
Calon Wakil Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi ketika menyapa seorang nenek di Teluk Jambe, Karawang, Jawa Barat.
JawaPos.com - Calon Wakil Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali meneruskan perjalanan 'kukurusukan' ke daerah di Jawa Barat.
Calon wakil gubernur bernomor urut 4 tersebut terlihat hadir di Kabupaten Sukabumi, Jumat (2/3).
Kampung Cipancur RT26 RW06, Desa Padaasih, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi menjadi target pertama kunjungannya.
Di sini, dia mendengarkan keluh kesah Yayah (49), seorang warga yang setiap hari berjibaku di sawah.
Dia berprofesi sebagai buruh tani dan merawat sawah milik salah satu tokoh desa setempat.
Kepada Dedi, Yayah menceritakan bahwa sistem upah di daerahnya adalah bagi hasil. Dalam setiap panen, dia mendapatkan 1:10, artinya dari setiap 10 kilogram hasil panen, dia mendapatkan 1 kilogram.
"Kalau di sini mah kecil Pak, kita dapat 1 kilogram dari 10 kilogram hasil panen," keluhnya sebagaimana dilansir RMOl Jabar (Jawa Pos Grup).
Menurut Dedi Mulyadi, kecilnya nilai bagi hasil mencerminkan mahalnya nilai padi dan beras di sebuah daerah. Penyebabnya, lahan pertanian semakin sempit sehingga nilai padi dan beras menjadi meningkat.
Di berbagai tempat, pria yang sudah belajar bertani sejak dari bangku sekolah dasar itu masih menemukan nilai lebih besar.
Di Purwakarta, Subang dan Indramayu misalnya, perbandingan bagi hasil masih 1:6. Artinya, setiap enam kilogram yang diperoleh pemilik lahan, buruh tani mendapatkan satu kilogram.
"Ini akibat lahan pertanian makin sempit, makanya nilai padi menjadi mahal. Imbasnya, bagi hasil kepada buruh tani makin kecil," kata Dedi.
Karena itu, Dedi Mulyadi yang berhasil menerapkan prinsip Marhaenisme di Purwakarta itu memiliki solusi. Di Purwakarta, dia berhasil mencetak lahan sawah baru.
Hasilnya, produksi padi meningkat dan kini Purwakarta mengalami surplus sebanyak 20 ribu ton beras.
Cara tersebut dia nilai dapat dilakukan di Jawa Barat. Pemerintah provinsi harus mencetak lahan sawah baru untuk menjaga kedaulatan pangan.
Selain itu, pembelian sawah milik tuan tanah oleh pemerintah juga penting dilakukan. Sawah-sawah tersebut diserahkan secara pengelolaan kepada masyarakat setempat. Menurut dia, cara ini dapat menyelematkan hajat hidup buruh tani di daerah.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
