
ILUSTRASI. Pengunjung berbelanja di salah satu gerak ritel modern di kawasan Depok, Jawa Barat, Minggu (16/2/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Pada era digital yang berkembang pesar, sektor perdagangan grosir dan retail di Indonesia masih menghadapi tantangan klasik yang menghambat pertumbuhan mereka. Para pelaku retail seringkali harus meninggalkan tempat usaha mereka untuk berbelanja ke grosir, tanpa kepastian barang akan diantar, dan modal usaha mereka seringkali terkuras.
Sementara itu, para grosir mengalami kesulitan dalam menembus pasar, kurangnya kepercayaan pada tenaga penjual, dan masalah pengelolaan modal. Selain itu, transparansi dalam rantai pasok masih menjadi persoalan yang sering dihadapi.
Banyak pelaku usaha kesulitan mendapatkan informasi harga yang stabil, akses ke produk yang lebih luas, serta sistem pembayaran yang lebih fleksibel. Akibatnya, margin keuntungan semakin tergerus, dan banyak usaha kecil yang kesulitan berkembang.
Di sisi lain, digitalisasi di sektor grosir dan retail masih belum merata. Meskipun banyak inovasi berbasis teknologi yang hadir di berbagai industri, banyak pelaku usaha yang masih bertahan dengan metode konvensional.
Hal tersebut dikarenakan keterbatasan akses atau kurangnya pemahaman terhadap solusi digital. Kondisi ini memperlambat efisiensi bisnis dan membatasi peluang pertumbuhan.
Meningkatnya persaingan di pasar juga menjadi tantangan tersendiri. Dengan masuknya berbagai platform e-commerce besar, banyak toko retail tradisional yang mengalami penurunan jumlah pelanggan.
Mereka membutuhkan solusi yang tidak hanya membantu mereka bertahan, tetapi juga berkembang di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat yang semakin bergantung pada teknologi.
Menyadari permasalahan ini, PT Jejaring Solusi Umat Sejahtera (PT JOSS) bekerja sama dengan PT Arranet Indonesia Sejahtera (Arranet) dalam pengembangan solusi berbasis teknologi. Arranet mengembangkan aplikasi JOSSNET yang difungsikan untuk mendukung komunitas rantai pasok yang telah dibentuk oleh PT JOSS.
JOSSNET dikembangkan dengan menggunakan platform PayAja Komunitas yang sebelumnya telah diterapkan dalam berbagai komunitas. Aplikasi ini tidak hanya sebagai alat transaksi, tetapi juga sebagai sarana yang mempermudah komunikasi dan interaksi antara grosir dan retail.
"Kami memahami bahwa teknologi hanyalah alat, dan yang terpenting adalah bagaimana teknologi tersebut dapat memberdayakan manusia dan membangun jaringan yang kuat," ujar CEO Arranet, Krisna Nugraha, dalam keterangannya Kamis (6/3).
Bagi grosir, aplikasi ini dapat memperluas jaringan distribusi melalui tim sales PT JOSS, meningkatkan penjualan, dan memastikan pembayaran lancar via QRIS JOSSNET. Para pelaku retail juga dapat memperoleh akses lebih mudah ke barang dagangan, meningkatkan pendapatan dari layanan finansial, serta dukungan pelatihan dan digitalisasi menjadi smart merchant dari tim sales PT JOSS.
"Aplikasinya dirancang ringan bahkan mudah digunakan sehingga dapat mendorong digitalisasi di pelosok Indonesia," kata COO Arranet, Tulus Danardono.
Melalui platform ini, grosir dapat memperluas jaringan distribusi dan memastikan pembayaran lebih lancar, sementara retail mendapatkan akses barang yang lebih mudah serta dukungan digitalisasi. "Kami ingin menciptakan ekosistem yang tidak hanya efisien tetapi juga saling menguntungkan bagi semua pihak," tambah Direktur PT JOSS, Gatot Setiawan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022