Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 3 Juni 2022 | 02.20 WIB

Industri TPT Pulih Dipicu Hari Raya, Lebih Tinggi dari Proyeksi

Suasana di Pasar Tanah Abang, Jakarta, Selasa (2/11/2021). - Image

Suasana di Pasar Tanah Abang, Jakarta, Selasa (2/11/2021).

JawaPos.com - Industri mulai bergairah. Itu terlihat dari pertumbuhan positif pada kuartal pertama tahun ini. Padahal, sejak pandemi, Badan Pusat Statistik (BPS) mendata industri pakaian jadi dan tekstil nasional mengalami kontraksi atau pertumbuhan negatif.

Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) mencatat industri tekstil dan produk tekstil (TPT) tumbuh 12,45 persen secara tahunan pada kuartal I 2022. Angka itu lebih tinggi dari proyeksi yang dikeluarkan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), yakni 10,44 persen.

"Pertumbuhan kuartal I tahun ini didorong oleh penjualan dalam negeri akibat jelang Ramadan dan Lebaran," ucap Ketua Umum APSyFI Redma Gita Wirawasta.

BPS mendata industri pakaian jadi dan tekstil nasional mengalami kontraksi 4,08 persen pada 2021. Setahun sebelumnya, performa industri TPT anjlok 8,8 persen pada 2020.

Artinya, industri TPT mengalami penurunan performa dalam dua tahun secara beruntun. Kemenperin mendata utilisasi pada industri tekstil hanya 69,4 persen pada 2021, sedangkan industri pakaian jadi di level 74,4 persen.

Kemenperin meramalkan industri tekstil dapat tumbuh 2,31 persen, sedangkan industri pakaian jadi naik 5,84 persen. Puncak pertumbuhan pakaian jadi dinilai akan terjadi pada kuartal I 2022 sebesar 10,44 persen, sementara industri tekstil pada kuartal III sebesar 5,88 persen.

Meski demikian, Redma menilai pertumbuhan tiga bulan pertama itu berpotensi tidak berlanjut pada kuartal II. "Kami sangat mengkhawatirkan kinerja sektor ini di kuartal II dan seterusnya, terlebih ada tekanan dari sisi biaya, yaitu kenaikan bahan baku dan PPN," ujarnya.

Tekanan itu, kata Redma, diperburuk dengan dibukanya keran impor tekstil untuk importir umum. Menurut dia, langkah tersebut kontras dengan kondisi pabrikan tekstil nasional yang sudah membuktikan dapat memasok kebutuhan industri hilir TPT sejak pertengahan 2021.

Selain itu, pelaku industri tekstil telah melakukan investasi untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Salah satu pertimbangannya adalah pembatasan impor pada industri TPT.

"Impor sih boleh-boleh saja, tapi jangan hancurkan industri dalam negeri. Suplai dalam negeri sudah terbukti mencukupi, kenapa harus impor?" tuturnya.

Direktur Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kemenperin Elis Masitoh menyebutkan, industri TPT memiliki prospek positif pada tahun ini. Pemulihan ekonomi serta pelonggaran mobilitas membuat permintaan akan produk tekstil meningkat.

Dampak Lebaran juga diyakini akan mendongkrak kinerja industri TPT. Pasalnya, 2022 menjadi tahun pertama pemerintah mengizinkan masyarakat untuk mudik Lebaran setelah dua tahun dilarang.

"Pemulihan ekonomi dan dampak Lebaran membuat utilisasi pada industri tekstil melonjak. Utilisasi industri pakaian jadi pada April mencapai 90 persen," ujarnya.

---

PERFORMA INDUSTRI TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL DI INDONESIA

Periode | Pertumbuhan

2020 | -8,8%

2021 | -4,08%

2022* | 2,31%

Ket: *Angka proyeksi

VOLUME DAN NILAI EKSPOR TEKSTIL INDONESIA

Periode | Volume | Nilai

2018 | 2,6 juta ton | USD 10 miliar

2019 | 2,4 juta ton | USD 9,4 miliar

2020 | 1,8 juta ton | USD 7,2 miliar

2021 | 2,2 juta ton | USD 9,4 miliar

Sumber: BPS

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore