Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 5 Februari 2020 | 05.30 WIB

Industri Sepatu di Jatim Berharap Perundingan IEU-CEPA Beres

pegawai PT Widaya Inti plasma sedang melakukan proses produksi sepatu di sidoarjo. frizal/jawa pos - Image

pegawai PT Widaya Inti plasma sedang melakukan proses produksi sepatu di sidoarjo. frizal/jawa pos

JawaPos.com - Pasar internasional masih terbuka lebar untuk bisnis alas kaki Indonesia. Sepanjang tahun lalu, ekspor sepatu tumbuh 2,8 persen. Tahun ini, target ekspor meningkat. Yakni, tembus USD 5,36 miliar (sekitar Rp 73,6 triliun) atau naik 5 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Kepala Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) Heru Budi Susanto mengakui, industri padat karya seperti sepatu sarat hambatan. Meski begitu, potensinya untuk terus berkembang juga tinggi. Tahun lalu, produksi sepatu Indonesia tetap tumbuh meski tipis, yaitu 5,3 persen.

"Tingkat konsumsi alas kaki tahun lalu mencapai 3,8 pasang per kapita. Ini membuktikan bahwa kebutuhan sepatu masih besar," ujarnya, Senin (3/2).

Heru melanjutkan, potensi ekspor sepatu Jatim masih tinggi. Jatim merupakan salah satu penopang industri alas kaki nasional bersama Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Banten.

"Selama industri Jatim bisa mempertahankan kondusivitas investasi di daerahnya, akan tetap banyak perusahaan yang berminat memproduksi di sini," paparnya.

Selama ini, pasar utama produk alas kaki Indonesia adalah Amerika. Enam pasar terbesar lainnya adalah Tiongkok, Belgia, Jerman, Jepang, Kanada, dan Italia. Menurut Heru, peluang ekspor sepatu ke Eropa harus terus digarap.

"Kalau perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) beres, potensi masuk Eropa bisa lebih besar," tegasnya.

Jika bisa menembus pasar Uni Eropa (UE), produk tanah air tentu dapat merambah negara-negara lain di Eropa. Heru tak menampik bahwa bahan baku masih jadi kendala industri alas kaki. Produsen dalam negeri kekurangan bahan baku dan bahan baku pendukung seperti kulit, aksesori, dan outsole. Karena itu, mau tidak mau harus impor.

"Pasar domestik hanya mampu memenuhi 40 persen kebutuhan bahan baku kulit. Sisanya ya beli dari luar negeri," ungkap Heru. Selain itu, bea masuk ke negara-negara ekspor dengan pasar sepatu yang cukup besar masih tinggi.

Karena itu, BPIPI menyiapkan program pelatihan untuk SDM industri. Mulai skala kecil, menengah, hingga besar. Program yang diberikan beragam. Menyesuaikan kebutuhan industri dan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). BPIPI juga memfasilitasi laboratorium uji produk sebagai upaya menyiapkan produk yang berkualitas dan sesuai dengan standar luar negeri.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore