Ilustrasi: Korban pencolokan dengan tusuk bakso di Gresik kemarin (18/9).
JawaPos.com - Mata seorang siswa SD di Jombang hampir saja mengalami kebutaan akibat terlempar kayu temannya saat sedang bermain.
Akibat kejadian tersebut, Dinas P dan K Jombang sudah melakukan pemanggilan terhadap pihak sekolah.
Dinas P dan K juga menyebutkan bahwa kejadian tersebut akan menjadi bahan evaluasi dan pelajaran penting bagi semua pihak.
"Kita berharap, pengawasan di pergantian jam dilakukan lebih ketat," kata Senen, kepala Dinas P dan K Jombang, dikutip dari Radar Jombang (Jawa Pos Group) pada Jumat (16/2).
Senen juga memastikan bahwa kejadian tersebut bukan bullying, melainkan murni kecelakaan yang disebabkan karena ketidaksengajaan saat sedang bermain.
"Orang tua yang bersangkutan juga siap membantu biaya pengobatan," jelasnya.
Dirinya juga berharap kejadian serupa tidak terjadi lagi di sekolah. Dalam hal ini, pengawasan di kelas saat pergantian jam mengajar guru harus dilakukan lebih ketat.
Salah satunya dengan tidak membiarkan siswa bermain dengan benda-benda yang membahayakan.
Terkait bullying, Senen mengatakan jika kekerasan siswa yang terjadi di sekolah biasanya terjadi karena hal-hal sepele.
Misalnya saja terkait omongan ataupun sapaan yang menyinggung. Hal tersebut dapat menyebabkan pertengkaran antar siswa.
Senen sendiri sering mengingatkan siswa agar tidak melakukan aksi bullying, baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah. Sebab pelaku bisa dikenakan sanksi hukum.
"Hal itu sering sekali saya sampaikan pada setiap kesempatan, di SMP maupun SD, kita harus cegah bullying," tegasnya.
Sayangnya, aturan sanksi yang diberlakukan di sekolah terhadap pelaku bullying masih belum maksimal karena terbentur dengan aturan lainnya.
Seperti adanya larangan untuk mengeluarkan siswa dari sekolah. Di mana siswa usia SD dan SMP wajib mendapatkan pendidikan.
"Pada prinsipnya, mengeluarkan siswa dari sekolah itu tidak boleh, karena belajar merupakan hak siswa," tegasnya.
Terpisah, Kepala SD Plus Darul Ulum Jombang, Ike Sinta Dewi, pada Senin (22/1) membenarkan terkait adanya kecelakaan di dalam sekolah yang menyebabkan mata salah seorang siswanya terluka.
"Kami pastikan itu bukan bullying, tapi kecelakaan," ungkapnya.
Bahkan dirinya juga mengaku sudah melakukan mediasi.
"Mediasi masih terus kami lakukan," ujarnya.
Sedangkan korban sempat dirawat empat hari di RSUD Jombang dan sekali melakukan operasi di RS Mata Undaan. Dari hasil pemeriksaan, penglihatan anaknya baru pulih 20 persen.
Sementara itu, orang tua korban, Erna Widyawati menuntut agar orang tua pelaku membantu pengobatan anaknya sampai sembuh.
Namun, orang tua pelaku diketahui hanya mau membantu pengobatan Rp 10 juta.