Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 10 September 2023 | 16.22 WIB

Kuliner, Retrospeksi, dan Dapur sebagai Arena Pertarungan

COVER BUKU - Image

COVER BUKU

Novel ini tak hanya memperlihatkan transfer pengetahuan, nilai, dan kritik, tapi juga arena perlawanan secara naratif.

SEBUAH karya sastra, baik novel, cerpen, puisi, maupun drama, tidak hanya sebagai cerminan realitas sosial. Tapi juga medium untuk transfer pengetahuan, nilai, kritik, hasil pemikiran, atau bahkan sebuah pertarungan dan perlawanan.

Masing-masing disampaikan melalui sebuah strategi tertentu, misalnya strategi naratif atau fokalisasi. Menurut Bourdieu, strategi adalah sesuatu yang mengarahkan tindakan, tetapi bukan semata-mata hasil dari suatu perencanaan yang sadar dan terkontrol untuk sesuatu yang partikular dan historis.

Kemudian, Bourdieu juga menyatakan bahwa arena merupakan sebuah ruang persaingan antara agen dalam merebutkan sesuatu. Arena juga digunakan untuk berebut legitimasi, perpindahan posisi berdasar kapital yang telah dimiliki, serta untuk mengubah ketimpangan distribusi kapital oleh para pelaku sosial.

Novel Pengantin-Pengantin Loki Tua, novel kedua Yusi Avianto Pareanom, terdiri atas sepuluh bab dimulai dari ”Gerbang Agung” dan diakhiri ”Mengindahkan Angin”. Novel ini lahir setelah suksesnya novel Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi.

Dalam novel ini, Yusi menarik satu tokoh, yaitu Loki Tua, seorang juru masak yang memandu Raden Mandasia dan Sungu Lembu ke Gerbang Agung. Novel ini tidak hanya memperlihatkan transfer pengetahuan, nilai, kritik, dan pemikiran, namun juga sebuah pertarungan dan perlawanan yang disampaikan dengan strategi naratif atau fokalisasi.

Narasi kuliner menjadi pemicu peristiwa-peristiwa besar yang membangun seluruh tubuh cerita dan berlatar tempat di ruang dapur. Sepekan sebelumnya, Loki Tua yang bekerja sebagai juru masak utama istana ditantang oleh sang raja untuk menyajikan makanan lezat yang belum pernah ia santap (hal 10). Loki Tua khawatir tidak dapat menaklukkan tantangan tersebut. Akhirnya Loki Tua memasak merak hijau dan kuau burung kesayangan raja. Setelah raja tahu, ia murka dan Loki Tua diusir dan pergi menaiki sebuah kapal untuk berlayar.

Yusi dengan cermat menyulap dapur yang pada umumnya adalah ruang domestik identik dengan perempuan (ibu) menjadi tempat yang strategis dalam membangun cerita. Bukan hanya itu, penyelesaian masalah pun diselesaikan dari ruang dapur. Kemudian, ruang dapur juga membangun konektivitas dan kedekatan emosional antartokoh. Contohnya, kedekatan Loki Tua dengan Bahar kecil dan Bahar besar. Di sisi lain, ruang dapur mengalami pergeseran fungsi yang pada umumnya sebagai tempat milik perempuan (ibu) untuk memasak dan memenuhi kebutuhan makan suami dan anak menjadi sebuah arena pertarungan dan perlawanan.

Hal tersebut terlihat ketika Loki Tua melakukan perlawanan untuk membebaskan dirinya dari pernyekapan budak dalam kapal. ”Aku juru masak. Jika nakhoda memberi izin, aku akan memasak untuk orang-orang ini. Makanan yang akan bikin mereka sehat,” kata Loki Tua (hal 16). Kemudian dilanjut, ”Kalau aku tak bisa memuaskan lidah dan perut kalian, potong saja tanganku,” kata Loki Tua, yang tak sabar (hal 16). Kemudian pertarungan dengan Sumpit Merah. Sekiranya tetua Kang berkenan, bolehkah kami para pengembara ini sedikit menimba ilmu (hal 138). Dua peristiwa pertarungan dan perlawanan tersebut bermula dan berlangsung di ruang dapur.

Semua tokoh sentral dalam cerita ini adalah laki-laki, Loki Tua, Jomar, Kiram Pahala, Gantilan, Sayid Al-Berber, Hoyoso, Sin Liong, Guru Pui, Asan, Ki Ranggahasta, Si Perwira, Raden Mandasia, Sungu Lembu, sedangkan tokoh perempuan misalnya Hokulani, Galitia, Zuba, dan Agnimurti hanya dimunculkan untuk hubungan seksual dan ditempatkan berada di bawah tanggung jawab laki-laki sehingga dapat dilihat terdapat kerangka maskulinitas laki-laki hegemonik. Laki-laki menjadi superior dan perempuan inferior dalam novel ini.

Selain itu, perjalanan-perjalanan yang ditempuh Loki Tua menyebabkan adanya interaksi lintas budaya antarnegeri rempah-rempah, negeri padi, dan beberapa negara lainnya yang telah disinggahi Loki Tua. Hal tersebut terlihat ketika Loki Tua sepanjang perjalanannya mencoba belajar banyak hal, termasuk bahasa sebagai alat komunikasi dan budaya masyarakat setempat.

Yang luput dari penyuntingan novel ini adalah kalimat yang digunakan terlalu panjang, berkelok-kelok, membutuhkan fokus yang mendalam untuk memahami apa yang menjadi narasi dan fokalisasi dalam teks. Petunjuk waktu yang rumit apabila ingin melihat lebih dalam fabula dan sjuzet dalam novel ini. Selain itu, banyak istilah asing tanpa ada catatan kaki ataupun keterangan sehingga akan menimbulkan ambiguitas dalam proses pemaknaan atas kata tersebut.

Namun, hal-hal yang luput tersebut mampu diakomodasi dengan sangat baik melalui tawaran estetika dari struktur narasi dan fokalisasi yang menawan. Setiap peristiwa yang dihadirkan dan dilalui tokoh utama selalu mengalami retrospeksi, yaitu menarik diri ke peristiwa di masa lalu, dan proses retrospeksi ini berfungsi dalam menambahkan informasi baru yang sebelumnya belum ada dan melengkapi yang sudah ada. Dari proses retrospeksi ini sebagai salah satu upaya untuk menyampaikan beberapa antisipasi akan peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa depan.

Apabila pembaca dengan cermat mampu menangkap tanda, membaca waktu, dan memahami jalinan dari tiap-tiap cerita yang berkelindan, tak hanya nilai estetika yang didapat, namun lebih dari itu. Yusi juga dengan cerdik memanfaatkan penggunaan latar tempat, yakni ruang dapur sebagai arena pertarungan dan perlawanan yang memukau. Peristiwa-peristiwa besar dalam cerita bermula dari ruang dapur dan diselesaikan di ruang dapur pula. Hal tersebut yang membuat novel ini distingtif dan otentik. Selamat membaca dan belajar untuk menyublim makna dari seluruh tubuh cerita. (*)

---

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore