
Ilustrasi Gedung Joang 45
Hotel Schomper itu digunakan khusus untuk para pedagang asing, pejabat tinggi Belanda dan pribumi yang singgah di Batavia. Hotel itulah yang kemudian akan menjadi gedung Menteng 31.
Wildan Ibnu Walid, Jakarta
BANGUNAN bersejarah yang berlokasi di Jalan Menteng No. 31, RT 01/RW 10 Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, menyimpan begitu banyak catatan perjalanan sejarah bangsa. Gedung yang dulu dikenal dengan Gedung Menteng 31 itu menjadi saksi bisu gerakan Pemuda Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Seraya ingin menceritakan lembaran sejarah tiga masa pendudukan, gedung bergaya arsitektur kolonial itu kini menjadi Museum Joang '45 yang bisa dikunjungi bagi generasi muda Indonesia.
Sebelum berkembang menjadi kawasan metropolitan dengan gemerlap warna-warni pemandangan ibu kota, daerah Menteng merupakan hutan belantara yang banyak tumbuh Pohon Menteng. Di daerah itu, berkembang pula pemukiman warga keturunan Arab yang sudah lama menetap di Sunda Kelapa (sekarang Jakarta).
Tak terkecuali tanah yang berdiri bangunan bersejarah Gedung Menteng 31 (Museum Joang '45). Tanah di kawasan tersebut merupakan milik warga keturunan Arab. Sekitar tahun 1930, lokasi tersebut dibeli oleh pemerintah Hindia Belanda, yang kemudian menjadi pemukiman warga keturunan Belanda.
Gedung Menteng 31 Pada Masa Pendudukan Kolonial Belanda
Seiring perkembangan Kota Batavia (sekarang Jakarta), aktivitas perdagangan hasil bumi ke mancanegara semakin meningkat. Melihat geliat pertumbuhan kota semakin meningkat, rupanya seorang pengusaha hotel dan restoran keturunan Belanda, L.C. Schomper pada 1938 membangun hotel.
Untung Supardi, pemandu Museum Joang 45 menceritakan, hotel yang dinamakan Hotel Schomper itu digunakan khusus untuk para pedagang asing, pejabat tinggi Belanda dan pribumi yang singgah di Batavia. Hotel itulah yang kemudian akan menjadi gedung Menteng 31.
Hotel Schomper I merupakan hotel termegah saat itu. Arsitekturnya khas bergaya kolonial kuno. Di bagian depannya, terdapat pilar-pilar marmer yang membatasi serambi depan dan pintu masuk dengan borders marmer.
Di bagian tengah, terdapat ruang tamu sangat luas. Sementara ruang makan ditempatkan di belakang dekat dengan dapur, gudang, dan tiga kamar untuk juru masak.
Di samping kiri dan kanan, bangunan serambi utama membentuk dua sayap dengan 5 kamar di sayap kiri ada 8 kamar besar yang dilengkapi kamar mandi di sayap kanan.
Di era pendudukan Jepang, Hotel Schomper dikuasai oleh pemuda Indonesia. Para pemuda pejuang itu menjadikan hotel tersebut sebagai asrama pendidikan nasionalisme para pemuda Indonesia.
Sejumlah nama tokoh kemerdekaan, seperti Presiden RI Ke-1, Soekarno; Wakil Presiden, Mohammad Hatta; Adam Malik, Chaerul Saleh, Sukarni, dan tokoh kemerdekaan lain terlibat dalam proses pendidikan untuk memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia.
"Di era penjajahan Jepang itulah, nama Hotel Schomper berganti menjadi Gedung Menteng 31," tutur Untung kepada JawaPos.com, Minggu (17/2).
Gedung Menteng 31 Pada Masa Pendudukan Jepang

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
