Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 1 Desember 2022 | 03.08 WIB

PDFI Ungkap Hasil Otopsi Korban Tragedi Kanjuruhan

Ketua Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia (PDFI) Cabang Jawa Timur Nabil Bahasuan. Willi Irawan/Antara - Image

Ketua Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia (PDFI) Cabang Jawa Timur Nabil Bahasuan. Willi Irawan/Antara

JawaPos.com–Ketua Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia (PDFI) Cabang Jawa Timur Nabil Bahasuan mengungkapkan hasil otopsi terhadap dua jenazah Aremanita (suporter perempuan Arema) korban tragedi Kanjuruhan, Malang.

Nabil mengatakan, dua jenazah Aremanita yang telah diotopsi pada Sabtu (5/11) adalah NDR, 16, dan NDA, 13.

”Kesimpulan dari proses otopsi jenazah NDR didapati adanya tanda bekas kekerasan benda tumpul,” ungkap Nabil seperti dilansir dari Antara.

Kemudian, lanjut dia, patah tulang pada susunan tulang iga dan terdapat pendarahan dalam kategori jumlah yang banyak. ”Adanya patah tulang iga, 2, 3, 4, 5, dan di sana ditemukan perdarahan yang cukup banyak. Sehingga itu membuat sebab kematiannya,” sebut Nabil.

Sejumlah temuan pada jenazah NDR itu, juga didapati pada jenazah NDA. Nabil menjelaskan, jenazah NDR didapati mengalami patah tulang sebagian pada susunan tulang iga sisi kanan. ”Kemudian, adiknya NDA, juga sama tapi ada di tulang dadanya. Patahnya itu. Juga di sebagian tulang iga, sebelah kanan,” ucap Nabil.

Meski begitu, Nabil tidak bisa menjelaskan secara detail kekerasan benda tumpul yang menjadi sebab kematian kedua jenazah korban itu bersumber dari apa. Penjelasan lebih detail mengenai penyebab kekerasan benda tumpul tersebut hanya bisa dijelaskan penyidik kasus tersebut.

”Di kedokteran forensik kita tidak bisa mengatakan itu karena apa. Tapi karena kekerasan benda tumpul. Untuk pastinya, tentu di penyidikan yang tahu,” tutur Nabil.

Selain itu, Nabil mengungkapkan berdasar hasil penelitian Toxicologi, pihaknya tidak menemukan adanya paparan zat senyawa dalam gas air mata pada sistem organ pernapasan dalam tubuh kedua jenazah korban tersebut.

”Dari hasil pengumpulan sampel yang ada pada kedua korban. Kami sudah mengumpulkan kepada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan didapatkan tidak terdeteksi adanya gas air mata tersebut,” terang Nabil.

”Untuk lebih jelasnya nanti di pengadilan bisa didatangkan ahli dari BRIN tersebut yang memeriksa hasil sampel toxicologi kita,” tambah dia.

Dia menegaskan, penelitian atas dugaan adanya senyawa zat gas air mata yang menjadi sebab kematian korban, juga menjadi salah satu aspek terpenting dalam penelitian dan pemeriksaan selama proses otopsi kedua jenazah tersebut.

”Dari pemeriksaan toxicologi, tidak terdeteksi adanya gas air mata. Karena kita fokus pada gas air mata, untuk toxicologi. Untuk patologi anatomi. Kita fokus pada adanya keradangan. Dan nanti akan saya jelaskan di visum, sudah ada,” ujar Nabil.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore