
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat menyampaikan pidato di pelantikan bupati dan wakil bupati Tasikmalaya. (YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel)
JawaPos.com - Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi melontarkan pernyataan tegas dan mengejutkan usai melantik Bupati dan Wakil Bupati Tasikmalaya, Cecep Nurul Yakin dan Asep Sopari Al-Ayubi.
Dalam pidatonya yang viral di kanal YouTube pribadinya, Dedi secara terang-terangan menyentil fenomena "orang titipan" di tubuh pemerintahan pascapemilu.
Sebuah praktik yang kerap menjadi rahasia umum namun jarang dibicarakan seterang ini oleh pejabat publik.
“Kepada tim sukses, saya minta jangan minta apa pun, jangan sampai kantor pemerintah penuh oleh tim sukses!” tegas Dedi Mulyadi belum lama ini di Halaman Gedung Pakuan, Bandung.
Pernyataan tersebut merujuk pada fenomena kronis di dunia politik Indonesia: Setelah pemimpin daerah terpilih, barisan tim sukses dan "penumpang politik" sering kali menuntut balas jasa dalam bentuk jabatan strategis di pemerintahan. Praktik yang disebut-sebut sebagai 'politik balas budi' atau "politik titipan".
Dedi dengan lantang mengingatkan bahwa masa kerja tim sukses berakhir saat kepala daerah dilantik. Dan setelah itu, yang bekerja adalah aparatur sipil negara yang profesional, bukan mereka yang “berjasa dalam kampanye”.
“Partai politik menyampaikan aspirasi melalui DPRD, itulah cara berdemokrasi yang sehat,” ujar Dedi, menyindir halus praktik partai yang ‘bertransaksi’ jabatan di belakang layar.
Tak hanya menyoroti tim sukses, Dedi juga mendorong para kepala daerah untuk menunjukkan kepemimpinan berani dan teladan nyata, terutama di hadapan birokrasi.
“Kalau gubernurna maung (macan), bupatina oge kudu maung,” seru Dedi, menggunakan istilah khas Sunda yang menggambarkan ketegasan dan kepemimpinan yang garang namun bijak.
Dedi juga memaparkan target besar yang akan dikejar dalam tiga tahun ke depan di Jawa Barat, yakni seluruh infrastruktur jalan dibeton dan di-hotmix, setiap ruang kelas di sekolah memiliki toilet, pasar-pasar ditata rapi, dan penguatan program keluarga berencana.
Meski tak jelas siapa yang hendak ia sindir, pernyataan Dedi Mulyadi mempertegas keresahan publik terhadap fenomena "titipan politik", di mana orang-orang yang tidak kompeten, namun punya koneksi politik diberikan posisi strategis.
Fenomena ini tak hanya menurunkan kinerja birokrasi, tetapi juga mengikis kepercayaan publik terhadap netralitas dan profesionalitas aparatur negara.
Transaksionalisme politik semacam ini menjadi momok dalam sistem demokrasi elektoral di Indonesia. Tim sukses, donatur kampanye, dan kader partai yang merasa “berjasa” kerap mendesak mendapatkan jabatan, dari kepala dinas hingga komisaris BUMD.
Dedi Mulyadi, yang dikenal vokal dan nyentrik, menjadi satu dari sedikit tokoh yang berani membongkar praktik ini secara terang-terangan. Apakah ini akan menjadi awal perubahan? Atau justru akan menuai perlawanan dari lingkaran kekuasaan?

Prediksi Susunan Pemain Timnas Portugal vs RD Kongo: Vitinha Incar Gol Pertamanya
Bocor ke Publik! 2 Alasan Krusial Ramadhan Sananta Mau Gabung ke Persebaya Surabaya
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Daftar Pemain Ghana dan Panama di Grup L Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Austria vs Yordania di Piala Dunia 2026: Debut Bersejarah Wakil Asia Terancam di Laga Pertama
Sudah Masuk KBLI, Konten Kreator Didorong Punya NIB untuk Perkuat Legalitas
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Prediksi Skor Timnas Portugal vs RD Kongo, Duel Pembuka Grup K Piala Dunia 2026 yang Sarat Ambisi
Foto Prabowo-Gibran Dipasang di Salib Merah saat Demo di Monas, PMKRI: Simbol Dua Pendosa
