Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 3 November 2015 | 14.45 WIB

PLN Bakal Tak Perlu Impor Switchgear Gardu Lagi

Photo - Image

Photo

JawaPos.Com – Tidak lama lagi, PT PLN (Persero) akan mengurangi kegiatan impor switchgear untuk gardu induk. Sebab, BUMN bidang energi itu telah bekerja sama dengan Crompton Greaves, perusahaan kelistrikan asal India untuk mendirikan pabrik switchgear di Serang, Banten. Nantinya, tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dipastikan naik sampai 80 persen.



Groundbreaking pabrik switchgear tegangan tinggi (TT) dan tegangan ekstra tinggi (TET) itu diresmikan, Senin (2/11). Peresmian dilakukan oleh Srinivasan selaku Presdir PT Crompton Prima Switchgear Indonesia, Presiden Power Business Unit of Crompton Graves Jean Michel Aubertin, dan Direktur Bisnis Jawa Bagian Tengah PLN Nasri Sebayang.



Nasri menjelaskan, switchgear menjadi penting karena berfungsi untuk menyalurkan daya-daya dari pembangkit melalui transmisi. Melalui alat-alat untuk mengontrol, pengamanan, sampai menaik-turunkan tegangan itulah listrik disalurkan ke masyarakat.



’’Sebelumnya, seluruh komponennya impor. Nanti, sudah tidak impor untuk tegangan sampai 500 kv,’’ jelasnya.



Saat pabrik switchgear pertama di Indonesia itu jadi, hasil produksinya akan mirip dengan trafo. Maksudnya, sepenuhnya sudah bisa diproduksi dalam negeri. PLN juga bisa menghemat banyak uang karena harga impor switchgear sangat mahal. Diperkirakan, penghematan dari nilai tukar rupiah bisa mencapai 30 persen.

       

Pabrik itu, lanjut Nasri, dibangun secara konsorsium dengan pembagian saham PLN 49 persen dan Crompton Greaves 51 persen. Untuk sumber pendanaan, sebanyak 60 persen berasal dari pinjaman dan sisanya setoran modal dengan debt to equity ratio.



’’Semoga bisa cepat selesai, karena dalam lima tahun ini banyak sekali yang akan dibangun dalam proyek 35 ribu MW,’’ jelasnya.



Rencananya, dalam kurun waktu itu butuh pembangunan gardu sampai 1.350 induk substation. Kalau dirata-rata, kasarnya perlu membangun sedikitnya 300 substasion.



Untuk membangun substation juga butuh duit yang banyak. Satu substation dengan kapasitas kecil untuk desa misalnya, dihargai Rp 60 miliar sampai Rp 100 miliar. Sedangkan substation berukuran besar perlu menyediakan anggaran sampai Rp 600 miliar.



’’Nanti semua dipasok dari sini. Tapi, untuk tahun pertama belum karena baru dibangun,’’ jelasnya. Selain untuk kebutuhan dalam negeri, switchgear yang diproduksi juga menjadi pemasukan buat PLN. Sebab, sudah ada rencana untuk menjual hasil produknya ke Asia Tenggara dan kawasan pasifik.



Sedangkan untuk update proyek listrik 35 ribu MW, sampai saat ini hampi 2.500 MW yang siap. Diharapkan, pada akhir tahun nanti bisa mencapai 10 ribu MW. Namun, penundaan penyertaan modal negara (PMN) dalam APBN 2016 diperkirakan memberi pengaruh. ’’Tapi, kami tidak akan menunda pembangunan,’’ jelasnya.(dim/JPG)

Editor: Ayatollah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore