
Ilustrasi cuaca terik di kawasan Sanur, Denpasar, Bali.
JawaPos.com–Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar mendata kekeringan di Bali makin meluas. Dari 26 kecamatan pada minggu ketiga Oktober menjadi 35 kecamatan memasuki November.
”Daerah tanpa hujan berturut-turut di wilayah itu hingga 121 hari,” kata Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Wilayah III Denpasar I Nyoman Gede Wiryajaya seperti dilansir dari Antara di Denpasar, Rabu (1/11).
Dia menjelaskan, kecamatan di Bali yang masuk peringatan dini kekeringan meliputi Kabupaten Buleleng yakni di Buleleng, Gerokgak, Kubutambahan, Sawan, Seririt, dan Tejakula. Kemudian di Kabupaten Jembrana yakni di Melaya, Pekutatan, dan Mendoyo.
”Dia Kabupaten Tabanan yakni di kecamatan Kediri, Marga, Penebel, Kerambitan, dan Tabanan,” papar I Nyoman Gede Wiryajaya.
Selanjutnya di Kabupaten Bangli di Bangli yakni Kecamatan Tembuku dan Kintamani. Sedangkan di Kabupaten Karangasem yakni di Abang, Karangasem, dan Kubu. Selain itu, di Kabupaten Badung di Kuta, Kuta Utara, Kuta Selatan, Mengwi.
”Di Kabupaten Klungkung di Kecamatan Dawan dan Nusa Penida,” terang I Nyoman Gede Wiryajaya.
Wilayah lain yang mengalami kekeringan yakni di Kabupaten Gianyar meliputi Payangan, Sukawati, Blahbatuh, Tampaksiring, dan Ubud; serta di Kota Denpasar yakni di Denpasar Timur, Denpasar Barat, Denpasar Utara, dan Denpasar Selatan.
Wiryajaya menambahkan, kecamatan dengan hari tanpa hujan paling banyak berturut-turut yakni di Kecamatan Kubu selama 121 hari, Kubutambahan selama 120 hari, dan Gerokgak selama 115 hari. Meski begitu, BBMKG Denpasar mendata masih berpotensi terjadi hujan di sejumlah kawasan di Bali diperkirakan selama periode 1-10 November. Yakni di Kabupaten Tabanan, Kecamatan Pekutatan, Busungbiu, dan Seririt.
”Kemudian di Sukasada, Banjar, Petang, Abiansemal, Mengwi, Payangan, Tegalalang, Tampaksiring, Susut, Tembuku, Bangli, Selat, Sidemen, dan Rendang. Distribusi curah hujan di Bali secara umum antara nol hingga 86,5 milimeter per 10 hari,” papar I Nyoman Gede Wiryajaya.
BBMKG Denpasar akan memperbarui pemantauan potensi kekeringan dan musim hujan di Bali per dasarian atau per 10 hari.
BBMKG Denpasar memperkirakan puncak musim hujan di Bali terjadi pada Januari 2024 dengan curah hujan diperkirakan pada rentang 500-600 milimeter per bulan. Sehingga, perlu diwaspadai dampak bencana hidrometeorologi di antaranya banjir dan tanah longsor.
”Hanya satu zona musim, yakni di Karangasem bagian selatan yang diperkirakan puncak musim hujan terjadi pada Februari 2024,” ujar I Nyoman Gede Wiryajaya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
