
Ermita adik kandung Ibu Beni bersama suaminya Syahrial mengenang sosok beni di kediamannya kawasan Nagari Malai Limo Suku Timur, Kabupaten Padang Pariaman, Sumbar, Kamis (10/5)
JawaPos.com - Tidak banyak yang tahu bagaimana sosok Abu Ibrahim alias Beni Syamsu alias Sutrisno napi teroris (napiter) yang tewas tertembak saat kerusuhan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Selasa malam (8/5). Bahkan, kerabat dekatnya sendiri pun tak begitu pribadi almarhum.
Informasi yang diperoleh JawaPos.com, anak pertama dari 8 bersaudara itu bahkan jarang sekali pulang kampung ke Nagari Malai Limo Suku Timur, Kecamatan Batang Gasan, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar) yang merupakan tanah kelahiranya.
"Dia jarang sekali pulang. Kalaupun pulang hanya sebentar," kata adik kandung ibu Beni Syamsu, Ermita 50, di kediamannya, kawasan Nagari Malai Limo Suku Timur, Kabupaten Padang Pariaman pada JawaPos.com, Kamis (10/5).
Terakhir lanjutnya, Beni pulang ke kampungnya sesaat setelah menikah. Namun, Beni hanya sebentar berada di kampungnya. Ia diketahui tinggal di Pekanbaru bersama istrinya.
"Sudah lama tidak ketemu. Itu saja anaknya sudah dua. Ndak ingat lagi kapan dia terakhir ke kampung," jelas adik Ibu Beni yang terkesan menutupi sosok Beni.
Bahkan ia mengungkapkan, informasi tewasnya Beni diketahuinya lewat berita di televisi. "Awalnya tidak tahu, karena namanya saja kami tahu itu dia," paparnya.
Karena jarang pulang kampung lanjut Erniat, Beni yang dikenal dengan nama Trisno itu bahkan tidak pandai berbahasa Minang. "Dia sejak kecil sudah di Pekanbaru. Nggak ngerti bahasa Minang," katanya.
Hal itu juga dibenarkan suaminya Syahrial, 53. Pamannya ini mengatakan, terakhir bertemu dengan Beni saat ia bekerja di rumah orangtuanya di Pekanbaru. Namun, Syahrial enggan menyebutkan kapan pertemuannya terakhir dengan teroris yang ditangkap di Pekanbaru pada Oktober 2017 itu.
"Darahnya Minangkabau, tapi tak bisa Bahasa Minang. Namanya juga Trisno. Sering saya ledekin itu," aku Syahrial.
Saat ini kata Ernita, sejumlah pihak keluarga termasuk istri almarhum telah bertolak ke Nagari Ketaping, Kabupaten Padang Pariaman.
Informasinya, karena ditolak dimakamkan di tanah kelahirannya, keluarga berencana memakamkan Beni di Ketaping, kawasan dekat rumah kakak ibu kandungnya.
"Pihak keluarga di Ketaping menunggu jenazah," terangnya.
Terkait penolakan jenazah keponakannya di kampung itu sendiri, Ernita enggan berkomentar. "Ndak tau saya soal kenapa itu," bebernya.
Wali Nagari (desa) Malai Limo Suku Timur terpilih, Buyung Intan mengakui, memang kesepakatannya dengan pihak keluarga; masyarakat; tokoh adat; keberatan jika jenazah Trisno dimakamkan di Nagari Malai Limo Suku.
"Kami bukan menolak, namun dengan pertimbangan tadi. Dengan berat hati, keluarga menerima pemakaman tidak di sini. Kami minta makamkanlah di tempat lain atau di tempat domisili terakhir," jelas Buyung Intan.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
