
ilustrasi pabrik Semen Indonesia
JawaPos.com - PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) menyatakan sepanjang tahun ini hanya menganggarkan dana belanja modal atau capital expenditure (Capex) senilai Rp 4 triliun. Alasannya, perseroan tidak terlalu menggenjot investasi seperti tahun-tahun sebelumnya.
"Kita tak seagresif sebelumya untuk capex. Meski ruang cukup besar, tapi kita tidak mau pikirkan pemegang saham dengan pinjam sesuatu yang banyak. Kita harap dengan pinjam bisa beri income ke perusahaan," kata Direktur Keuangan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, Doddy Sulasmono Diniawan, di Jakarta, Selasa (1/5).
Dari belanja modal tersebut, kata Doddy, sebesar Rp 1 triliun merupakan carry over tahun lalu. Sedangkan, dana Rp 3 triliun itu untuk investasi baru.
Doddy menyampaikan, adapun, pada tiga bulan pertama tahun ini perseroan baru menggunakan belanja modal sebesar Rp 300 miliar. "Biasanya capex semester dua lumayan, kita yang besar untuk operation Rp 1 triliun tahun ini," imbuhnya.
Doddy menjelaskan, perseroan pada tahun ini pun bakal mencoba untuk masuk ke produk-produk hilir. Semen Indonesia, lanjut Doddy, akan membentuk anak-anak usaha untuk menggarap produk-produk hilir dengan menginvestasikan dana Rp 200 miliar dari belanja modal.
Pasalnya, perseroan yakin jika ke depan masyarakat bakal meninggalkan semen. Hal tersebut akan mulai dijalankan perseroan pada semester dua tahun ini.
"Kita coba produk lebih hilir dari semen, sepeti baja ringan dan mortar. Kedepan kita yakin masyarakat akan tinggalkan semen. Mortar itu lebih sederhana enggak pake beli pasir lagi. Jadi ini blueprint yang harus dibuat. Jadi kedepan saya yakin enggak main semen. Tapi replace semen yang 60 juta ton ini bakal panjang. Mulainya tahun ini, tapi investasi enggak besar,” tuturnya.
Menurutnya, keputusan tersebut diambil melihat semakin ketatnya pasar semen di tanah air. Sehingga, perseroan perlu mengeluarkan strategi baru, guna mempertahankan posisinya.
"Industri itu oversubscribed kita lagi cari strategi agar perusahaan bisa suistain mesti industri goyang. Jadi kita coba masuki ke hilir,” imbuhnya.
Doddy juga menambahkan, perseroan juga bakal melakukan efisiensi pada sistem distribusi yang selama ini cukup membebankan. Karena, perseroan melihat bahwa itu menjadi solusi saat kondisi industri semen masih belum stabil.
"Jadi kita coba lihat lagi itu dari mana yang dekat untuk kirim semen. Kita buat peta lagi. Karena kalau main harga itu susah. Kalau kita naikin yang lain belum tentu. Masyarakat kan lihat perbedaan harga, kalau beda Rp 5.000 saja mereka pakai yang lain,” tandasnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
