Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 12 Juli 2018 | 06.20 WIB

Aksi Band Amerika Serikat Mainkan Wayang dan Lantunkan Keroncong

Hannah Standiford dan personil lainnya saat memainkan lagu Walang Kekek. - Image

Hannah Standiford dan personil lainnya saat memainkan lagu Walang Kekek.

JawaPos.com - Musik keroncong sudah menjadi sesuatu yang khas di Indonesia, meski pun akar budayanya berasal dari bangsa Portugis. Pada perkembangannya, keroncong tak hanya digandrungi dan dilakoni musisi keroncong tanah air.


Tetapi, musik yang digandrungi mayoritas orang tua ini, juga disenangi musisi luar Indonesia. Salah satunya, grup keroncong asal Richmond, Amerika Serikat bernama Rumput. Grup itu tampil di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga hari ini (11/7).


Ada sejumlah hal menarik dari grup keroncong yang satu ini. Mulai dari lagu daerah dan kontemporer, hingga musik dengam lirik tiga bahasa. Yakni, bahasa Indonesia, Jawa dan Inggris.


Tapi itu belum seberapa. Rumput menampilkan konser keroncongnya disertai penampilan wayang. Ya, kesenian khas Jawa itu juga turut mengiringi lantunan keroncong. Hanya saja, wayang yang ditampilkan cukup berbeda.


Vokalis dan pemain Cak Band Rumput, Hannah Standiford mengatakan, wayang itu namanya crankie. Crankie adalah seni wayang khas orang Amerika Serikat (bukan penduduk pribumi Amerika).


Cara memainkannya dengan menggerakkan karakter datar seperti wayang biasa di belakang layar. "Itu bukan budayanya orang pribumi (di Amerika). Itu wayang khas orang bule (imigran Eropa) di Amerika," jelas Hannah ditemui JawaPos.com di FIB UNAIR, Rabu (11/7).


Awalnya, Hannah dan krunya mengaku kerepotan saat menggelar konser pertama di Jakarta, Salatiga dan Semarang. Bagaimana tidak, crankie itu awalnya berukuran lebar 91,44 cm dan panjang 182 cm.


Beruntung, saat konser di Solo, Hannah dan krunya meminta bantuan tukang kayu setempat. Crankie itu pun berhasil dimodifikasi hingga berukuran lebih kecil sekitar seperempat dari ukuran semula.


"Pembuatan sebuah crankie memakan waktu sekitar sebulan. Tapi tak butuh waktu lama saat kami memodifikasi crankie itu dengan tukang kayu di Solo," kata Hannah.


Bukan tanpa alasan. Hannah mengaku pertunjukkan crankie itu sebenarnya adalah sajian utamanya. Lakonnya, adalah dongeng asal Jack dan Pohon Kacang atau Jack and the Beanstalk.


Lalu, diiringi beberapa lagu jawa, barat, dan Indonesia yang dijadikan semacam soundtrack. Meski, ada beberapa lagu jawa yang dimainkan secara independen atau terlepas dari pertunjukan crankie.


Katanya, ide berawal dari penggabungan lagu-lagu Jawa, Indonesia dan Barat dalam musik keroncong. Lalu, metode mencampuradukkan itu merembet pada aspek seni pertunjukkan visual tradisional antara dua budaya.


"Lalu, saya pikir kenapa tidak menggabungkan saja konsep wayang kulit Jawa dengan Amerika (Cranky). Cranky itu sebenarnya esensi utama performance-nya," kata perempuan yang sempat menggeluti seni sinden itu.


Sebagai informasi, Band Rumput digawangi enam personel. Antara lain, John Priestley pada gitar, Kyle Dosier pada Cuk, Hannah Standiford pada Cak dan vokal, Andy McGraw pada Cello, Nat Quick pada bas dan Paul Wilson pada biola.


Selain di Surabaya, Semarang, Salatiga dan Jakarta, mereka juga akan perform di Solo dan Jogjakarta.

Editor: Budi Warsito
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore