Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 28 Juli 2018 | 13.42 WIB

AIB #Cyberbully Kampanyekan Anti Bullying di Kalangan Pelajar

Para pemain film AIB saat menggelar konferensi pers di kota Medan, Jumat (27/7) petang. - Image

Para pemain film AIB saat menggelar konferensi pers di kota Medan, Jumat (27/7) petang.

JawaPos.com - Bullying kerap terjadi di kalangan anak muda, bahkan pelajar. Di Indonesia, persentase bullying kian meningkat. Tak main-main, akibatnya sampai menghilangkan nyawa.


Tak hanya di dunia nyata, bullying juga terjadi di dunia maya seperti di Media sosial. Bahkan, bullying kerap terjadi di Media sosial dan tak terbendung. Untuk meredam hal itu, kampanye anti bullying juga terus dilakukan.


Film terbaru karya Rumah Produksi Surya Films dan Anami Films mengangkat tema bullying dalam film terbarunya. Film bergenre psikologi horor tersebut akan mengingatkan penonton soal kasus-kasus perundungan yang kerap terjadi selama ini.


Kampanye tersebut dituangkan dalam sebuah film berjudul AIB #Cyberbully. Film bergenre horor ini menceritakan tentang teror kepada delapan sahabat. Mereka terjebak dalampermainan yang berujung pada maut. Delapan sahabat itu adalah Angel, Donna, Ciska, Sarah, Antoni, Bondan dan Cupi.


Film yang juga mengkampanyekan anti bullying di sekolah ini, akan tayang serentak di seluruh bioskop di Indonesia pada 2 Agustus mendatang.


"Film ini berpesan kalau bullying itu punya akibat yang cukup fatal. Stop bullying sekarang juga," kata Harris Illano salah satu pemeran AIB, saat temu pers di Kota Medan, Jumat (27/7) petang.


Selama penggarapannya, film ini mendapat pendampingan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Komisioner KPAI Retno Listyarti mengapresiasi penggarapan film itu. Karena film bisa menjadi media kampanye yang cukup efektif.


KPAI menyatakan, selama ini kasus bullying masih cukup tinggi di Indonesia. Hanya saja, kerap kali korban enggan melaporkan kasus-kasus itu. Beberapa yang sempat ditangani mereka adalah kasus bullying yang berujung pada kematian.


"Yang tidak dilaporkan itu lebih banyak dibanding yang masuk ke kami. Orang yang berani melaporkan biasanya sudah memiliki kekuatan lain," kata Retno.


Dalam catatan mereka, jika digeneralkan dari 10 anak, delapan diantaranya masih mendapat perilaku kekerasan ataupun bullying. Artinya, hampir seluruh murid sekolah mendapat kekerasan di sekolah.


Mereka juga melakukan monitoring terhadap kekerasan yang diterima oleh anak laki-laki dan perempuan. Angkanya juga hampir sama, keduanya memiliki kerentanan mendapatkan perilaku kekrasan.


Retno berharap, film ini akan bisa mengingatkan kepada anak-anak untuk tidak melakukan bullying. Apalagi akibatnya cukup fatal. Bisa berakibat kematian pada si korban.

Editor: Budi Warsito
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore