
Ketua Himpunan PAUD Indonesia Netty Herawaty mengatakan, ada kecenderungan orangtua memberikan anak minuman yang menyerupai susu apabila mereka tidak sanggup membeli susu
JawaPos.com - Apa yang dapat diberikan kepada anak bila ibu tak punya cukup uang untuk membeli susu? Pertanyaan itu kerap mengemuka di tengah pembicaraan tentang kebutuhan gizi anak. Sudah bukan rahasia lagi bila harga susu terbilang mahal bagi sebagian masyarakat. Sementara susu adalah elemen penting dalam tumbuh kembang anak. Lalu bagaimana bila kondisi ekonomi keluarga tak memungkinkan untuk membeli susu?
Ketua Himpunan PAUD Indonesia Netty Herawaty mengatakan, ada kecenderungan orangtua memberikan anak minuman yang menyerupai susu apabila mereka tidak sanggup membeli susu. Itu disebabkan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang gizi dan nutrisi anak.
“Karena pengetahuan mereka rendah, mereka tidak paham tentang susu dan ditambah lagi ekonomi mereka juga rendah. Nah, susu itu identik dengan putih. Maka pada saat ekonominya lagi nggak ada sementara anak butuh susu, maka dicari solusi yang menurut anak itu putih,” ujar Netty, Senin (18/2).
Salah satu yang ditemukan Netty saat melakukan pengumpulan data di Riau adalah orangtua yang mencampur tepung terigu dengan air dan gula. Campuran terigu tersebut diberikan orangtua kepada anak sebagai pengganti susu karena warnanya yang putih dan identik dengan susu.
“Saya kaget waktu menemukan itu, sampai segitunya lho pemahaman tentang susu. Sampai nggak punya susu, harus cari yang seolah-olah susu buat anak. Bisa jadi, bahwa susu kental manis akan dianggap solusi bagi orang-orang seperti ini. Bahkan kental manis lebih enak juga, sudah dalam bentuk sachet dan rasanya manis,” ungkap Netty.
Persoalan pengetahuan masyarakat akan gizi anak inilah yang menurut Netty harus cepat dituntaskan. Pengetahuan orangtua rendah, ekonomi keluarga juga rendah. Namun mereka menydari satu hal, bahwa anak mereka butuh susu. Hal inilah yang akan menjadi penyebab pemberitaan tentang anak kurang gizi dan stunting masih akan mewarnai isu kesehatan di Indonesia.
Lebih lanjut, Netty meminta agar masyarakat dapat melindungi dirinya sendiri dengan cara mengedukasi para pengambil keputusan. “Bila pengambil keputusan dalam keluarga sudah teredukasi, maka apapun yang ditawarkan (iklan) kepadanya dia tidak akan pakai,” jelas Netty.
Ia tak menampik bahwa masyarakat saat ini masih jarang membaca label produk. Menurutnya akan lebih jitu lagi setelah mengedukasi, pemeirntah membuat aturan yang sifatnya mengamankan.
Kesulitan lainnya yang juga harus dihadapi adalah produsen akan membela diri bahwa produk tersebut diproduksi bukan untuk anak. Namun bila orangtua memberikan untuk anak bukan salah produsen. “Yang terjadi adalah saling lempar,” pungkas Netty.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
