Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 5 Maret 2024 | 02.22 WIB

KPPU Telusuri Tingginya Harga Beras di Jogjakarta

Ilustrasi beras yang dijual di pasar. - Image

Ilustrasi beras yang dijual di pasar.

JawaPos.com–Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Daerah Istimewa Jogjakarta menelusuri penyebab masih tingginya harga beras. KPPU menggencarkan pemantauan di level hulu hingga hilir.

”Pantauan rutin setiap minggu. Kita turun di pasar tradisional dan ritel modern. Pergerakan harga kita pantau terus,” kata Kepala Bidang Kajian dan Advokasi KPPU DI Jogjakarta Sinta Hapsari seperti dilansir dari Antara di Jogjakarta, Senin (4/3).

Menurut Sinta, pantauan di lapangan digencarkan untuk mengetahui ada atau tidaknya perilaku pedagang yang melanggar UU No 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Berdasar hasil pantauan sementara, KPPU DI Jogjakarta belum menemukan praktik pelanggaran regulasi itu.

”Sejauh ini belum ada (persaingan usaha tidak sehat). Kami juga sudah bicara dengan asosiasi penggilingan padi juga,” ujar Sinta Hapsari.

Kajian terhadap tingginya harga beras di DI Jogjakarta, lanjut Sinta, tidak sekadar berfokus pada perilaku pedagang. Akan tetapi berpijak pula pada ketersediaan beras di lapangan yang tidak jauh berbeda dengan kondisi nasional.

Menurut Sinta, melambungnya harga beras antara lain dipengaruhi alih fungsi lahan pertanian yang terus meluas, tingginya harga pupuk, persoalan iklim, hingga berkurangnya SDM petani yang mengakibatkan produksi beras merosot.

”Sedangkan permintaan naik terus. Kalau dari gambaran secara nasional saja kita lumayan besar antara produksi beras dan konsumsi. Sementara budaya makan kita kalau enggak makan nasi belum kenyang,” tutur Sinta Hapsari.

Selain itu, harga gabah kering giling (GKG) di level petani yang menyentuh Rp 9.000 per kg, juga membuat kenaikan harga beras baik premium maupun medium tidak terelakkan hingga melampaui harga eceran tertinggi (HET). Berdasar kajian KPPU DI Jogjakarta, lonjakan harga beras sudah terjadi sejak 2021 dengan frekuensi kenaikan yang terus meningkat.

Dia berharap masa panen raya padi di DI Jogjakarta yang diperkirakan pada April-Mei mampu menekan biaya produksi beras.

Sebelumnya, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DI Jogjakarta menyebutkan potensi panen raya padi pada April-Mei di wilayah itu mencapai 303.542 ton gabah kering giling (GKG), sehingga diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakat dan menekan harga beras di pasaran.

Kepala Bidang Tanaman Pangan DPKP DI Jogjakarta Andi Nawa Candra menuturkan masa tanam padi di DI Jogjakarta yang sesuai siklus jatuh pada Oktober-Desember 2023, harus mundur karena hujan baru turun pada Januari 2024 akibat fenomena El Nino. Dengan demikian, apabila diakumulasi, potensi produksi padi di DI Jogjakarta sejak Januari hingga Mei diperkirakan total mencapai 389.001 ton GKG atau setara 245.849 ton beras dengan luas lahan panen mencapai 68.121 hektare sawah.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore