
Relawan Indonesia Care memberikan trauma healing untuk anak-anak korban gempa Pulau Bawean, Gresik.
JawaPos.com - Status tanggap darurat terhadap bencana gempa yang melanda Pulau Bawean, Jawa Timur, sudah berakhir. Meskipun begitu, para korban masih trauma. Korban yang kehilangan rumah dan belum mampu membangun kembali memilih tetap berada di tenda pengungsian.
Hal ini menjadi masalah bagi para korban gempa. Bantuan untuk mereka sudah mulai berhenti mengalir. Ekonominya belum pulih. Meski begitu, para korban masih mendapat bantuan dari para relawan, di antaranya berasal dari lembaga kemanusiaan Indonesia CARE.
"Alhamdulillah dalam kondisi seperti ini kami masih ada di sini membersamai mereka. Kehadiran kami di Dusun Batulintang Bawean diterima baik oleh masyarakat. Di sini kami mengadakan kegiatan edukasi mitigasi bencana dan trauma healing," ujar tim relawan Indonesia CARE di Bawean, Franky Pratama kepada wartawan, Kamis (18/4).
Indonesia CARE melakukan kegiatan di Dusun Batulintang, Desa Teluk Jatidawang, Kecamatan Tambak, Kabupaten Gresik. Kawasan itu termasuk yang cukup parah terdampak gempa yang terjadi pada pada 22 Maret silam. Kala itu gempa mengguncang Pulau Bawean, Kabupaten Gresik dengan kekuatan 6,5 magnitudo. Tidak sampai di situ, gempa susulan mengguncang Bawean mencapai 550 kali.
Di Dusun Batulintang terdapat 80 kepala keluarga (KK) yang terdampak gempa. Rumah umumnya mengalami rusak berat hingga ringan.
Pantauan relawan Indonesia CARE, hingga hari ke-27 sejak pertama kali gempa besar melanda, satu tenda pengungsian ukuran besar masih ditempati 6 keluarga.
"Sisanya, masyarakat Dusun Batulintang memilih mengungsi di teras rumahnya masing-masing. Trauma masih menyelimuti penduduk, sehingga mereka tak berani masuk ke dalam rumah walau masih utuh bangunannya," ungkap Franky.
Solihin, Kepala Dusun Batu Lintang, menuturkan bahwa selama ini belum pernah ada riwayat gempa dan bencana besar di kampungnya. "Seumur-umur saya hidup di Bawean enggak pernah ada gempa. Sekali gempa, besar sekali kehancurannya. Ini yang membuat saya dan masyarakat Bawean jadi trauma. Apalagi masih terus terjadi gempa susulan setiap hari," ujarnya usai menyaksikan kegiatan trauma healing yang diberikan relawan Indonesia CARE.
Secara terpisah, Direktur Eksekutif Indonesia CARE Lukman Azis Kurniawan mengajak masyarakat untuk tetap peduli meskipun tak ada lagi pemberitaan dari lokasi bencana.
"Karena saat tak ada lagi bantuan logistik yang masuk, justru saat itulah rasa sedih, terpukul dan trauma berat sedang melanda para penyintas. Tak ada lagi yang menghibur dan dibutuhkan pendampingan hingga mereka bisa bangkit kembali," tandas Lukman.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
