Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 2 Agustus 2018 | 16.10 WIB

Iseng Terapi Asma, Naufal Malah Jadi Atlet Renang Terbaik

BERPRESTASI: Naufal Yudha dan kepala sekolah SMP Negeri 3 Sleman - Image

BERPRESTASI: Naufal Yudha dan kepala sekolah SMP Negeri 3 Sleman

JawaPos.com - Tak disangka, potensi yang ada di dalam diri anak muda bernama Muhammad Naufal Yudha diketahui ketika berobat. Bakat yang ia asah terus pun membuat siswa kelas 9 Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 3 Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) ini tergelontor medali-medali emas kejuaran tingkat nasional.


Naufal Yudha, 14, remaja berbadan tegap dengan perawakan tinggi ini merupakan putra pasangan dari Triyanto, 42 dan Tri yunaini, 37. Tinggal di Apartemen Pamungkas, Ring Road Barat, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman.


Sewaktu kecil, Naufal Yudha sudah menderita sakit asma. Ketika berumur 3,5 tahun ia pun didampingi orangtuanya melakukan terapi pengobatan, yaitu berolahraga renang.


Naufal Yudha ketika itu sudah terlihat memiliki bakat berenang. Orangtuanya yang juga merupakan atlet Voli pun berinisiatif untuk memasukkan ke dalam sebuah klub. Untuk menggembleng bakatnya tersebut. "Dulu itu awalnya cuma untuk terapi sakit asma saya," katanya, menceritakan kisahnya, Rabu (1/8).


Benar saja, berangsurnya waktu, berkat tempaan dan kedisiplinan ia berhasil mendapatkan berbagai prestasi. Sedikitnya saat ini sudah ada 10 medali emas yang didapatkannya.


Seperti pada 2015 lalu, dalam kejuaraan Piala Presiden di Jakarta tingkat usia 12 tahun menjadi juara 1. Pada tahun yang sama juga menjadi juara pertama saat Olimpiade tingkat nasional di Makassar.


Tahun selanjutnya, ia mendapatkan 10 medali emas renang berbagai gaya, serta menjadi perenang terbaik usia 13 tahun se-Indonesia. "Ayah atlet Voli, Ibu atlet Judo. Kalau saya pilih renang, karena yang bisa nyembuhin penyakit saya," katanya.


Meski sudah mendapatkan banyak prestasi, namun ia masih punya banyak mimpi. Baik pencapaian dirinya sendiri, orangtua, maupun untuk kebanggaan daerah tempatnya tinggal.


"Sekarang sudah Pelatda (Pemusatan Latihan Daerah). Saya ingin mempersembahkan medali emas pada PON 2019 di Papua nanti untuk DIJ," ucapnya.


Selain di Pelatda maupun di klubnya, ia pun menambah jam latihannya sendiri. Hampir 10-12 kali dalam seminggu ia melakukan latihan ini. "Setiap latihan 2 jam. Sekolah pun sudah tahu dan ada izinnya," kata dia.


Murdiwiyono, Kepala Sekolah di SMP Negeri 3 Sleman mengatakan, Naufal Yudha merupakan 1 diantara beberapa siswanya di kelas khusus olahraga yang sudah menorehkan prestasi tingkat nasional.


Meski ada semacam dispensasi dalam jam pelajaran normalnya, namun para siswa di kelas olahraga ini tetap mendapatkan hak yang sama seperti murid lainnya. Seperti misal keterlambatan masuk 10-15 menit, karena harus mengikuti latihan pagi terlebih dahulu.


Ketika mengikuti kejuaraan di luar daerah pun, guru kelasnya tetap melakukan pemantauan. Serta memberikan tugas-tugas seperti yang lain, supaya tidak ketinggalan. "Kami manfaatkan teknologi juga. Guru mengirim soal-soal melalui WhatsApp, lalu hasil yang dikerjakan nanti juga dikirim ke WhatsApp pula. Guru juga memantau kondisinya, ketika siswa itu di luar daerah sedang ikut kejuaraan," ucapnya.

Editor: Sari Hardiyanto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore