Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 13 Maret 2018 | 17.24 WIB

Serangan Harimau di Inhil Diklaim Akibat Perusahaan Sawit

Harimau terekam CCTV memasuki pemukiman warga di Inhil. - Image

Harimau terekam CCTV memasuki pemukiman warga di Inhil.

JawaPos.com - Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) angkat bicara atas serangan harimau di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau. Insiden telah menewaskan dua warga. Yakni, Yusri dan Jumiati.


Koordinator Jikalahari Woro Supartinah menilai, serangan harimau disebabkan habitatnya telah dirusak korporasi sawit dan Hutan Tanaman Industri (HTI) di lansekap Kerumutan. Setidaknya ada 15 korporasi HTI dan HPH serta tujuh korporasi sawit dalam lansekap Kerumutan.


Adalah PT Selaras Abadi Utama, PT Rimba Mutiara Permai, PT Mitra Taninusa Sejati, PT Bukit Raya Pelalawan, PT Merbau Pelalawan Lestari, PT Mitra Kembang Selaras, dan PT Arara Abadi Lalu PT Satria Perkasa Agung, PT Mutiara Sabuk Khatulistiwa, PT Bina Duta Laksana, PT Sumatera Riang Lestari, PT Bhara Induk, PT Riau Indo Agropalma, PT Bina Daya Bentara dan PT Inhil Hutani Permai (HTI dan HPH).


Sementara tujuh korporasi perkebunan kelapa sawit adalah PT Tabung Haji Indo plantation/ PT MGI, PT Gandaerah Hendana, PT Guntung Hasrat Makmur, PT Guntung Idaman Nusa, PT Bhumireksanusa Sejati, PT Riau Sakti Trans Mandiri dan PT Riau Sakti United Plantation dengan dua konsesi.


"Lansekap Kerumutan salah satunya terdiri atas Suaka Margasatwa (SM Kerumutan) yang berada di Kabupaten Pelalawan, Indaragiri Hulu dan Indragiri Hilir," ujar Woro, Selasa (13/3).


SM Kerumutan tercatat memiliki luas sekitar 120 ribu hektare. Di dalamnya ada flora dan fauna. Adapun jenis flora antara lain Punak (tetramerista glabra), sagu hutan (adenantera pavonina), gerunggung (cratoxylum arborescens), bintangur (callophylum schoulatrii), resak (vatica waliichi), balam (palaqium sp).


Sedangkan fauna ada harimau loreng Sumatera (panthera tigris sumatrae), macan dahan (neofelis nebulosa), owa (hylobates moloch), rangkong (bucheros
rhinoceros), monyet ekor panjang (macaca fascicularis), dan kuntul putih (egretta intermedia).


“Kematian Yusri dan Jumiati bukti bahwa korporasi HTI dan Sawit selain merusak hutan, juga merusak habitat Harimau. Dampaknya konflik Harimau tak bisa dihindarkan. Ini juga tanggung jawab pemerintah untuk memenuhi hak hidup sebagai hak azasi manusia (HAM). Kematian Yusri dan Jumiati membuktikan bahwa pemerintah masih abai terhadap pemenuhan HAM,” kata Woro.


Jikalahari menyayangkan kinerja pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang lamban dalam melakukan review AMDAL dan izin lingkungan korproasi HTI serta Sawit di lansekap Kerumutan. Konflik satwa dan manusia banyak terjadi disebabkan terganggunya habitat satwa oleh aktivitas konsesi HTI dan perusahaan sawit.


Sejak tewasnya Jumiati di area PT THIP pada Januari lalu, Jikalahari telah berupaya mengingatkan pemerintah agar melakukan upaya serius untuk melindungi warga dari potensi konflik satwa dan manusia. “Kematian Yusri tidak seharusnya terjadi jika pemerintah mulai Bupati Inhil hingga KLHK melakukan evaluasi dan pemulihan SM Kerumutan sebagai habitat harimau Sumatera,” ucapnya.


Jikalahari mendesak tiga hal kepada pemerintah. Pertama, segera mereview AMDAL dan izin lingkungan hidup korporasi, HTI dan sawit di atas lanskap Kerumutan. Kedua, mendesak KLHK membentuk tim untuk mengevaluasi tata
kelola dan tata guna lahan di Lansekap Kerumutan. Ketiga, mendesak Balai Besar BKSDA Riau bekerja lebih responsif untuk menghentikan peredaran harimau di pemukiman warga dengan cara melakukan patroli mencegah harimau masuk ke dalam hutan tersisa di Lansekap Kerumutan.


Menanggapi hal ini, Kepala BBKSDA Riau Suharyono menegaskan bahwa bukan hanya masyarakat yang kecewa. Tapi semua pihak juga kecewa karena munculnya korban kembali.


"Kalau beberapa waktu terakhir masyarakat kecewa dengan kinerja karena muncul korban kembali, saya kira ini bukan kegagalan dari kerja tim. Saya sangat memahami situasi dan lingkungan di situ dan keinginan teman-teman memberikan solusi komprehensif. Kecewa timbulnya korban, kami semua kecewa," tegasnya.


Penanganan terhadap harimau bukan hal yang mudah. Jika saja tujuan utama dari petugas untuk membunuh, tentu sudah dilakukan sejak jauh hari. "Tujuannya bukan untuk membunuh harimau secara mudah. Membunuh dan menembak itu mudah. Tapi bukan itu tujuan teman-teman di lapangan," tuturnya.


Menanggapi keterangan yang disampaikan oleh Jikalahari tentang adanya indikasi pemerintah lamban menangani konflik, Suharyono mengajak seluruh pemerhati harimau Sumatera dan lingkungan untuk bersama-sama membantu menangani konflik.

Editor: Sofyan Cahyono
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore