Peresmian Pusat Transformasi Bersama (PTB) yang dibangun PT Freeport Indonesia di Gresik bekerja sama dengan Yayasan Takmir Masjid Manyar (Yatamam).
JawaPos.com – Implementasi aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola yang baik (environment, social, and governance/ESG) menjadi semakin penting. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira memandang, hilirisasi dengan menerapkan prinsip ESG tentu harus didorong di setiap perusahaan tambang.
’’Dari mulai proses pertambangannya, penggunaan energi terbarukan pada proses smelting dan pasokan listrik di kawasan industri pemurnian itu harus dilakukan. Jadi opsinya ada dua. Pertama, kalau mendorong hilirisasi ya penggunaan listriknya dari PLN transmisinya. Kedua, BUMN holdingnya harus membangun pembangkit listrik yang lebih bersih di kawasan industri,’’ ujarnya kepada Jawa Pos, Kamis (7/9).
Bhima mengingatkan, menjalankan prinsip ESG harus dilakukan dari hulu ke hilir. Dia mencontohkan dengan pengolahan limbah smelter. ’’Di beberapa lokasi pemurnian ada juga yang dikeluhkan bahwa limbahnya dibuang ke laut dan mencemari sungai,’’ imbuh dia.
Keberadaan fasilitas pengolahan limbah smelter tentu menjadi vital. Seperti yang dilakukan PT Freeport Indonesia (PTFI) yang memiliki Pusat Transformasi Bersama (PTB) di Desa Manyarejo, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Fungsi utama fasilitas PTB sebagai pengalihan sampah daur ulang sementara untuk smelter.
PTB mengupayakan pemulihan material melalui konsep daur ulang, sehingga dapat mengurangi sampah anorganik yang dibuang langsung ke tempat pembuangan akhir (TPA). Sejalan dengan itu, prinsip ESG juga menekankan pada dampak sosial yang timbul kepada masyarakat sekitar. Bhima menyebut serapan tenaga lokal harus bisa lebih banyak dibandingkan tenaga asing.
’’Apalagi sudah bertahun-tahun kita memasuki fase hilirisasi, tentunya tidak perlu lagi banyak menggandeng tenaga kerja asing. Tata kelola semua dari hulu ke hilir juga harus transparan, itu bisa dilakukan oleh holding BUMN tambang. Karena ESG itu jadi environmentnya bisa dapat, socialnya dapat juga, governancenya pun tetap dapat,’’ jelasnya.
Executive Vice President Corporate Planning & Business Strategy PTFI Horst Garz menitikberatkan dukungan perusahaan terhadap prioritas komunitas Gresik dalam pengelolaan limbah. ’’PTFI bangga dapat menjadi bagian dari upaya keberlanjutan ini. Keberadaan fasilitas PTB akan mendukung visi dan misi masyarakat Gresik dalam pengelolaan sampah yang bertanggung jawab melalui 3R (reuse, reduce, dan recycle) sekaligus mengambil peran dalam ekonomi sirkular,’’ ujarnya.
Baca Juga: Bandara Juanda Relokasi Terminal Kedatangan Dua Maskapai
Limbah-limbah dari smelter itu bisa dimanfaatkan kembali. Dalam proses pengelolaannya, kapasitas PTB itu diestimasikan dapat menerima 10-15 truk besar setiap hari. PTB tersebut juga melibatkan ekonomi lokal. UMKM, Bank Sampah, dan delapan BUMDes di Manyar akan menjadi prioritas. ’’PTB yang diinisiatori PT Freeport Indonesia akan dilakukan berkelanjutan serta bisa dijadikan contoh bagi perusahaan-perusahaan lain,’’ tutur Horst.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
