Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 8 Maret 2019 | 01.10 WIB

Umat Hindu di Pekanbaru Merayakan Nyepi dengan Suka Cita

Umat Hindu melakukan arak-arakan ogoh-ogoh dari Pura Agung Jagatnatha, Pekanbaru, Riau, Rabu (6/3). - Image

Umat Hindu melakukan arak-arakan ogoh-ogoh dari Pura Agung Jagatnatha, Pekanbaru, Riau, Rabu (6/3).

JawaPos.com - Penganut agama Hindu di Pekanbaru, Riau, memang tak sebanyak di Bali. Namun, perayaan Tahun Baru Saka 1941 yang jatuh pada hari ini, Kamis (7/3), di Kota Bertuah ini tetap berjalan khidmat.


Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Riau, I Gusti Gede Nyoman mengatakan, perayaan Nyepi ini berbeda dengan perayaan budaya lainnya. Pelaksanaannya tidak meriah, sebab saat inilah umat Hindu mendekatkan diri kepada Hyang Widhi melalui sembahyang, puasa, dan meditasi.


"Kami menyambut suka cita perayaan Nyepi dengan suka cita. Kami merayakan catur brata penyepian. Sebelumnya juga sudah melakukan beberapa kegiatan sebelum peyepian," kata dia, Kamis (7/3) siang.


Rangkaian kegiatan yang dilakukan di antaranya, Melasti atau Melisa atau mekiis. Ritual ini diartikan sebagai penyucian benda-benda pusaka yang dilakukan di Danau Buatan.


Biasanya kegiatan itu dilakukan di laut. Tapi, karena di Pekanbaru tidak ada laut, maka proses itu dilakukan di danau yang terletak di Kecamatan Rumbai Pesisir.


"Ibaratnya itu kalau seperti agama Islam, yakni adanya mandi Balimau kasai di Kampar. Kita lakukan semacam hal yang sama di agama Hindu," sebutnya.


Kemudian, melakukan arak-arakan ogoh-ogoh. Yaitu sebuah boneka berukuran raksasa yang dibuat dengan kertas dan bambu. Ritual ini dimulai saat matahari terbenam dan nantinya boneka itu akan dibakar pada malam hari.


"Tujuannya untuk pengusiran dan pemusnahan roh-roh jahat," tuturnya.


Selanjutnya, ada ritual catur brata penyepian. Di mana umat Hindu diwajibkan untuk berdiam diri di rumah. Tidak menyalakan api ataupun cahaya. Ini dilakukan selama 24 jam.


"Penyepian ini, yang pertama amati geni, artinya tak menyalakan api, lampu atau alat elektronik. Kemudian amati karya yakni menghentikan kerja atau aktivitas fisik untuk belajar dan refleksi diri atas hidup yang dijalani, dan amati lelanguan, berpantang menghibur diri atau melakukan kesenangan. Terakhir, Amati Lelungaan, dilarang bepergian," sebutnya.


Selain itu, umat Hindu juga wajib melakukan beberapa hal jika mampu. Antara lain, tapa (latihan ketahanan menderita), brata (pengekangan hawa nafsu), yoga (menghubungkan jiwa dengan Tuhan), dan samadi (mendekatkan diri kepada Tuhan yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin).


"Kami di Riau juga merasakan kehidmatan dan suka cita merayakan Hindu, semoga semakin baik," imbuhnya.

Editor: Budi Warsito
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore