Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 19 Mei 2023 | 23.38 WIB

Rumah Budi Daya Walet Smart di Parigi Moutong Jadi Pilot Project

Rumah Budi Daya Walet Smart di Desa Donggulu, Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah jadi pilot project. - Image

Rumah Budi Daya Walet Smart di Desa Donggulu, Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah jadi pilot project.

JawaPos.com–Indonesia merupakan negara penghasil sarang burung walet terbesar di dunia. Produksi sarang burung walet mencapai lebih dari 80 persen dari total produksi dunia.

Walet sarang putih (aerodramus fuciphagus) yang merupakan jenis burung walet penghasil sarang yang bisa dikonsumsi adalah burung endemik Asia Tenggara. Sehingga, hanya bisa dijumpai dan dibudidayakan di Indonesia dan negara sekitarnya seperti Malaysia, Vietnam, Thailand, dan sekitarnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor sarang burung walet Indonesia mencapai US$517,03 juta dengan volume 1.505,5 ton pada 2021. Melihat potensi ekonomi yang dihasilkan, sarang burung walet menjadi salah satu komoditas ekspor andalan di sektor peternakan Indonesia yang diharapkan terus meningkat tiap tahun.

PT Esta Indonesia sebagai salah satu eksportir terbesar sarang burung walet di Indonesia, menjawab tantangan pemerintah dengan mengembangkan berbagai teknologi terapan. Mereka melakukan riset bersama CV Nore Inovasi untuk meningkatkan kualitas produksi sarang burung walet dari hulu hingga ke hilir produksi sarang burung walet.

”Kami, PT Esta Indonesia berkomitmen dalam mengembangkan teknologi untuk mendukung berkembangnya industri sarang burung walet di Indonesia,” ujar Director Research & Manufacturing Development PT Esta Indonesia Dian Rochyati.

Dia menjelaskan, pihaknya berhasil mengembangkan teknologi dalam memproses sarang burung walet tanpa melibatkan kimia dan ramah lingkungan. PT Esta Indonesia tetap menghasilkan produk yang berkualitas tinggi sesuai dengan standar pengolahan bahan pangan internasional.

”Rumah Budi Daya Walet Smart ini adalah salah satu teknologi yang kami kembangkan untuk menjaga kualitas dan juga meningkatkan produktivitas di hulu industri ini yaitu budi daya,” ujar Dian Rochyati.

Dia menjelaskan, Rumah Budi Daya Walet Smart menggunakan berbagai teknologi. Itu untuk menjaga rumah budi daya tetap ideal bagi berkembangnya burung walet. Dari mulai suhu udara, tingkat kelembapan, pencahayaan dan faktor-faktor lain.

”Kami gunakan sensor dengan sistem AI. Kami dapat menghitung jumlah populasi dan hasil petik. Semua teknologi ini dikontrol dan diawasi secara online melalui aplikasi dan software IOT yang kami kembangkan bersama CV Nore Inovasi,” papar Dian.

Menurut dia, hal itu memudahkan untuk memantau dan mengontrol rumah walet secara otomatis dan realtime. Rumah walet itu tersebar di berbagai daerah.

”Kami memastikan Rumah Budi Daya Walet Smart ini ramah lingkungan. Selain penanaman tumbuhan untuk mendukung ketersediaan pakan alami walet, kami juga mengembangkan speaker walet desibel rendah dengan frekuensi khusus yang efektif dan tidak menghasilkan polusi suara yang kerap menjadi masalah dan keluhan terhadap rumah-rumah budi daya walet konvensional,” terang Dian.

Dia menambahkan, PT Esta Indonesia menargetkan untuk mengaplikasikan teknologi Rumah Budi Daya Walet Smart di 30 lokasi di berbagai daerah pada 2023. Saat ini pihaknya membangun Rumah Budi Daya Walet Smart di Desa Donggulu, Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah, sebagai pilot project.

”Nanti diterapkan juga di berbagai daerah,” ucap Dian.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore