Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 3 Februari 2020 | 01.07 WIB

Mengenal Wayang Krucil dari Blora yang Menceritakan Hikayat Islam

RELIGIUS: Pertunjukan wayang krucil dilaksanakan setahun sekali pada bulan Syawal. (Rubianto/Jawa Pos Radar Malang) - Image

RELIGIUS: Pertunjukan wayang krucil dilaksanakan setahun sekali pada bulan Syawal. (Rubianto/Jawa Pos Radar Malang)

Gending Jawa mengalun dari pelataran salah seorang warga Dusun Wiloso, Desa Gondowangi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, kemarin. Di antara puluhan warga yang asyik menikmati Gebyak Wayang Krucil, tampak seorang nenek memperhatikan alur cerita pewayangan.

---

DIA adalah Mbah Saniyem, generasi ke-5 pembawa kesenian wayang krucil di tanah Malang. Mbah Yem sudah berusia 96 tahun. Namun, semangatnya melestarikan tradisi wayang krucil tetap muda. Maklum, perempuan yang mempunyai 15 anak itu memiliki ikatan kuat dengan silsilah masuknya wayang krucil di Bumi Arema ini. ”Mak Yem ini generasi kelima dari pemilik pertama wayang krucil, yakni Mbah Cilung,” ujar Draiskartono, salah seorang menantu Saniyem.

Ketika wartawan koran ini mewawancarainya, suara Mbah Yem tidak begitu jelas. Bahkan, sudah empat hari ini dia mengeluhkan sakit demam. Nadanya lirih dan terbata-bata. ”Maklum, sudah tua. Biar saya saja yang menjelaskan jika apa yang disampaikan Mak (Mbah Saniyem) kurang jelas,” timpal Draiskartono yang mendampingi Mbah Saniyem ketika ditemui wartawan koran ini.

Dia lalu menceritakan sejarah silsilah Mbah Saniyem dengan Mbah Cilung yang diduga seniman pertama yang membawa tradisi wayang krucil masuk Malang. Sebelum dibawa ke Malang, wayang krucil merupakan kesenian khas Blora, Jawa Tengah.

Oleh Mbah Cilung, wayang krucil dikenalkan kepada masyarakat Malang Raya. Tentu wayang itu tidak langsung diterima masyarakat. Ada perjuangan sehingga perlahan-lahan warga mulai menerima. Sepeninggal Mbah Cilung, seni wayang krucil diwariskan kepada cucunya yang bernama Mbah Taram. ”Kemudian diwariskan ke cucunya lagi, Mbah Tirum. Lalu, dilanjutkan ke anaknya, Mbah Ngarimun. Mbah Ngarimun ini adalah suaminya Mbah Saniyem,” katanya.

Karena Mbah Ngarimun meninggal pada 2008, akhirnya yang menjaga wayang tersebut adalah Mbah Saniyem. Meski keluarga meyakini Mbah Cilung sebagai seniman pertama yang membawa wayang krucil ke Malang, tidak tertutup kemungkinan ada seniman lain. Namun, sejauh ini tidak diketahui sesepuh pembawa wayang krucil selain Mbah Cilung.

Apa yang membuat Mbah Saniyem rela melestarikan wayang krucil? Draiskartono menyadari, mertuanya itu bukan pencinta wayang. Namun, dia rela melestarikan kesenian wayang krucil karena warisan leluhur.

Mungkin Mbah Saniyem tidak ingin tradisi wayang krucil berakhir di tangannya. Karena itu, dia sangat menjaga wayang krucil. Bahkan, dia memperlakukan 50 unit wayang krucil di rumahnya itu seperti kitab suci.

Ketika fotografer Jawa Pos Radar Malang meminta Mbah Saniyem mengambil satu wayang krucil untuk dipotret misalnya, rupanya nenek tidak langsung mengambil. Dia menciumnya dulu. Demikian juga sebelum meletakkan, dia menciumnya dulu. ”Ini (wayang krucil) tidak ada duplikatnya. Usianya 300–400 tahun,” kata dia.

Menurut Draiskartono, kekhasan wayang krucil tersebut bukan hanya karena kelangkaannya, melainkan juga pergelarannya. Umumnya, wayang kulit digelar semalam suntuk. Namun, pergelaran wayang krucil tersebut justru dilaksanakan saat siang pukul 13.00–16.00.

Pertunjukannya juga dilaksanakan setahun sekali. Yakni, pada bulan Syawal, beberapa hari setelah Hari Raya Idul Fitri. ”Pas sedinten mantun riyoyo lontong (tepat satu hari setelah hari raya ketupat),” katanya.

Pergelarannya pun selalu dilaksanakan di pelataran rumah Mbah Saniyem. Sebab, hanya dia satu-satunya orang yang memiliki wayang tersebut. Ada perbedaan signifikan antara wayang krucil dan wayang kulit. Secara bentuk, wayang krucil tersebut sama-sama tipis. Namun, wayang krucil tidak dibuat dari bahan kulit hewan, tapi kayu pule. Panjangnya pun lebih kecil daripada wayang kulit, yakni hanya 30 sentimeter.

Dalam penampilan ceritanya pun, pergelaran wayang tersebut berbeda dengan wayang kulit. Pergelaran wayang krucil hanya menceritakan tentang hikayat-hikayat Islam. ”Jadi, pergelaran wayang ini selalu menampilkan cerita masuknya Islam di tanah Jawa seperti cerita Panji,” katanya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore