Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 26 Maret 2019 | 21.42 WIB

Imbas Konten LGBT, Rektor Copot Pemimpin Umum dan Pengurus Suara USU

Laman suarasu.co yang sempat tidak bisa diakses usai memuat cerpen soal LGBT. - Image

Laman suarasu.co yang sempat tidak bisa diakses usai memuat cerpen soal LGBT.

JawaPos.com - Yael Stefani Sinaga tak pernah menyangka bahwa cerita pendek (cerpen) berjudul 'Ketika Semua Menolak Kehadiran Diriku di Dekatnya' menjadi tulisan terakhirnya di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM). Jabatannya sebagai Pimpinan Umum Suara USU dicopot. Rektor Universitas Utara juga membubarkan kepengurusan Yael. 


Tak pelak, keputusan itu memantik reaksi para pengurus Suara USU. Menurut mereka, rektorat terlalu otoriter. Pengurus menganggap bila cepen itu merupakan upaya untuk menolak diskriminasi terhadap kaum minoritas. Khususnya Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT).


Mereka dipanggil pihak rektorat Senin kemarin (26/3). Dalam pertemuan itu, para pengurus disidang karena dianggap berbuat salah. 


Pertemuan dipimpin langsung oleh Rektor USU Runtung Sitepu. Selain itu, ada juga ahli bahasa dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) USU, pembina Suara USU, dan jajaran rektorat lainnya. 


"Mereka menanyakan kenapa cerpen itu bisa lolos. Setelah itu kami dimintai pendapat.  Ditanya satu-satu. Tapi selalu dipotong-potong,karena kami bersikukuh cerpen itu adalah sastra. Fiksi juga," tegas Yael saat ditemui, Selasa (26/3). 


Yang menjadi pembahasan penting dalam pertemuan itu adalah redaksi cerpen yang dianggap mengandung unsur pornografi. Tapi pengurus tetap tidak terima. Mereka tetap bilang jika itu karya sastra. 


Sebagai penulis cerpen tersebut, Yael menganggap harusnya pihak kampus membuka diskusi untuk membedah isi cerpen. Bukan malah mengambil keputusan yang terkesan gegabah dengan membubarkan kepengurusan. 


"Rektor cuma mau sepihak aja. Kami pun mau ngasih pendapat, dipotong terus. Ini pengekangan bagi kami dan pembungkaman kebebasan pers," kecamnya. 


Dalam karyanya, mahasiswa Departemen Antropologi Sosial Fisip USU menganggap sama sekali tidak mengampanyekan LGBT atau bahkan mendukungnya. Bahkan cerpen itu bukan merupakan ajakan kepada orang lain agar masuk ke komunitas LGBT.


Yael hanya ingin bercerita soal kondisi sosial diskriminasi terhadap LGBT. Perempuan berkacamata itu hanya berkampanye, supaya angka diskriminasi itu bisa ditekan. 


Sejauh ini kampus hanya membubarkan kepengurusan. Mereka tidak memberikan sanksi akademis bagi para pengurus suara USU


"Tapi kemarin kami ditanya dari fakultas mana dan jurusan apa. Ngak tahu itu ancaman atau intimidasi," ungkapnya.


Suara USU pernah mengunggah tema cerpen serupa pada 2017 lalu. Tapi cerpen itu tak terdeteksi kampus. Cerpen milik Yael lah yang memicu kampus menelusuro karya-karya di laman suarausu.co. 


"Itu yang membuat mereka menganggap kami ini nggak benar lagi. Sebab mempublikasikan seperti itu. Rektor tidak bisa terima pendapat kami," tukas perempuan berambut ikal itu. 


Sampai saat ini Surat Keputusan pembubaran itu belum mereka terima. Namun mereka diberikan waktu dua hari pasca pertemuan untuk mengosongkan sekretariat yang terletak di Pintu 1, Jalan Universitas, USU. 

Editor: Dida Tenola
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore