
Ilustrasi beras yang dijual di pasar.
JawaPos.com–Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Daerah Istimewa Jogjakarta menelusuri penyebab masih tingginya harga beras. KPPU menggencarkan pemantauan di level hulu hingga hilir.
”Pantauan rutin setiap minggu. Kita turun di pasar tradisional dan ritel modern. Pergerakan harga kita pantau terus,” kata Kepala Bidang Kajian dan Advokasi KPPU DI Jogjakarta Sinta Hapsari seperti dilansir dari Antara di Jogjakarta, Senin (4/3).
Menurut Sinta, pantauan di lapangan digencarkan untuk mengetahui ada atau tidaknya perilaku pedagang yang melanggar UU No 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Berdasar hasil pantauan sementara, KPPU DI Jogjakarta belum menemukan praktik pelanggaran regulasi itu.
”Sejauh ini belum ada (persaingan usaha tidak sehat). Kami juga sudah bicara dengan asosiasi penggilingan padi juga,” ujar Sinta Hapsari.
Kajian terhadap tingginya harga beras di DI Jogjakarta, lanjut Sinta, tidak sekadar berfokus pada perilaku pedagang. Akan tetapi berpijak pula pada ketersediaan beras di lapangan yang tidak jauh berbeda dengan kondisi nasional.
Menurut Sinta, melambungnya harga beras antara lain dipengaruhi alih fungsi lahan pertanian yang terus meluas, tingginya harga pupuk, persoalan iklim, hingga berkurangnya SDM petani yang mengakibatkan produksi beras merosot.
”Sedangkan permintaan naik terus. Kalau dari gambaran secara nasional saja kita lumayan besar antara produksi beras dan konsumsi. Sementara budaya makan kita kalau enggak makan nasi belum kenyang,” tutur Sinta Hapsari.
Selain itu, harga gabah kering giling (GKG) di level petani yang menyentuh Rp 9.000 per kg, juga membuat kenaikan harga beras baik premium maupun medium tidak terelakkan hingga melampaui harga eceran tertinggi (HET). Berdasar kajian KPPU DI Jogjakarta, lonjakan harga beras sudah terjadi sejak 2021 dengan frekuensi kenaikan yang terus meningkat.
Dia berharap masa panen raya padi di DI Jogjakarta yang diperkirakan pada April-Mei mampu menekan biaya produksi beras.
Sebelumnya, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DI Jogjakarta menyebutkan potensi panen raya padi pada April-Mei di wilayah itu mencapai 303.542 ton gabah kering giling (GKG), sehingga diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakat dan menekan harga beras di pasaran.
Kepala Bidang Tanaman Pangan DPKP DI Jogjakarta Andi Nawa Candra menuturkan masa tanam padi di DI Jogjakarta yang sesuai siklus jatuh pada Oktober-Desember 2023, harus mundur karena hujan baru turun pada Januari 2024 akibat fenomena El Nino. Dengan demikian, apabila diakumulasi, potensi produksi padi di DI Jogjakarta sejak Januari hingga Mei diperkirakan total mencapai 389.001 ton GKG atau setara 245.849 ton beras dengan luas lahan panen mencapai 68.121 hektare sawah.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
