
Ilustrasi transportasi udara maskapai Garuda Indonesia melintas di Bandara Soekarno-Hatta. (Hanung Hambara/Jawa Pos)
JawaPos.com - Pemerintah berencana menghentikan penjualan tiket untuk rute transit oleh online travel agent (OTA). Rencana ini mendapat penentangan karena dianggap kurang tepat. Terlebih saat ini momentum mudik lebaran segera tiba, sehingga membutuhkan lebih banyak konektivitas.
Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Nunung Rusmiati menilai, penghapusan OTA bisa berpotensi mengurangi transparansi pilihan perjalanan. Dampaknya akan dirasakan langsung oleh masyarakat.
Nunung menyampaikan, selama ini opsi penerbangan transit menjadi solusi penting bagi konektivitas di Indonesia sebagai negara kepulauan. Dengan ribuan pulau dan banyak kota yang belum memiliki penerbangan langsung, transit kerap menjadi satu-satunya cara menghubungkan perjalanan antardaerah.
“Dari perspektif kami di ASITA, opsi penerbangan transit justru selama ini menjadi salah satu solusi konektivitas di negara kepulauan seperti Indonesia. Banyak kota di Indonesia yang memang belum memiliki penerbangan langsung, sehingga transit menjadi cara untuk menghubungkan satu daerah dengan daerah lain,” kata Nunung, Rabu (11/3).
Dihapusnya OTA akan membuat masyarakat tidak memiliki banyak pilihan perjalanan. OTA juga selama ini sudah membantu masyarakat menyusun rencana perjalanan.
"Padahal OTA hadir untuk membantu konsumen merancang perjalanan yang paling sesuai dengan kebutuhan waktu dan anggaran mereka," jelasnya.
Nunung mengingatkan bahwa kondisi geografis Indonesia membuat konektivitas udara sangat kompleks. Tidak semua kota terhubung dengan penerbangan langsung, sehingga transit merupakan bagian dari sistem transportasi yang sudah berjalan.
“Kita harus ingat, Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau dan ratusan bandara. Tidak semua kota terhubung dengan penerbangan langsung. Dalam konteks itu, transit bukan masalah, justru bagian dari solusi konektivitas nasional,” imbuhnya.
Di sisi lain, ASITA melihat kebijakan tersebut akan berdampak pada cara masyarakat mencari tiket pesawat. Sebab, selama ini sebagian besar konsumen terbiasa menggunakan OTA untuk menemukan kombinasi penerbangan dengan harga tertentu.
Nunung beranggapan penghapusan OTA tidak semata menyelesaikan persoalan utama industri penerbangan domestik, khususnya terkait harga tiket. Menurutnya, mahalnya tiket pesawat di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor struktural yang jauh lebih kompleks.
Beberapa diantaranya adalah biaya avtur, biaya operasional maskapai, keterbatasan armada, pajak, hingga berbagai komponen biaya bandara. Selain itu, ketersediaan kursi penerbangan yang belum seimbang dengan permintaan juga ikut memengaruhi harga.
"Menutup opsi transit di OTA tidak akan menurunkan biaya tersebut. Yang terjadi justru hanya menghilangkan tampilan pilihan rute di platform digital, sementara rute transit itu sendiri tetap ada,” pungkas Nunung.

Puluhan Orang Terjebak di AEON Mall Kumamoto Usai Gempa Dahsyat M7,1 Diikuti Ledakan
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Malik Bawazier Dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Suami Cut Keke Diduga Tersangkut Kasus Perzinaan
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Prediksi Skor hingga Rekor Pertemuan Persebaya vs PSMS: Ayam Kinantan Lebih Unggul Atas Green Force
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs PSMS Medan di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Raih 3 Poin Lagi!
Prediksi Skor Port FC vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Pembuktian Magis Shin Tae-yong!
