Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 31 Desember 2019 | 19.00 WIB

Ritel-ritel yang Tutup Gerai dan PHK Karyawan Sepanjang 2019

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Para pelaku usaha ritel harus menghadapi tantangan berat sepanjang 2019 akibat dari perubahan pola konsumsi masyarakat. Hal tersebut berlaku bukan hanya di Indonesia melainkan di berbagai negara termasuk negara maju. Sehingga pelaku usaha ritel di harus memutar strategi bisnis agar bisnisnya tetap berjalan. Berikut catatan beberapa gerai yang tutup dan melakukan pengurangan karyawan sepanjang 2019, dirangkum JawaPos.com, Selasa (31/12).

1. Giant-HERO

Rekam jejak melesunya industri ritel Indonesia, salah satunya dialami oleh perusahaan supermarket besar bermerek Giant yang dikelola PT Hero Supermarket Tbk (HERO). Sepanjang tahun ini, Giant telah mengutip 7 gerainya akibat dari kinerja pendapatan dari bisnis makanan yang terus menurun.

Adapun gerai-gerai yang gulung tikar tersebut tersebar di wilayah Jabodetabek, yakni Giant Ekspres Cinere Mall, Giant Ekspres Mampang, Giant Ekspres Pondok Timur, Giant Ekstra Jatimakmur, Giant Ekstra Mitra 10 Cibubur, Giant Ekstra Wisma Asri, dan Giant Ekstra Poins Square.

Direktur PT Hero Supermarket Hadrianus Wahyu Trikusumo menyadari, ketatnya persaingan industri ritel menjadi satu faktor penutupan gerai Giant. Penutupan gerai membuat Giant mengobral diskon besar-besaran mulai dari produk makanan hingga perabot rumah tangga.

Penutupan gerai pun juga berdampak pada nasib para pegawainya. Hadrianus, selaku induk usaha dari Giant merespons, pihaknya telah berkomunikasi dengan seluruh karyawan tentang kinerja buruk yang dialami oleh perusahaan.

HEROmencatatkan pengurangan karyawan paling besar dalam sembilan bulan pertama 2019, yaitu sebanyak 2.880 karyawan. Per akhir September 2019, jumlah karyawannya tersisa 10.854 karyawan, dari sebelumnya 13.743 karyawan pada akhir 2018.

2. Hypermart dan Foodmart

Selain HERO, perusahaan ritel lain juga melakukan efisiensi yaitu PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA). Dua unit usaha yang kena getah perubahan pola konsumsi masyarakat yakni Hypermart dan Foodmart

MPAA memangkas 234 karyawan. Saat ini jumlah karyawannya 9.063 orang dari sebelumnya 9.297 orang. Jumlah gerai MPPA berkurang dari 230 gerai menjadi 218 gerai.

3. MAP

Sedangkan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) juga mengurangi toko menjadi 102 gerai sepanjang Januari-September 2019. Meski demikian, jumlah karyawan masih bertambah menjadi 909 karyawan.

Diprediksi Berlanjut

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memprediksi, penutupan gerai di perusahaan ritel masih akan berlanjut hingga 2020 mendatang. Hal tersebut sebagai upaya efisiensi karyawan terhadap perubahan pola konsumsi masyarkat.

"Jadi penutupan toko itu lebih kepada efisiensi karena mengikuti perubahan," kata Ketua Umum Aprindo Roy Mandey di Jakarta.

Pertumbuhan ritel tahun ini hanya tumbuh sebesar 5,07 persen dari yang seharusnya mencapai 12 hingga 14 persen. Sehingga hampir seluruh perusahaan ritel yang merupakan anggota Aprindo mendaur ulang bisnisnya.

Upaya tersebut dilakukan mulai dari memperkecil ukuran toko ritel hingga pemilihan produk yang sering dikonsumsi atau menyesuaiakan dengan keinginan masyarakat. Maka dari itu, Roy yakin, rendahnya peetumbuhan bisnis ritel tersebut berasal dari pelambatan konsumsi, bukan daya beli.

Menurutnya, masyarakat masih memiliki daya beli tinggi namun lebih mengkonsumsi hal yang bersifat hiburan. "Mereka memindahkan uang yang tadinya untuk berbelanja ke kuliner, gaya hidup, atau leisure (hiburan)," tuturnya.

Sementara, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi rumah tangga hingga kuartal III-2019 melambat dengan pertumbuhan hanya 5,01 persen dibandingkan periode yang sama 2018 yang mencapai 5,17 persen.

Bank Indonesia juga menyebut penjualan ritel per September 2019 hanya tumbuh 0,7 persen secara tahunan. Realisasi itu melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 1,1 persen dan menjadi laju terlemah sejak Juni 2019.

Bank Indonesia memperkirakan penjualan ritel dalam enam bulan mendatang (Maret 2020) masih dalam tren penurunan. Ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) enam bulan mendatang yang sebesar 137, lebih rendah dibanding bulan sebelumnya yang sebesar 150,2.

Sementara, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto meminta pengusaha retail terus mengikuti perkembangan zaman di era digital untuk dapat mulai beradaptasi ke pasar pasar e-commerce. Sebab, dengan pertumbuhan belanja online yang pesat, perusahaan ritel dapat merebut kembali pasar yang ada.

"Konsumen berubah budaya dalam membeli, tidak harus datang ke toko, tokonya tidak harus fisik. Jadi, pasar online bisa dimanfaatkan secara maksimal," kata Agus.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore