Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 26 Januari 2024 | 18.13 WIB

Canggih, Menanam Kedelai di Madura Pakai Drone

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menanam kedelai menggunakan drone di lahan seluas 3,5 hektare di Desa Dlemer, Kabupaten Bangkalan. - Image

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menanam kedelai menggunakan drone di lahan seluas 3,5 hektare di Desa Dlemer, Kabupaten Bangkalan.

JawaPos.com–Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menanam kedelai menggunakan drone di lahan seluas 3,5 hektare di Desa Dlemer, Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan.

Penanaman lewat teknologi itu merupakan bagian dari gerakan swasembada kedelai dengan teknologi smart precision farming dan pupuk bio organik attapulgite. Metode itu jauh lebih efisien dibandingkan proses manual.

”Menurut saya ini new hope, harapan baru. Karena ini daerah yang sebelumnya selama 25 tahun menjadi lahan tidur. Lalu ini diolah 5 hari dan kemudian siap untuk ditebarkan benih kedelai,” ujar Khofifah.

Proses penanaman kedelai menggunakan drone iyu bekerja sama dengan PT Hudson Global Indonesia. Durasi penanaman hanya perlu waktu 10-15 menit per hektare, jauh lebih cepat daripada proses manual yang sering kali membutuhkan waktu lebih dari sehari.

Selain itu, lanjut Gubernur Khofifah, biaya yang dikeluarkan juga jauh lebih murah. Yakni di kisaran Rp 150 ribu, lebih kecil dari manual yang membutuhkan anggaran hampir Rp 2 juta.

”Ini harapan baru bagi proses produktivitas lahan yang ideal menurut saya. Ini luar biasa dengan precision smart farming karena kebutuhan teknologi di berbagai sektor, terutama di sektor pertanian, menjadi penting,” ujar Khofifah.

Gubernur Khofifah menambahkan, ketika metode itu berhasil, proses yang sama dapat diaplikasikan di desa-desa lain di Bangkalan dan di Jawa Timur. Sehingga visi Bangkalan untuk menjadi sentra kedelai nasional dapat tercapai.

Khofifah menambahkan, jika metode itu diaplikasikan di wilayah Jawa Timur, diharapkan dapat meningkatkan produksi kedelai. Karena impor kedelai Indonesia hari ini sangat tinggi. Pasalnya, kebutuhan kedelai di Indonesia untuk lauk seperti tempe dan tahu sangat tinggi.

”Kita harus menyesuaikan harga yang signifikan. Karena kalau misalnya nilai tukar rupiah melemah kemudian harus membayar harga import kedelai dengan dolar, maka kedelai untuk industri kita harganya menjadi tinggi,” ungkap Khofifah.

Gubernur Khofifah juga mengapresiasi semua elemen yang telah berkolaborasi menyukseskan kegiatan tersebut. Mulai dari Badan Ketahanan Pangan Nasional, PT Hudson Global Indonesia, Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur, kelompok tani, dan segenap stakeholder yang terlibat.

Sementara itu, Deputi Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Nasional Andriko Noto Susanto mengatakan, kebutuhan kedelai nasional 2,3 juta ton. Sebanyak 2.165.000 ton di antaranya digunakan untuk pangan.

”Tanah di Bangkalan ini cocok untuk kedelai. Kita awali dengan 3,5 hektare ini, insya Allah akan berlanjut 200 hektare,” terang Andriko Noto Susanto.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore