku ini kebanyakan memang pendek, tapi tidak tergesa-gesa. Berbeda dengan Corpus Ovarium karya Royyan Julian sebelumnya yang lebih panjang dan memiliki banyak ruang untuk menyambung kisah.
Yang menarik dari Uroboro Syekh Kholil Bangkalani, puisi-puisi bagian akhir mengungkap pola tersembunyi sehingga makna-makna simbolik dari mitos yang belum tereksplorasi muncul. Dalam pembacaan kumpulan puisi Uroboro Syekh Kholil Bangkalani, saya juga menemukan gaya yang cukup aman dan kerap digunakan penulis-penulis besar lainnya untuk mengarang, indirectness.
Pendek kata, Royyan Julian bukan Syekh Kholil Bangkalani, Raden Ayu Kumbang, apalagi Nabi Khidir. Joseph Conrad dan Virginia Woolf kerap menggunakan metode indirectness untuk tokoh-tokoh yang mengalami trauma perang karena dua penulis tersebut tidak memiliki pengalaman secara langsung.
Puisi dan gaya indirectness dalam buku ini adalah taktik strategis sehingga penulis tak perlu menjelaskan siapa, apa, dan bagaimana. Apalagi membayangkan dirinya sendiri sebagai Nabi Khidir misalnya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
