
Kepala BPBD Pemprov Jatim Suban Wahyudiono memberikan penghargaan Kepala Pelaksana Banyuwangi Fajar Suasana
JawaPos.com – Indonesia mendapat cobaan bertubi-tubi dengan berbagai bencana alam yang melanda beberapa daerah. Kesiapan daerah dalam menghadapi bencana menjadi keharusan. Salah satu yang mendapat pengakuan siap adalah Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi.
Pada Jumat (12/10), Desa Grajagan mendapatkan penghargaan sebagai “Desa Tangguh Bencana” dari Pemprov Jawa Timur. Desa itu dianggap memiliki kemampuan mandiri untuk beradaptasi menghadapi potensi ancaman bencana.
Penghargaan diserahkan oleh Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemprov Jatim Suban Wahyudiono kepada Kepala Pelaksana Banyuwangi Fajar Suasana di Gedung Grahadi Surabaya. Fajar mengatakan, diraihnya penghargaan Desa Tangguh Bencana ini, karena adanya partisipasi dan kapasitas warga Desa Grajagan dalam merespon bencana.
Seperti, kesiapan warga memiliki kemampuan dalam merespons peringatan dini tsunami. Termasuk, tindakan apa yang harus dilakukan ketiaka ada peringatan dini itu.
“Kami terjun ke Desa Grajagan untuk memberikan sosialisasi dan edukasi tanggap bencana. Partisipasi warga sangat baik, mereka terlibat dalam setiap pelatihan yang kami berikan. Hingga desa tersebut dideklarasikan sebagai Desa Tangguh Bencana,” kata Fajar.
Desa Grajagan Banyuwangi memiliki potensi benca tsunami karena lokasinya berada di pinggir Pantai Grajagan yang langsung berhadapan dengan Samudara Indonesia. Desa ini terletak di ujung selatan Banyuwangi, sekitar tiga jam dari pusat kota.
“Desa ini memang rawan bencana. Karenanya kami memberikan perhatian khusus agar warga mampu mengantisipasi risiko terjadinya bencana,” kata Fajar.
Saat ini, di Desa Grajagan telah terbentuk lembaga dan regulasi penanganan bencana. Seperti adanya relawan bencana yang terdiri atas warga setempat serta Forum Pengurangan Risiko Bencana yang beranggotakan tokoh-tokoh masyarakat.
"Juga telah memiliki tata tertib rutin maupun insidentil untuk penanganan bencana. Desanya juga memiliki perencanaan dan penganggaran untuk menghadapi potensi bencana," kata Fajar.
Fajar melanjutkan, penilaian baik juga datang karena adanya inovasi warga dalam penanggulangan warga. Dimana warga memanfaatkan kearifan lokal yang ada sebagai bagian dari proses mitigasi bencana.
"Warga juga sudah membuat jalur evakuasi yang mudah dilalui menuju tebing-tebing di sekitar desa. Inovasi lainnya, para relawan ini juga aktif melakukan gerakan pengurangan sampah. Mereka aktif mengajarkan warga bagaimana meminimalisir produksi sampah," kata Fajar.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
