Salah satu mama penenun di NTT. (Nurul Fitriana/Jawapos)
JawaPos.com - Indonesia Eximbank atau Lembaga Pembiayaan ekspor Indonesia (LPEI) melalui program Desa Devisa memberikan dukungan nyata kepada para penenun di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Plt. Direktur Pelaksana Pengembangan Bisnis Indonesia Eximbank, Maqin U. Norhadi menyampaikan program tersebut dibuat dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperluas akses pasar dan mendorong ekspor produk tenun khas NTT ke pasar Internasional.
Tak hanya mendorong ekspor, Maqin juga memastikan melalui program Desa Devisa ditujukan untuk memberi dampak sosial langsung. Salah satunya, peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya kepada para penenun.
“Program ini tidak hanya mendorong ekspor, tetapi juga memberikan dampak sosial yang
signifikan, terutama dalam pemberdayaan perempuan, pelestarian budaya lokal, dan
peningkatan kesejahteraan masyarakat. Tenun NTT kini tidak hanya menjadi warisan
budaya, tetapi juga komoditas ekspor yang berdaya saing tinggi,” kata Maqin dalam keterangannya di Labuan Bajo, NTT, dikutip Minggu (13/7).
Pada kesempatan yang sama, salah satu social enterprise bernama Tenun.in yang telah memberdayakan mama-mama penenun di NTT telah membuktikan adanya dampak peningkatan ekonomi di daerahnya.
Salah satunya ada kenaikan rata-rata pendapatannya sebesar 30 persen, dari sebelumnya Rp 750 ribu - Rp 1 juta per bulan, menjadi Rp 975 ribu - Rp 1,3 juta per bulan.
“Dampak ekonomi dari program ini sangat signifikan. Rata-rata pendapatan penenun
mengalami peningkatan sebesar 30 persen, dari sebelumnya Rp 750 ribu – 1 juta per bulan
menjadi Rp 975 ribu – 1,3 juta per bulan setelah program berjalan," kata CEO Tenun.in Hayatul Fiktri Aziz.
"Selain peningkatan pendapatan, program ini juga memperkuat kapasitas produksi dan memperluas jangkauan pasar, menjadikan kain tenun NTT sebagai produk ekspor yang tidak hanya bernilai budaya tinggi, tetapi juga berdaya saing global,” tambahnya.
Untuk diketahui, berdasarkan data dari LPEI, Program Desa Devisa Tenun NTT telah mencakup 31 desa yang tersebar di Kabupaten Alor, Belu, Ende, Sikka, dan Sumba Timur, dengan total 522 penenun penerima manfaat, di mana 98,5 persen adalah perempuan.
Pendampingan dilakukan bersama Yayasan Insan Bumi Mandiri dan Tenun.in, serta melibatkan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan seperti Kemenkeu Satu, PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), dan Pemerintah Daerah NTT.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
