Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 19 Mei 2021 | 14.14 WIB

Epidemiolog Minta Pemerintah Evaluasi Manajemen Pengendalian Pandemi

Ahli epidemiologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Riris Andono Ahmad (kiri) bersama Wakil Ketua Sekretariat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 DIY Biwara Yuswantana. Humas Pemda Jogjakarta/Antara - Image

Ahli epidemiologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Riris Andono Ahmad (kiri) bersama Wakil Ketua Sekretariat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 DIY Biwara Yuswantana. Humas Pemda Jogjakarta/Antara

JawaPos.com–Pakar Epidemiologi Universitas Gadjah Mada (UGM) mendorong pemerintah mengevaluasi manajemen pengendalian pandemi. Terutama terhadap peningkatan kasus kematian akibat Covid-19 di Tanah Air.

Pakar epidemiologi UGM Riris Andono Ahmad menyebutkan, dengan evaluasi manajemen pengendalian diharapkan segera diketahui faktor mana saja yang berkontribusi besar terhadap angka kematian akibat Covid-19.

”Sekarang titik letaknya ada di mana? Bisa saja, misalnya terkait akses di mana pasien Covid-19 berat berasal dari sosial ekonomi menengah ke bawah dan akses mendapatkan layanan kesehatan lebih sulit sehingga sampai ke layanan kesehatan lambat sehingga kemungkinan terjadi kematian sangat besar,” kata Riris Andono Ahmad seperti dilansir dari Antara.

Berdasar data yang dihimpun Satgas Covid-19 pada 15 Mei, angka kematian akibat Covid-19 di Tanah Air sebesar 2,76 persen. Meningkat dari sebelumnya per Februari 2021 sebesar 2,75 persen, sedangkan persentase kasus angka kematian akibat Covid-19 di dunia sebesar 2,07 persen.

”Penyebab pasti kematian akibat Covid-19 tidak bisa diketahui tanpa adanya audit kematian,” ujar Riris Andono Ahmad.

Menurut dia, banyak faktor yang bisa memengaruhi hal tersebut. Salah satunya terkait akses layanan kesehatan serta terkait bagaimana layanan kesehatan mampu mengelola kasus secara kuat dan bermutu.

Selain itu, lanjut dia, peningkatan kasus kematian bisa saja terkait dengan sistem rujukan. Meskipun telah ada sistem rujukan, hal tersebut belum disesuaikan situasi pandemi saat ini yang membutuhkan kecepatan penanganan.

Karena tidak adanya sistem rujukan yang cepat, kata dia, menjadikan layanan terhadap pasien Covid-19 kategori berat berjalan lambat sehingga memperbesar kemungkinan terjadinya kematian. ”Faktor lain adanya varian baru Covid-19 yang dikabarkan memiliki tingkat penularan lebih tinggi. Namun, ini semua hipotetikal, mana yang memengaruhi secara riil di lapangan belum diketahui secara pasti,” papar Riris Andono Ahmad.

Dia menambahkan, untuk menekan angka kasus kematian akibat Covid-19, tidak cukup hanya dilakukan pemerintah dengan mengevaluasi manajemen kasus terhadap kematian akibat Covid-19. Masyarakat juga diharapkan mengambil bagian dengan disiplin menjalankan protokol kesehatan dengan mematuhi 5M. Yakni memakai masker, mencuci tangan dengan sabun di air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

”Masyarakat harus tetap menjalankan prokes, 5M, yang menjadi senjata unggulan untuk mencegah Covid-19,” ucap Riris Andono Ahmad.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore